Press "Enter" to skip to content

Inspirasi Minggu Paskah 2A: Belajar Beriman dari Rasul Tomas

Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng

[Minggu, 12 April 2026: Yoh 20:19-31]

Narasi perjumpaan Yesus yang bangkit dengan rasul Tomas menampilkan tentang iman sebagai sebuah proses yang melewati rangkaian pergumulan panjang bahkan sepanjang hidup. Ini bukan kisah tentang Tomas yang tidak percaya. Atau Tomas yang baru percaya setelah ada bukti. Sebaliknya kisah Tomas dalam injil Yohanes pada hari minggu Paskah Kedua ini menyodorkan sebuah pergumulan iman yang sejati. Dan Yesus sendirilah yang sedang menuntun Tomas dalam ziarah imannya itu. Di sini kita semua dapat belajar dari Tomas, bagaimana beriman yang sejati.

Pertama-tama, beriman tak cukup hanya mendengar kata orang tentang Yesus. Iman bukanlah sekedar berita atau informasi. Bagi Tomas, beriman harus sampai kepada perjumpaan pribadi dengan Yesus, merasakan kehadiran-Nya yang nyata dalam kehidupan. Di sini Tomas sedang menantang kehidupan imanku juga: sejauh mana imanku tidak sebatas tahu banyak tentang Yesus, tetapi juga menjalin relasi intim dengan Yesus? Sejauh mana pengetahuan iman dan pengalaman iman berjalan seiring dalam ziarah hidupku?

Lebih dari itu perjumpaan dengan Yesus harus sampai pada peristiwa salib. Karena itu Tomas merindukan untuk berjumpa dengan Yesus, dengan mencucukan jari pada tangan dan lambung-Nya yang terluka. Ini pulalah yang diperlihatkan Yesus saat berjumpa dengan para murid-Nya sebelum bertemu dengan Tomas, yakni lambung dan tangan-Nya. Jadi beriman berarti terlibat sepenuhnya dalam peristiwa hidup Yesus bukan hanya dalam aspek sukacita dan kemuliaan Paskah-Nya, tetapi juga dalam penderitaan dan kehinaan-Nya di kayu salib.

Lagi lagi Tomas mengajariku: bagaimana beriman yang holistik, yaitu setia bersatu dengan Yesus dalam pahit dan manis hidup ini, dalam derai air mata dan teriakan sukacita sehari hari. Di sini Tomas mengkritik gaya hidup imanku yang mau cari yang gampang dan enak-enak saja, gaya hidup iman yang terpenjara dalam zona nyaman dan mapan. Tomas mencemoohkan praktik-praktik doaku yang hanya meminta keberhasilan, kenyamanan dan kebahagiaan serta kecewa dengan Tuhan bila Dia tak menjawab dan memenuhi permintaanku. Beriman berarti bergumul, berjuang, bahkan gagal dan menderita, tetapi tetap boleh berpengharapan akan kuat kuasa cinta ilahi dalam diriku yang lemah dan rapuh.

Kerinduan Tomas untuk berjumpa dengan Yesus tersalib kemudian dijawab oleh Yesus yang bangkit. Tomas boleh menatap-Nya, bahkan menjamah-Nya. Dia boleh bersatu dengan Yesus dalam seluruh lika liku perjuangan, juga yang mengguratkan “luka-luka” perih dalam kehidupannya. Perjumpaan itu menyembuhkan Tomas. Ia tersungkur dan menyembah Yesus: ya Tuhanku dan Allahku!  

Yakinlah juga kepadamu dan kepadaku Tuhan selalu datang. Dia bahkan ingin disentuh dan dijamah. Dia rindu bersatu denganku dan denganmu. Kita boleh mencucukan jari pada tangan dan lambung-Nya yang terluka. Karena Dia ingin menyembuhkan luka-luka hidup kita yang perih. Maka marilah kita menyambut-Nya dengan tulus dan penuh sukacita. Mari dalam minggu kerahiman ini, kita persatukan seluruh perjuangan hidup ini juga yang lemah, rapuh, bernoda dan gagal ke dalam pelukan lembut kerahiman-Nya.

Kepada Tomas yang telah “disembuhkan”, Yesus berujar, berbahagialah orang yang percaya meskipun tidak melihat. Dengan ini Tomas dituntun oleh Yesus untuk terus melangkah dalam ziarah imannya dan menemukan Yesus, melampaui tanda tanda kasat mata yang fana, dan dalam bukti bukti duniawi. Tomas dibimbing untuk menemukan Yesus dalam misteri-Nya!

Beriman berarti terus mencari tanpa henti, melewati batas kemanusiaan dan keduniaan untuk berjumpa dengan misteri Allah yang luhur. Jangan sampai saya “mengkotakkan” dan “memenjarakan” Allah dalam konsepku, keinginanku, dan dalam duniaku yang terbatas. Beriman berarti membiarkan kebesaran dan kemuliaan Allah meresapi diriku yang hina dan rapuh. Beriman berarti keluar dari batas horison kemanusiaanku yang terbatas dan masuk ke dalam rengkuhan ilahi yang tak terbatas. “Berbahagialah orang yang tidak melihat, namun percaya!” Salam sukacita Paskah. Selamat berhari minggu bagimu..

Comments are closed.