Press "Enter" to skip to content

Inspirasi Minggu Paskah VI/A: MENGECAP KASIH SETIA-NYA YANG ABADI

Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng

(Minggu, 10 Mei 26, Yoh 14:15-21)

Perpisahan selalu menyedihkan, karena kita kehilangan orang yang selalu bersama kita selama ini, orang yang peduli dan terlibat dalam suka duka hidup ini. Bahkan perpisahan itu terasa sangat menyakitkan, karena meninggalkan luka luka memori indah yang hanya dapat disembuhkan oleh kebersamaan. Sayangnya justru kebersamaan indah itulah yang kini dicabik oleh perpisahan. Mungkin karena pedihnya perpisahan itu sehingga penyanyi Dian Piesesha bersenandung sendu, “bukan perpisahan yang kutangisi tapi perjumpaanlah yang kusesali”.

Kira kira situasi perpisahan inilah yg dialami para murid Yesus pada malam perjamuan akhir, jelang kepergian-Nya dari antara mereka. Mereka sedih karena merasa kehilangan orang yang dicintai. Lebih dari itu pegangan hidup mereka yaitu Yesus juga dicabut dari tengah tengah mereka. Mereka merasa ditinggal pergi seolah seperti anak yatim piatu…

Dalam situasi pilu inilah, Yesus meneguhkan para murid dalam injil: Kalian tak pernah Kutinggalkan, kamu tak akan pernah sendiri. Aku akan mengutus seorang penghibur yang menyertai kamu “selama lamanya”. Janji penyertaan Yesus tidak sesaat, tidak temporer, tidak terbatas, tetapi sepanjang segala masa. Parakletos (Penghibur) adalah Dia yang selalu siap untuk dipanggil dan selalu datang membantu. Dia datang memberi terang kepada yang gelap, memberi uluran tangan kepada yang terkulai, menuntun di jalan yang licin. Dialah pegangan para murid. Dia dapat diandalkan, dipercaya, bukan tipuan yang mencelakan. Karena itu Dia disebut Roh Kebenaran oleh Yesus.

Kenapa dunia tak dapat menerima Roh Kebenaran ini? Karena cara hidup duniawi penuh dengan manipulasi, dan tipu muslihat. Hidup dunia terutama di era digital dewasa ini penuh dengan pencitraan dan kepalsuan, syarat dengan aneka kebohongan (hoaks) yang tak selaras dengan Roh Kebenaran. Sebaliknya Roh Kebenaran itu akan datang dan tinggal bersama para murid Yesus selamanya. Mereka boleh bersandar kepada-Nya. Roh Penghibur atau Roh Kudus inilah yang akan selalu menyertai dan menguatkan para murid dalam perjuangan hidup mereka.

Pengalaman ditinggalkan, sendirian, kesepian, dan kehilangan pegangan kadang menimpa hidup kita juga. Bahkan kita kadang juga merasa ditinggalkan oleh Allah sendiri. Kita merasa bahwa Dia sudah tak peduli lagi dengan diri kita. Injil hari ini mengaskan janji dan komitmen Yesus tidak hanya kepada para rasul tapi juga kepada kita masing-masing: Aku tak pernah meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku akan mengutus Roh Penghibur yang menyertaimu “selama-lamanya”.

Namun bagaimana kita merasakan kehadiran Yesus secara nyata dalam hidup ini? Sungguhkah Roh Penghibur yang diutus Yesus tinggal bersama kita? Sering dalam pergumulan hidup ini, kita tidak “mengalami kehadiran” Tuhan. Ada saat di mana kita bahkan merasa seakan Tuhan tidak peduli bahkan melupakan kita. Itulah misalnya yang kita alami ketika doa kita tidak kunjung dikabulkan. Itulah yang kita rasakan dalam sakit parah, masalah berat dan kegagalan dalam hidup. Itulah yang terjadi saat kematian dan kehilangan orang yang kita kasihi.

Kehadiran Tuhan menjadi sulit dirasakan dalam pergumulan hidup kita, bila hal itu dimengerti sebagai “kelihatan”, dalam “bukti fisik”, dalam jawaban atas keinginan diri, dalam pemuasan egoisme kita, dan dalam keberhasilan duniawi. Tetapi Tuhan sesungguhnya hadir dengan caranya tersendiri. Dia hadir dalam hidup kita bukan pertama-tama lewat kehadiran fisik, pemberian material, perubahan yang ditangkap secara indrawi dan bukti duniawi kepada kita. Tetapi Dia hadir dengan mengutus Roh-Nya sendiri, Roh Kudus. Seperti sabda Yesus pada kesempatan lain, bila kamu yang jahat ini tahu memberi yang terbaik kepada anak anakmu, apalagi Bapaku di Surga. Dia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.(Luk 11:13). Luar biasa, ternyata Tuhan tidak memberikan SESUATU kepada kita, tetapi ROH-NYA sendiri. Dia memberikan Diri-Nya sendiri kepada kita. Dia hadir sepenuhnya secara pribadi dalam hidup kita. Bukankah ini cinta yang paling indah dari Tuhan, yaitu: pemberian diri-Nya, bukan sesuatu!

Karena itu mari kita rasakan kehadiran Tuhan yang sering samar samar, dan tak kelihatan dalam hidup kita. Mari kita kecapi cinta-Nya yang sering begitu lembut dan “tak terasa”. Mari kita biarkan hidup ini ditenun terus menerus oleh kasih setia-Nya yang abadi. Selamat berhari minggu. Tuhan memberkatimu…

Comments are closed.