Oleh : RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng
(8 JUNI 2025: KIS 2:1-11; YOH 14:15-16.23B-26)
Hari ini kita merayakan peristiwa Pentakosta: perayaan Allah Roh Kudus. Kisah Para Rasul dalam bacaan I melukiskan “turunnya Roh Kudus atas para rasul” (Kis 2). Namun sadarkah kita bahwa bukan hanya kepada para rasul saat itu, tetapi juga saat ini Dia sudah turun ke tengah persekutuan Umat Allah dan tinggal seterusnya dalam kehidupan Gereja? Konsili Vatikan II menyebut Gereja sebagai kenisah Roh Kudus (LG 4). Sebaliknya Paus Pius XII menegaskan bahwa Roh Kudus adalah jiwa Gereja (anima ecclesiae). Gereja dan Rohkdus tak dapat dipisahkan, sangat satu, bahkan Gereja baru berada sejauh bersatu dengan Rohkudus. Tanpa Roh Kudus, Gereja adalah “benda mati”.
Sadarkah kita bahwa bukan hanya atas Gereja (secara komunal), tetapi Roh Kudus juga “telah turun” atas diri kita (personal) dan selalu hadir dalam hidup kita masing-masing? Dalam pembaptisan, setiap orang Kristiani telah diurapi oleh Roh Kudus dan dijadikan anak Allah. Dan apa yang telah diurapi oleh Roh Kudus, sesungguhnya dimeterai secara kekal pula. Bukan hanya berarti bahwa hal itu tak akan terhapuskan oleh apa pun dan oleh siapa pun, tetapi juga mengungkapkan keberlangsungan yang tak berkesudahan. Dibaptis oleh Roh Kudus, berarti disertai Roh Kudus seterusnya. Hal ini diungkapkan oleh Yesus dalam injil hari ini demikian, “Penghibur, Rohkudus akan menyertai kamu selama-lamanya” (Yoh 14). Jadi Roh Kudus bukan hanya turun pada hari Pentakosta lalu pulang kembali ke Surga. Roh Kudus juga tidak turun ke bumi, lalu melancong ke planet lain di jagat raya ini. Tidak! Rohkudus telah turun dan terus menyertai pergumulan hidupku seterusnya di dunia yang fana ini. Bukankah kenyataan ini sangat menyentuh: aku tak pernah sendirian dalam hidup ini. Roh Kudus selalu meneguhkanku dalam suka duka hidup ini. Dialah yang “mengajarkan segala sesuatu” yang baik kepadaku (Yoh 14). Dialah yang “mengingatkan”, menyadarkan dan menginspirasi diriku dalam sukacita dan ziarah pengharapan di tengah sejarah ini.

Ada pula salah kaprah yang sering terjadi, yaitu Roh Kudus baru diakui kehadirannya dalam mujijat-mujijat. Bila terjadi peristiwa luar biasa, baru diyakini kehadiran-Nya. Karya Roh hanya dinilai dalam aspek mayestatisnya, keagungan dan kedasyatannya, mungkin hal ini terpengaruh oleh ilustrasi dalam Kisah Para Rasul, Roh Kudus “turun seperti lidah api” dan “tiupan angin keras” (Kis 2). Namun Roh Kudus sesungguhnya juga hadir dalam peristiwa-peristiwa biasa hidupku. Menurut Rasul Paulus, ketika aku berdoa, sesungguhnya Roh Kudus sendiri yang berdoa dalam hatiku “dengan keluhan yang tidak terucapkan” (Rom 8:26). Ketika aku bercanda dalam keluarga, dan bersenda gurau dengan teman, saat itulah Roh Kudus hadir. Ketika aku memanggul beban berat dalam hidup ini, Dialah yang menguatkan diriku. Ketika ada orang yang terjerumus ke dalam penderitaan, Dialah yang menggerakan uluran tangan pertolonganku. Ketika ada perselisihan dalam keluarga dan konflik dalam hidup bersama, Roh Kuduslah yang memberikan semangat pengampunan dan damai. Sebab buah-buah Roh menurut Santu Paulus adalah “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri” (Gal 5:22-23).
Terutama dalam pengalaman “dicintai dan mencintai” dalam kehidupan sehari-hari, itulah momentum paling indah kehadiran Roh Kudus. “Karena kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rom 5:5). Mari merasakan kobaran api kasih Roh Kudus dalam hatimu. Mari mendulang cinta ilahi dalam pahit manis pergumulan dirimu. Mari merenda peradaban kasih Allah dalam ziarah hidup di dunia ini. Roh Kudus itu nyata dalam hidupmu. Gapailah Dia. Kecapilah Dia. Syukur Puji bagi-Nya. Salam Minggu Pentakosta! Happy Pentecost! Frohe Pfingsten! Tuhan memberkatimu…

Comments are closed.