Press "Enter" to skip to content

Gereja Peduli dengan Korban Gempa

Uskup Ruteng Kunjungi Para Pengungsi di Kevikepan Reo

KEUSKUPANRUTENG.ORG-Di tengah situasi pascagempa yang mengguncang Pulau Flores, Gereja Keuskupan Ruteng menunjukkan kepedulian dan kehadirannya bersama masyarakat yang terdampak. Pada Senin, 17 Agustus 2026, Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat, Vikjen Keuskupan Ruteng, RP. Sebastianus Hobahana, SVD, bersama relawan jaringan Caritas Indonesia dan Keuskupan Ruteng mengunjungi sejumlah lokasi pengungsian dan posko tanggap bencana di wilayah Kevikepan Reo.

Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk perhatian pastoral sekaligus ungkapan solidaritas Gereja kepada masyarakat yang sedang menghadapi dampak gempa. Beberapa lokasi yang dikunjungi antara lain Posko Barangkolong, Jengkalang, dan Posko Damer, Paroki Dampek, wilayah Kevikepan Reo.

This image has an empty alt attribute; its file name is WhatsApp-Image-2026-08-18-at-00.53.43-1024x682.jpeg

Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat bertemu dengan anak-anak korban bencana yang ada di Posko utama Barangkolong Paroki Santa Maria Ratu Rosari Reo. (Foto: KOMSOS KR)

Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, diketahui berpusat di wilayah Nagekeo dan guncangannya yang begitu keras dirasakan hingga berbagai wilayah di Pulau Flores dan sekitarnya.

Dalam kunjungannya, Uskup Ruteng tidak hanya melihat kondisi posko dan tenda-tenda pengungsian, tetapi juga menyempatkan diri menyapa warga secara langsung. Uskup berdialog dengan para korban, mendengarkan pengalaman dan kebutuhan mereka, serta melihat dari dekat kondisi pelayanan tanggap bencana yang sedang berlangsung.

Uskup Ruteng, Vikjen Keuskupan Ruteng, bersama relawan jaringan Caritas Indonesia dan Keuskupan Ruteng mengunjungi Posko Jengkalang. (Foto: KOMSOS KR)

Kehadiran Uskup bersama para relawan menjadi bentuk dukungan moral bagi masyarakat yang tengah menghadapi situasi sulit. Bagi para pengungsi, perhatian dan sapaan langsung seperti ini menjadi penguatan bahwa mereka tidak menghadapi situasi ini sendirian.

Distribusi bantuan sembako dan air minum untuk korban gempa di posko-posko yang ada di wilayah Kevikepan Reo. (Foto: KOMSOS KR)

Kunjungan tersebut juga memperlihatkan bahwa pelayanan Gereja tidak berhenti pada perayaan liturgi, tetapi hadir secara nyata dalam kehidupan masyarakat, terutama ketika mereka berhadapan dengan situasi darurat dan penderitaan.

Dalam situasi bencana, kebutuhan masyarakat bukan hanya berkaitan dengan bantuan material, tetapi juga pendampingan, perhatian, rasa aman, dan penguatan. Karena itu, kehadiran Gereja bersama masyarakat menjadi bagian penting dari upaya membantu para korban melewati masa-masa sulit menuju proses pemulihan.

Uskup Ruteng, Vikjen Keuskupan Ruteng bersama relawan jaringan Caritas Indonesia dan Keuskupan Ruteng mengunjungi Posko Damer, Paroki St. Petrus dan Paulus Dampek. (Foto: KOMSOS KR)

Di tengah suasana duka dan kecemasan pascagempa, kehadiran Gereja menjadi tanda pengharapan, yang terlibat dalam suka duka, harapan dan kecemasan masyarakat (GS 1). Sejalan dengan itu masyarakat diajak untuk terus saling menguatkan, memperhatikan mereka yang membutuhkan, dan bersama-sama membangun kembali kehidupan setelah bencana. Persis sesuai spirit Sinode IV Keuskupan Ruteng tahun 2026 yang sedang berziarah bersama dalam pengharapan, begitupun Gereja hadir di tengah dunia untuk bergandengan tangan berjalan bersama dengan semua orang dalam semangat kasih persaudaraan. “Omnia In Caritate!” “Lakukanlah segala pekerjaanmu dengan kasih!” (1 Kor. 16:14).

Comments are closed.