Press "Enter" to skip to content

Bekali Fasilitator, Caritas dan KMKI Keuskupan Ruteng Perkuat Pemulihan Psikososial Anak Pascagempa

KEUSKUPANRUTENG.ORG – Upaya pemulihan pascagempa Flores tidak hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga kondisi psikologis anak-anak dan juga orang tua yang masih menghadapi rasa takut dan trauma. Karena itu, penguatan kapasitas para pendamping anak menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan pemulihan berlangsung secara berkelanjutan.

Hal tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Relawan Tangguh “Hadir bersama Anak, Untuk Aman dan Harapan” yang dilaksanakan pada Jumat, 18 September 2026, bertempat di Aula Efata.

Mr. Charles dari Bentara Kampus Jakarta sebagai pemateri dalam kegiatan pelatihan. (Foto: KOMSOS KR)

Pelatihan ini membekali para peserta dengan pengetahuan dan keterampilan untuk mendampingi anak-anak dalam menghadapi situasi kebencanaan sekaligus membantu proses pemulihan psikososial mereka. Para fasilitator nantinya diharapkan dapat membawa pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan ke lingkungan masing-masing, baik di sekolah, rumah, maupun kelompok Sekami.

Salah satu materi penting yang diberikan adalah pemetaan sederhana mengenai keamanan lingkungan. Melalui kegiatan tersebut, para fasilitator akan membantu anak-anak mengenali kondisi lingkungan di sekitar mereka, seperti rumah, sekolah, maupun tempat kegiatan Sekami, serta memahami langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika terjadi gempa.

Metode pembelajaran sederhana dan kreatif yang diikuti oleh para peserta. (Foto: KOMSOS KR)

Dengan cara tersebut, literasi kebencanaan tidak hanya berhenti pada pengetahuan bagi para pendamping, tetapi dapat diteruskan kepada anak-anak melalui metode yang sederhana, kreatif, dan sesuai dengan dunia mereka.

Peserta pelatihan berasal dari berbagai latar belakang, di antaranya para pendamping Sekami, guru-guru sekolah dasar, serta peserta Muslim dari MIS Amanah Ruteng. Mereka dipersiapkan untuk menjadi fasilitator sekaligus relawan yang dapat melakukan pendampingan di lingkungan masing-masing.

Potret para peserta saat sedang melakukan ice breaking di sela-sela kegiatan. (Foto: KOMSOS KR)

Dalam pelatihan tersebut, peserta dibekali tiga kemampuan utama, yakni mengenali kebencanaan, memahami situasi kebencanaan, dan mengetahui cara menanganinya. Ketiga kemampuan tersebut kemudian dipadukan dengan berbagai aktivitas kreatif psikososial yang dapat digunakan untuk membantu anak-anak memulihkan semangat, rasa aman, dan kepercayaan diri setelah mengalami situasi bencana.

Pelatihan ini juga memberikan ruang bagi para fasilitator untuk memahami bahwa pendampingan anak dalam situasi bencana membutuhkan pendekatan yang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga menyenangkan dan membangun rasa aman. Melalui permainan dan aktivitas kreatif, anak-anak dapat diajak untuk mengenali risiko bencana sekaligus mengekspresikan pengalaman dan perasaan mereka secara positif.

Kegiatan tersebut terselenggara melalui kerja sama Caritas Indonesia, Caritas Keuskupan Ruteng, Karya Misioner Kepausan Indonesia (KMKI), Komisi Anak dan Remaja Keuskupan Ruteng, Bentara Kampus Jakarta, serta Rumah Pintar Pelangi Narwastu.

Kerja sama lintas lembaga tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pendampingan anak-anak di wilayah terdampak gempa. Para fasilitator yang telah mendapatkan pelatihan diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi melanjutkan pengetahuan dan keterampilan tersebut di komunitas masing-masing.

Pemateri dari Bentara Kampus Jakarta dan Rumah Pintar Pelangi Narwastu sedang membagikan metode-metode pendekatan psikososial kepada para peserta. (Foto: KOMSOS KR)

Pendampingan lanjutan juga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Dengan demikian, para fasilitator tidak berjalan sendiri, tetapi tetap mendapatkan dukungan dalam menerapkan materi dan metode psikososial yang telah dipelajari.

RD. Benediktus Gaguk selaku direktur Caritas Keuskupan Ruteng mengatakan bahwa kegiatan ini dinilai strategis mengingat dampak gempa tidak hanya meninggalkan kerusakan pada bangunan dan fasilitas, tetapi juga menyisakan rasa takut dan trauma, baik pada anak-anak maupun orang tua.

RD. Benediktus Gaguk ketika menyampaikan alur kegiatan Pelatihan Relawan Tangguh “Hadir bersama Anak, Untuk Aman dan Harapan”, kepada para peserta. (Foto: KOMSOS KR)

“Karena itu, pemulihan pascabencana perlu dilakukan secara menyeluruh. Pembangunan kembali rumah dan fasilitas yang rusak perlu berjalan beriringan dengan upaya memulihkan kondisi mental dan psikologis masyarakat, terutama anak-anak. Melalui pelatihan fasilitator ini, para peserta diharapkan mampu menjadi bagian dari proses pemulihan tersebut dengan menghadirkan pendampingan yang berkelanjutan, aman, kreatif, dan ramah anak,” lanjutnya.

Pemulihan pascagempa pada akhirnya bukan hanya tentang membangun kembali apa yang telah rusak, tetapi juga membantu anak-anak dan keluarga menemukan kembali rasa aman, semangat, serta kemampuan untuk melanjutkan kehidupan setelah bencana.

Comments are closed.