Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng
(Minggu, 17 Mei 26: 1 Petr 4:13-16; Yoh 17:1-11a).
Kadang kita merasa letih dalam hidup ini setelah melewati rangkaian peristiwa berat yang mesti dipikul. Tak jarang kita juga merasa “capek” dengan hidup ini bukan karena masalah berat tapi karena hal sehari-hari dan rutin yang terus menerus dilakoni dan terasa membosankan, lalu meninggalkan kekosongan dalam diri. Kehampaan itu terasa semakin dalam menusuk kalbu, tatkala kita terbentur dengan kenyataan fananya (sementaranya) hidup ini. Apakah hidup ini pada akhirnya harus berakhir dalam kesia-siaan? Lalu manakah makna hidup ini saat ia harus berhadapan dengan kefanaannya?
Dalam situasi demikian, pesan Yesus dalam injil hari ini sangatlah menghibur dan menerbitkan fajar pengharapan. Dia berbicara tentang kemuliaan yang akan dinyatakan oleh Bapa-Nya kepada semua yang setia kepada-Nya dalam segala situasi hidup. Kemuliaan itu adalah hidup kekal.
Namun hal yang menarik bahwa menurut Yesus hidup kekal itu bukan dimengerti pertama-tama sebagai hidup di masa depan. Hidup kekal itu bukan soal waktu tapi soal RELASI dengan Yesus: “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh 17). Mengenal Yesus berarti berada dalam relasi (kesatuan) dengan-Nya. Itu berarti hidup kekal boleh dan sejatinya telah dimulai di tengah dunia yang fana ini, manakala kehidupan sehari-hari ini dilakoni bersama Yesus. Orang yang berjalan bersama Yesus, akan memiliki perspektif masa depan, juga ketika hidupnya sering terasa hambar dan membosankan. Orang yang mengandalkan Yesus, akan memperoleh kekuatan, juga ketika dia mesti bergumul dengan kerasnya perjuangan dan fananya hidup ini.

Maka dari itu hidup kekal atau bersatu dengan Yesus berciri utuh (holistik). Orang tidak hanya mengambil bagian dalam sisi terang tetapi juga sisi gelap hidup Yesus, tidak hanya dalam kemuliaan tapi juga dalam penderitaan-Nya. Orang tak bisa merasakan kemuliaan paskah Yesus tanpa bersama-Nya memikul salib penderitaan dan perjuangan. Surat 1 Petrus dalam bacaan kedua melukiskan dengan indah, ” bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.”
Bukankah sabda ini sungguh menohok diriku yang sehari-hari biasanya ingin hidup enak dan nyaman-nyaman saja, tanpa perjuangan? Bukankah pesan ini menggugat diriku yang hanya “doyan” dengan hal-hal manis dalam hidup ini, sebaliknya meludah keluar yang pahit?
Hidup kekal berarti menenun relasi cinta dengan Tuhan dalam segala situasi hidup, tidak hanya yang indah, juga yang menyakitkan, tidak hanya dalam suka, tapi juga dalam duka, tidak semata dalam keberhasilan tapi juga dalam kegagalan.
Maka dari itu, hidup kekal bukan berada di jauh sana. Ia ada di sini, sekarang ini, bersamamu. Hidup kekal juga bukan sesuatu, tetapi seseorang. Dia itulah Yesus. Mari rasakanlah kehadiran-Nya. Kecuplah cinta-Nya. Dan jangan pernah lagi berpaling. Selamat berhari minggu. Tuhan memberkatimu…

Comments are closed.