Komisi Kesehatan Keuskupan Ruteng bersama dokter-dokter dari Karitas Indonesia, suster-suster Kongregasi Puteri Kasih, tim kesehatan dari Unika St. Paulus Ruteng, dan tim relawan turun ke wilayah Kevikepan Reo terdampak bencana gempa bumi.
KEUSKUPANRUTENG.ORG — Di tengah situasi darurat pascagempa bumi yang melanda sejumlah wilayah di Keuskupan Ruteng, Gereja terus bergerak mendekati masyarakat terdampak. Bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga menghadirkan pelayanan kesehatan dan pendampingan bagi mereka yang sedang berjuang memulihkan diri dari dampak bencana.
Komisi Kesehatan Keuskupan Ruteng, bersama tim kesehatan dari Karitas Indonesia (Karina) dan didukung tim kesehatan dari Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, pelayanan kesehatan dan pendampingan psikososial terus dilakukan di berbagai titik pengungsian.

Tim Komisi Kesehatan Keuskupan Ruteng bersama dokter-dokter dari Karitas Indonesia, suster-suster Kongregasi Puteri Kasih, tim kesehatan Unika St. Paulus Ruteng, dan tim relawan sebelum menuju ke titik-titik pengungsian. (Foto: KOMSOS KR)
Tim kesehatan Karina yang terlibat dalam pelayanan ini terdiri dari empat orang dokter yang dipimpin oleh dr. Juanli RFP, AWP, serta tiga suster dari Kongregasi Puteri Kasih. Para suster secara khusus memberikan pendampingan psikososial kepada anak-anak, para ibu, dan masyarakat terdampak yang membutuhkan dukungan setelah mengalami situasi traumatis akibat gempa bumi.
Pelayanan tersebut diperkuat dengan keterlibatan tim kesehatan dari Unika Santu Paulus Ruteng. Para tenaga kesehatan membantu para dokter dalam melakukan pemeriksaan dan pengobatan pasien.
Hari Pertama, 115 Pasien Dilayani di Robek

dr. Juanli dari Karitas Indonesia sedang mengobati pasien di posko yang ada di Robek. (Foto: KOMSOS KR)
Langkah pelayanan dimulai pada Selasa, 18 Agustus 2026. Tim kesehatan bergerak menuju lokasi-lokasi pengungsian dan menjadikan Paroki Robek sebagai titik pertama pelayanan.
Dalam pelayanan di Paroki Robek, sebanyak 115 pasien berhasil diperiksa dan mendapatkan penanganan dari tim kesehatan.

Salah satu dokter dari Karitas Indonesia yang membantu memeriksa pasien di Robek. (Foto: KOMSOS KR)
Kehadiran para dokter, tenaga kesehatan, suster, dan relawan tidak hanya memberikan pertolongan medis. Di tengah situasi yang masih penuh ketidakpastian, kehadiran mereka menjadi tanda bahwa masyarakat terdampak tidak berjalan sendirian menghadapi masa sulit ini.
Membagi Tim untuk Menjangkau Lebih Banyak Masyarakat terdampak

Tim kesehatan menjangkau daerah Nggorang untuk melakukan pemeriksaan pasien. (Foto: KOMSOS KR)
Pelayanan berlanjut pada Rabu, 19 Agustus 2026. Pada hari kedua, tim kesehatan memperluas jangkauan dengan bergerak menuju tiga titik pengungsian.
Agar pelayanan dapat dilakukan secara lebih efektif dan menjangkau masyarakat yang lebih luas, tim dibagi menjadi tiga kelompok, yakni Tim A, Tim B, dan Tim C.
Tim A bergerak menuju wilayah bagian barat, sedangkan Tim B melayani masyarakat di wilayah bagian timur. Sementara itu, Tim C yang secara khusus menangani pelayanan psikososial bergerak menuju wilayah Nggorang, Reo, dan sekitarnya.

Trauma healing yang diberikan kepada anak-anak di kemah pengungsian oleh para suster dan relawan psikososial. (Foto: KOMSOS KR)
Pembagian tugas tersebut memungkinkan pelayanan dilakukan secara lebih luas, baik untuk memenuhi kebutuhan kesehatan fisik maupun memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis masyarakat yang terdampak.
Bagi mereka yang baru saja mengalami peristiwa gempa, pemulihan tidak hanya berkaitan dengan kondisi tubuh. Rasa takut, cemas, dan pengalaman traumatis juga membutuhkan perhatian. Karena itu, anak-anak, para ibu, dan masyarakat diberikan ruang untuk bercerita, didengarkan, serta didampingi agar secara perlahan dapat kembali menemukan rasa aman dan kekuatan dalam diri mereka.
Menembus Lelah, Menjangkau Gincu, Paralando, dan Ojang

Tim kesehatan tidak hanya mengobati masyarakat korban gempa, tetapi juga mengedukasi anak-anak dan warga setempat tentang cara melindungi diri saat gempa di desa Ojang kampung Robek. (Foto: KOMSOS KR)
Pada Kamis, 20 Agustus 2026, pelayanan kembali dilanjutkan. Bersama dr. Juanli dari Karitas Indonesia, tim kesehatan bergerak menuju tiga titik pelayanan, yakni Gincu, Paralando, dan Ojang. Di masing-masing lokasi tersebut, lebih dari 200 pasien mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan. Pelayanan berlangsung dari pagi hingga sore hari.
Dalam situasi darurat seperti ini, pekerjaan para tenaga kesehatan tidak selalu mudah. Selain harus menghadapi kelelahan fisik dan mental, mereka juga harus bekerja di tengah kondisi pengungsian yang masih diliputi kekhawatiran akibat guncangan gempa susulan yang masih dirasakan.

RD. Pepy Bora, Ketua Komisi Kesehatan Keuskupan Ruteng turun ke desa Paralando bersama tim kesehatan untuk membantu masyarakat korban gempa. (Foto: KOMSOS KR)
Namun, keadaan tersebut tidak membuat langkah pelayanan terhenti. Dari pagi hingga sore, para dokter dan tenaga kesehatan, suster, dan relawan terus berpindah dari satu pasien ke pasien lain dan dari satu posko ke posko lainnya. Mereka memberikan waktu, tenaga, perhatian, dan kepedulian kepada masyarakat yang membutuhkan.
Hampir 1.000 Pasien Telah Dilayani

Tim kesehatan yang selalu semangat melayani pasien dari pagi hingga sore hari. (Foto: KOMSOS KR)
Selama tiga hari pelayanan dalam situasi darurat tersebut, tim kesehatan telah melayani hampir 1.000 pasien di berbagai titik terdampak gempa di wilayah Keuskupan Ruteng, khususnya wilayah Kevikepan Reo. Angka tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan di wilayah terdampak. Karena itu, tim kesehatan masih terus melakukan asesmen terhadap kebutuhan di lapangan, termasuk memantau ketersediaan obat-obatan yang mulai menipis.
Untuk memastikan pelayanan kesehatan dapat terus berjalan, stok obat-obatan yang dibutuhkan akan kembali dikirim dari Ruteng. Dengan demikian, masyarakat tetap dapat memperoleh pengobatan sesuai kebutuhan mereka.
Pelayanan ini pun tidak berhenti pada tiga hari pertama. Tim kesehatan masih akan terus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat terdampak, dengan menyesuaikan kebutuhan serta perkembangan situasi di lapangan.
Di balik setiap pemeriksaan, obat yang diberikan, dan setiap percakapan dengan masyarakat, terdapat semangat yang sama: menemani mereka melewati masa sulit dan membantu menumbuhkan kembali harapan.
“Ketika tubuh terluka, Gereja hadir untuk merawat. Ketika hati terluka, Gereja hadir untuk mendengarkan. Dan ketika harapan mulai redup, Gereja hadir untuk berjalan bersama, hingga harapan itu kembali menyala.”

Comments are closed.