Press "Enter" to skip to content

Manajemen dan Pelayan Pastoral Jadi Fokus Sinode IV Sesi IV Keuskupan Ruteng

Foto: Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat saat memimpin perayaan Ekaristi pembukaan Sinode IV Sesi IV Keuskupan Ruteng di Kapel Rumah Retret Maria Bunda Karmel, Wae Lengkas, Ruteng, Selasa siang, 4 Agustus 2026. (Foto: KOMSOS)

KEUSKUPANRUTENG.ORGSidang Sinode IV keuskupan Ruteng resmi memasuki Sesi IV diselenggarakan di Rumah Retret Maria Bunda Karmel, Wae Lengkas, Ruteng. Kegiatan yang berlangsung selama 4 hari penuh, yakni Selasa, 4 – Jumat, 7 Agustus 2026 dibuka dengan rekoleksi oleh RD Patris Suryadi dan perayaan Ekaristi dipimpin Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat di Kapela Rumah Retret.

Misa dimeriahkan oleh koor yang mengumandangkan lagu-lagu inkulturasi serta kelompok penari para siswa Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) Santu Stefanus Ketang. Pada misa ini, Mgr. Siprianus didampingi konselebran, yakni para imam anggota Kuria Keuskupan Ruteng.

Kegitan ini dihadiri ratusan peserta, seperti Pastor Paroki, Vikaris Parokial, dan DPP-DKP dari 60 paroki, pimpinan lembaga dan yayasan, kongregasi, unsur pemerintah daerah, dan utusan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Manggarai.

RD Patrisius Suryadi saat memberikan Rekoleksi Pembukaan Sidang Sinode IV Sesi IV Keuskupan Ruteng di Rumah Retret Wae Lengkas, Ruteng, Selasa pagi, 4 Agustus 2026. (Foto: KOMSOS)

Sinode IV Sesi IV merupakan kelanjutan (pamungkas) dari sesi-sesi sidang (sinodal) sebelumnya yang membahas bidang pastoral Gereja, yakni pewartaan, pengudusan, pelayanan, dan persekutuan (teritorial dan kategorial). Sinode menjadi momentum syukur “berjalan bersama” dan telah sukses melewati 10 tahun implementasi Sinode III.

Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat, anggota Dewan Kuria, pastor paroki, vikaris parokial, DPP-DKP dari 60 paroki, serta para religius saat mengikuti rekoleksi pembukaan Sinode IV Sesi IV yang dibawakan oleh RD Patris Suryadi di Kapel Rumah Retret Wae Lengkas. (Foto: KOMSOS)

Tertib, Transparan, dan Akuntabel

Dalam homilinya, Mgr. Siprianus menuturkan, tata kelola masuk ke dalam agenda sinode, dan bukan sekadar ke dalam agenda kantor paroki dan keuskupan. Transparansi bukan beban formalitas yang dipaksakan zaman kepada Gereja. Transparansi adalah saluran yang tidak bocor — cara agar kasih Kristus sampai kepada umat secara adil, jujur, tepat sasaran, dan bermartabat, bukan berhenti di tengah jalan.

Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat saat menyampaikan homilinya dalam Misa Pembukaan Sinode IV Sesi IV Keuskupan Ruteng di Rumah Retret Wae Lengkas, Selasa siang, 4 Agustus 2026. (Foto: KOMSOS)

“Segala yang kita rumuskan di Wae Lengkas hanya punya satu tujuan akhir, dan tujuan itu bukan kerapian, melainkan salus animarum, keselamatan jiwa-jiwa,” ujar Mgr. Siprianus.

Ditambahkannya, kepemimpinan Kristiani bertumbuh dari kerendahan hati untuk terus belajar, dari kedekatan dengan umat, dari kejernihan mengambil keputusan, dan dari keberanian untuk hidup terbuka serta bersedia dikoreksi — termasuk oleh orang yang lebih muda dari kita.

Kelompok penari dan koor dari SMAK Santu Stefanus Ketang saat tampil memeriahkan Misa Pembukaan Sinode IV Sesi IV yang dipimpin Uskup Ruteng di Kapel Rumah Retret Wae Lengkas, Ruteng, Selasa siang, 4 Agusus 2026. (Foto: KOMSOS)

“Sesi IV ini akan menghasilkan rumusan dan aturan. Tetapi ukuran keberhasilannya bukan tebalnya dokumen yang kita bawa pulang. Ukurannya adalah apakah seorang ibu di stasi terjauh, yang memberi dari hasil kebunnya, sungguh dapat mempercayakan uang, anak, dan jiwanya kepada Gereja ini. Jangan berhenti pada pembasuhan tangan. Masuklah ke dalam pembasuhan hati,” kata Mgr. Siprianus.

Pemandangan di dalam Aula St. Yohanes Salib Rumah Retret Wae Lengkas ketika para peserta sedang mengikuti kegiatan hari pertama Sinode IV Sesi IV dengan input Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat dan pendalaman tema, arah, metode, dan proses oleh Direktur PUSPAS RD Dr. Martin Chen. (Foto: KOMSOS)

Sidang Sinode IV Sesi IV, lanjut Mgr. Siprianus, untuk memperbaiki saluran sekaligus sumbernya — tata kelola yang jujur dan pelayan yang layak dipercaya. Dari situlah Gereja Keuskupan Ruteng dapat terus berjalan bersama: Beriman, Bersaudara, dan Misioner — menjadi rumah rahmat yang hangat, jujur, tertib, dan sungguh dapat dipercaya oleh seluruh umat. [Tim Redaksi]

Comments are closed.