Press "Enter" to skip to content

dr. Ariantana, Sp.A.: Gempa Meruntuhkan Bangunan, tetapi Iman dan Harapan Masyarakat Flores Tetap Teguh

KEUSKUPANRUTENG.ORG — Dokter dari Caritas Indonesia (Karina), dr. Ariantana, Sp.A., bersama tim medis Caritas Indonesia dan Caritas Keuskupan Ruteng berkeliling dari desa ke desa terpencil di wilayah Keuskupan Ruteng untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada para penyintas gempa bumi.

Dalam kunjungannya, dr. Ariantana tidak hanya menemukan berbagai persoalan kesehatan, tetapi juga menyaksikan keteguhan warga dalam menghadapi situasi pascabencana. Ketika diwawancarai oleh tim Komsos, ia mengaku terharu melihat para penyintas tetap mampu tersenyum dan tetap semangat meskipun berada dalam situasi sulit setelah gempa.

dr. Ariantana, Sp.A. ketika sedang melakukan pelayanan kesehatan bersama tim medis dari Karina dan Caritas Keuskupan Ruteng. (Foto: KOMSOS KR)

“Gempa memang bisa meruntuhkan gedung dan bangunan, tetapi saya melihat bahwa iman dan harapan mereka tetap teguh,” ungkap dr. Ariantana.

Menurutnya, semangat masyarakat tersebut juga perlu terus dirawat melalui solidaritas dan kepedulian bersama. Kehadiran tim relawan, selain memberikan pelayanan kesehatan,juga  menjadi bentuk dukungan bagi warga yang sedang melewati masa pemulihan.

“Solidaritas kemanusiaan dari tim relawan juga akan membantu mereka untuk merawat harapan itu,” lanjutnya.

Menemukan Persoalan Kesehatan Anak

Selama melakukan pelayanan, tim medis menemukan sejumlah keluhan kesehatan pada warga dewasa, terutama myalgia atau kelelahan. Sementara pada anak-anak, tim medis menemukan berbagai persoalan kesehatan namun ada satu persoalan yang tidak berkaitan langsung dengan gempa.

Salah satu persoalan yang mendapat perhatian adalah stunting, yang ditemukan pada anak-anak berkaitan dengan kondisi gizi yang sangat kurang.

dr. Ariantana, Sp.A. memeriksa anak-anak penyintas gempa di desa-desa terdampak yang ada di wilayah Keuskupan Ruteng. (Foto: KOMSOS KR)

“Saya melihat banyak kasus stunting di sini karena gizi yang sangat buruk atau sangat kurang. Kasus ini harus menjadi fokus perhatian semua pihak, baik dari mimbar maupun pemerintah supaya masalah ini bisa diselesaikan,” jelasnya.

dr. Ariantana menegaskan bahwa persoalan stunting tidak ditangani oleh dokter atau tenaga kesehatan semata. Penanganannya membutuhkan kerja sama lintas sektor, mulai dari pemenuhan gizi, sanitasi lingkungan, hingga pelayanan kesehatan bagi ibu hamil.

“Stunting itu cuma ujung saja. Perlu sanitasi lingkungan yang cukup, perlu upaya penataan rantai pelayanan ibu hamil yang baik sehingga mendapatkan nutrisi yang cukup sampai seribu hari pertama kehidupannya untuk menghasilkan janin atau bayi yang juga cukup sehat,” katanya.

Flores Tetap Bangkit

Di tengah situasi pascagempa, dr. Ariantana menyampaikan harapannya agar masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya Flores, tetap kuat dan segera pulih. Ia melihat iman masyarakat dan devosi kepada Bunda Maria sebagai kekuatan yang terus menyertai mereka dalam menghadapi masa sulit.

Potret kebersamaan tim medis Karina dengan tim Caritas Keuskupan Ruteng setelah melakukan pelayanan kesehatan di wilayah Keuskupan Ruteng. (Foto: KOMSOS KR)

“NTT khususnya Flores pasti bisa bangkit. Saya kira karena iman mereka cukup kuat, devosi mereka kepada Bunda Maria juga cukup kuat, sehingga saya yakin bahwa Flores akan baik-baik saja dan akan kembali pulih dengan cepat,” tuturnya.

Pelayanan kesehatan oleh tim medis dari Karina menjadi bagian dari upaya pendampingan bagi masyarakat terdampak gempa. Bagi masyarakat yang sedang melewati masa pemulihan, pelayanan kesehatan dan solidaritas kemanusiaan menjadi bagian penting dari proses tersebut. Di tengah bangunan yang runtuh dan kehidupan yang harus ditata kembali, senyum serta semangat warga menjadi tanda bahwa perjalanan untuk bangkit terus berlangsung.

Comments are closed.