Press "Enter" to skip to content

Uskup Ruteng Dorong Peserta Sidang Sinode IV Sesi II untuk Melihat Fakta Konkrit Umat

KEUSKUPANRUTENG.ORGSekitar 170 peserta menghadiri Sidang Sinode IV Sesi II Keuskupan Ruteng yang diselenggarakan di Rumah Retret Maria Bunda Karmel, Wae Lengkas Ruteng. Disaksikan media ini, Sidang dibuka pada Senin sore, 13 April 2026 dan berlangsung penuh suasana persaudaraan dan keakraban.

Saat memberikan input di hadapan Dewan Kuria Keuskupan, Pastor Paroki, Vikaris Parokial dan ratusan peserta yang datang dari 61 paroki, termasuk pimpinan Kongregasi, tokoh umat, tokoh adat, dan utusan kelompok kategorial, Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat mengatakan, pada Sesi I yang lalu, telah digaskan dasar penting perjalanan Sinode IV ini, bahwa sinode bukan sekadar forum administratif, melainkan proses discernment Gereja, proses rohani untuk membaca realitas hidup umat dalam terang Roh Kudus.

Uskup Keuskupan Ruteng Mgr. Siprianus Hormat saat sedang menyampaikan input pada acara Sidang Sinode IV Sesi II Keuskupan Ruteng pada hari pertama kegiatan ini dihelat di Aula St. Yohanes Salib, Rumah Retret Wae Lengkas, Senin, 13 April 2026 malam. (Foto: KOMSOS KR)

Realitas pastoral, kata Mgr. Siprianus, adalah locus theologicus, tempat di mana Allah berbicara dalam sejarah hidup umat-Nya. Karena itu, data, pengalaman, jeritan, dan harapan umat tidak boleh diperlakukan hanya sebagai angka atau laporan, melainkan sebagai teks kehidupan yang harus dibaca secara jujur dan teologis.

“Kini, dalam Sesi II, kita bergerak lebih konkret. Kalau pada Sesi I kita menegaskan cara membaca realitas, maka pada Sesi II ini kita diajak untuk menilai pelaksanaan program pastoral Sinode III selama sepuluh tahun terakhir, khususnya dalam bidang pewartaan, pengudusan, dan persekutuan. Maka pertanyaan kita sekarang bukan lagi hanya apa yang telah direncanakan, tetapi apa yang sungguh dijalankan, apa yang sungguh berbuah, dan apa yang masih perlu dibarui,” ujar Mgr. Siprianus.

Ditegaskan oleh Mgr. Siprianus, Sinode ini harus menjadi ruang di mana fakta konkret umat didengarkan terlebih dahulu. Bukan fakta yang harus menyesuaikan diri dengan teori kita, tetapi teori, asumsi, dan kerangka pastoral kitalah yang harus diuji oleh kenyataan. “Sebab kalau kita terlalu cepat memberi nama, memberi tafsir, atau memberi penilaian atas hidup umat, kita bisa kehilangan hal yang paling penting, yaitu suara asli umat, tempat Allah sering kali lebih dahulu berbicara kepada Gereja.”

Evaluasi yang dilakukan dalam Sinode kali ini, lanjut Mgr. Siprianus, harus sungguh bergerak dari kuantitas kegiatan menuju mutu pelaksanaan dan daya ubah pastoral. Yang dinilai bukan pertama-tama berapa banyak program dibuat, berapa sering dilaksanakan, atau berapa tebal laporan yang dihasilkan.

Uskup Keuskupan Ruteng Mgr. Siprianus Hormat saat hadir dalam acara Pembukaan Sidang Sinode IV Sesi II yang digelar Senin malam, 13 April 2026. Sidang ini akan berlangsung selama 5 hari dan memperdalam 3 bidang karya pelayanan Gereja Lokal yakni Pewartaan, Pengudusan, dan Persekutuan. (Foto: KOMSOS KR)

“Yang lebih penting ialah apakah semua itu sungguh menumbuhkan iman umat, apakah liturgi semakin menghidupkan relasi dengan Tuhan, dan apakah persekutuan umat semakin dewasa, inklusif, dan misioner,” ucapnya.

Dalam seluruh proses Sidang Sinode IV ini, Mgr. Siprianus menambahkan, harus menolong untuk melahirkan rekomendasi yang jernih, realistis, terukur, dan sungguh dapat dijalankan untuk perjalanan pastoral 2027–2036. “Kita tidak membutuhkan dokumen yang indah tetapi sulit diterapkan. Kita membutuhkan arah dasar dan desain program yang lahir dari kenyataan umat, setia pada Injil, dan bisa dijalankan dari keuskupan sampai paroki, dari paroki sampai stasi dan KBG,” tuturnya.

Suasana dalam Aula St. Yohanes Salib, Rumah Retret Wae Lengkas saat digelarnya Sidang Sinode IV Sesi II hari pertama yang berlangsung Senin, 13 April 2026 malam dan dihadiri lebih dari 170 peserta. (Foto: KOMSOS KR)

Tujuan sinode, lanjutnya, bukan menghasilkan rumusan yang hanya enak dibaca, melainkan membangun Gereja yang semakin setia, relevan, dan misioner. Ini juga sejalan dengan tujuan kerangka kerja Sinode IV Sesi II, yakni merumuskan rekomendasi sinodal yang strategis dan operasional bagi arah pelayanan pastoral ke depan. (Laporan: Jimmy Carvallo. Sasha Claudia | Foto: Rafi Jeramat, Mozak Iring)

Comments are closed.