Press "Enter" to skip to content

Mgr. Siprianus: Diakonia Dipanggil Bergerak Menuju Pemberdayaan dan Transformasi

KEUSKUPANRUTENG.ORGJika iman sungguh diwartakan, jika liturgi sungguh dirayakan, dan jika persekutuan sungguh dibangun, lalu ke mana semuanya bermuara? Jawabannya adalah pelayanan, diakonia. Sebab iman yang sejati tidak berhenti pada pengakuan iman. Ia bergerak menjadi kepedulian. Liturgi yang sejati tidak berhenti di altar. Ia mengalir ke dalam kehidupan. Persekutuan yang sejati tidak berhenti pada kelompoknya sendiri. Ia membuka ruang bagi sesama. Karena itu, diakonia bukan sekadar salah satu bidang pastoral Gereja. Diakonia adalah buah dari seluruh kehidupan Gereja. Di sanalah pewartaan menemukan buktinya. Di sanalah liturgi menunjukkan daya ubahnya. Di sanalah persekutuan memperlihatkan wajahnya yang paling nyata.

Pesan menarik ini disampaikan oleh Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat dihadapan ratusan peserta yang mengikuti Sidang Sinode IV Sesi III berfokus pada Diakonia Gereja, di Aula Rumah Retret Wae Lengkas, Rauteng, Senin malam, 1 Juni 2026. Sidang akan berlangsung Senin, 1 – Jumat, 5 Juni 2026. Menurut Mgr. Siprianus, Kerangka Acuan Kerja Sesi III mengingatkan kita bahwa Gereja dipanggil menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia melalui pelayanan yang konkret. Gereja tidak hidup untuk dirinya sendiri.

“Gereja hadir untuk melayani, membela martabat manusia, dan menjaga ciptaan. Karena itu, pelayanan kasih Gereja tidak boleh berhenti pada tindakan karitatif yang sesaat. Diakonia dipanggil bergerak menuju pemberdayaan dan transformasi. Gereja tidak hanya membantu orang bertahan menghadapi kesulitan hidup. Gereja juga membantu menciptakan keadaan yang memungkinkan manusia berkembang, bertumbuh, dan memiliki masa depan yang lebih baik,” ujar Mgr. Siprianus.

Suasana saat acara pembukaan Sidang Sinode IV Sesi III yang digelar di Aula Santu Yohanes Salib di Rumah Retret Maria Bunda Karmel, Wae Lengkas, Ruteng, Senin malam, 1 Juni 2026. Utusan dari 61 paroki sekeuskupan Ruteng dan perwakilan kongregasi serta kelompo kategorial hadir dalam acara ini. (Foto: KOMSOS KR)

Karena itu, Mgr. Siprianus menuturkan, dalam Sesi III ini, semua peserta diajak membawa semangat yang sama seperti pada Sesi II, yakni mendengarkan dengan hati yang terbuka sebelum merumuskan langkah pastoral. “Dalam bidang diakonia, sikap ini menjadi sangat penting. Kita diajak untuk semakin dekat dengan kehidupan nyata umat. Dekat dengan keluarga yang sedang berjuang. Dekat dengan kaum muda yang mencari arah. Dekat dengan para migran dan keluarga yang ditinggalkan. Dekat dengan masyarakat yang menggantungkan hidup pada tanah, air, hutan, dan seluruh alam ciptaan.”

Diakonia, lanjut Mgr. Siprianus, tidak hanya berbicara tentang pelayanan kepada sesama. Diakonia juga menjadi kesempatan untuk memulihkan budaya memberi, budaya berbagi, dan budaya belarasa yang semakin dibutuhkan dalam kehidupan bersama. Pelayanan Kristiani selalu lahir dari hati yang mau mendekat, mendengar, dan terlibat. Sebab hanya dengan kedekatan seperti itulah Gereja dapat memahami apa yang sungguh dialami dan diharapkan umat.

“Program yang baik tidak pertama-tama lahir dari apa yang ingin kita kerjakan, tetapi dari kenyataan hidup yang dihadapi umat setiap hari. Dan sering kali Allah berbicara melalui pengalaman sederhana mereka yang setia bertahan, bekerja, merawat keluarga, menjaga tanah, dan menyimpan harapan,” ujarnya.

Uskup menggarisbawahi agar dalam Sidang Sinode IV Sesi III ini, perlu membangun kejernihan membaca kenyataan, kesediaan untuk berjalan dekat dengan umat, dan keberanian menempatkan manusia sebagai pusat perhatian pastoral kita. “Rekomendasi yang kita rumuskan hendaknya lebih terarah, lebih realistis, dan lebih dapat dijalankan. Kita tidak perlu tergoda menyusun terlalu banyak program. Yang kita butuhkan ialah beberapa prioritas yang sungguh menjawab kebutuhan umat, jelas pelaksananya, realistis waktunya, terukur hasilnya, dan dapat dievaluasi bersama,” tuturnya.

Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat saat sedang menyampaikan input dalam pembukaan Sidang Sinode IV Sesi III di Aula Rumah Retret di Wae Langkas, Ruteng, Senin, 1 Juni 2026. (Foto: KOMSOS KR)

Diakonia, kata Mgr. Siprianus, perlu dibaca dalam dua gerak sekaligus. Gerak pertama ialah karitatif. Gereja hadir cepat ketika ada orang miskin, sakit, menderita, tersingkir, dan rentan yang membutuhkan pertolongan. Di sana kasih Kristus harus terasa dekat, hangat, dan segera. Gerak kedua ialah transformatif. Gereja membantu membangun daya tahan keluarga, kemandirian ekonomi, pendidikan yang membentuk karakter, kesadaran sosial-politik yang bermartabat, budaya yang memanusiakan, pariwisata yang bertanggung jawab, perlindungan migran, relasi laki-laki dan perempuan yang setara, kesehatan yang utuh, serta pertobatan ekologis. Dengan cara ini, kasih Gereja tidak berhenti pada pertolongan sesaat. Kasih Gereja ikut membangun ekosistem yang memungkinkan manusia bertumbuh.

Ditambahkan Mgr. Siprianus, Sinode IV Sesi III berbicara tentang keluarga, pendidikan, kesehatan, migrasi, budaya, politik, pariwisata, kesetaraan pria dan wanita, serta ekologi, dan sesungguhnya sedang berbicara tentang satu tujuan yang sama, yakni membantu manusia bertumbuh secara utuh dan bermartabat sebagai citra Allah. (Tim Redaksi | Foto: Rafi Jeramat)

Comments are closed.