Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng
(Minggu, 5 April 26/A:Yoh 20:1-9)
Bagaimana kita dapat menjadi “manusia Paskah”? Bagaimana agar Paskah tidak hanya sekedar ritus, ibadat meriah di Gereja, tetapi sungguh mengubah dan membarui kehidupan kita sehari-hari? Mari kita belajar dari tiga tokoh Paskah yang diceritakan injil Yohanes hari minggu Paskah ini.
Tokoh pertama yang ditampilkan sungguh mengejutkan kita, yakni seorang wanita sederhana dari Magdala, Galilea. Dalam budaya patriarki yang sangat kental saat itu, keberanian injil mengajukan tokoh ini patutlah diacungkan jempol. Yang lebih menghebohkan wanita ini terkenal pada zamannya sebagai wanita berdosa (inewai da’at, ungkapan bahasa Manggarainya). Tapi justru dari wanita lemah, terpinggirkan, dan berdosa ini, lahir kekuatan iman yang dasyat. Maria Magdalena tak larut dalam kesedihan mendalam atas kematian Yesus, Sang “Rabuni”-nya. Dia tak membiarkan diri terpenjara dalam situasi sulit. Dia tak putus asa. Tetapi dia bangkit. Dia berjuang keluar dari situasi yang mencekam. Injil menceritakan, meski “hari masih gelap”, simbol situasi suram menyedihkan saat itu, Maria bergegas ke kubur untuk menjenguk Yesus. Dan ketika ia menemukan batu penutup kubur yang besar dan berat telah terguling, Maria segera berlari kencang memberitahukan hal itu kepada dua murid Yesus.
Maria Magdalena adalah tokoh Paskah Pertama yang mengajarkan kita bagaimana bertahan dalam penderitaan, dan tidak berputus asa dalam kesulitan. Maria mengajak kita untuk bangkit ketika gagal dan jatuh. Dia menginspirasi kita untuk terus merangkai harapan dalam keburaman hidup dan kegelapan dunia.
Tokoh berikut yang dipresentasikan injil Yohanes adalah Simon Petrus. Tak kalah dosanya dari Maria Magdalena, karena dia telah mengkhianati Tuhan tiga kali saat diadili. Justru pada saat genting, ketika Yesus membutuhkan dukungan, dia justru lari meninggalkan Yesus: aku tak mengenal orang ini, ujarnya kepada pengikut Imam Agung. Namun malah dari pendosa berat ini, muncul gerakan iman Paskah yang dasyat. Begitu mendengar berita dari Maria, dia segera berlari kencang menuju kubur Yesus. Simbol semangat Paskah yang dasyat dan menggebu gebu.

Petrus mengajarkanku untuk tidak terkungkung dalam dosa. Dia memperlihatkan bahwa dalam ziarah iman, seorang murid Yesus sedang berada dalam perjalanan. Ia belum sempurna, ia masih dipengaruhi dunia fana ini, ia dapat melenceng dan kehilangan arah, ia dapat jatuh dalam dosa, bahkan terus menerus. Tetapi sekaligus ia boleh selalu mengandalkan kerahiman Tuhan. Rahmat Tuhan yang penuh pengampunan inilah yang menjadi dasar baginya untuk meniti masa depan yang baru.
Bukankah kita juga seperti Petrus sering terjerembab jatuh ke dalam dosa terus menerus? Tapi mari seperti Petrus, kita juga terus menerus menimba kekuatan dari belas kasih ilahi. Tatapan kasih sayang Tuhan yang dirasakan Petrus setelah menyangkal-Nya tiga kali, kiranya juga selalu kita alami saat kita jatuh terpuruk dalam dosa. Mari seperti Petrus, kita berlari menuju kubur Yesus. Mari kita menjadi manusia Paskah, yang enerjik dan penuh semangat mencari dan menemukan Yesus dalam hidup ini serta mewaryakan-Nya dengan riang gembira kepada dunia.
Tokoh yang terakhir tapi tidak kalah pentingnya adalah murid yang dikasihi Yesus. Identitasnya tak diungkapkan oleh penginjil. Seolah olah anonim. Hanya keterangan singkat, sebagai “murid yang dikasihi”. Tetapi ini sekaligus menggambarkan jatidirinya sebagai murid yang beriman, yang mencintai Yesus dengan sungguh. Dia tak butuh penampilan, pencitraan. Dia tak menampilkan diri. Dia berdiri di belakang Petrus dan membiarkan Petrus lebih dahulu masuk ke dalam makam. Tetapi injil menegaskan, ketika ia masuk ke dalam makan: “ia melihatnya dan percaya.” Imannya begitu polos dan tanpa syarat. Ia melihat, mendengar, merasakan dan membiarkan Tuhan yang bangkit hidup dalam dirinya.
Bukankah iman demikian yang peka merasakan kehadiran Tuhan yang kita butuhkan di tengah dunia yang bising, ribut, dan kacau dewasa ini? Bukankah iman yang polos, tulus, sepenuhnya menyerahkan diri pada Tuhan yang kita butuhkan dalam dunia dewasa ini yang dijerat oleh perhitungan untung rugi dan logika matematis? Sejauh mana saya menjadi manusia Paskah, murid yang peka membaca tanda kehadiran Yesus dalam pergumulan hidup sehari-hari?
Tiga tokoh Paskah ditampilkan injil Yohabes dalam minggu Paskah ini. Mereka bukan orang hebat, tetapi membiarkan kehebatan rahmat Allah bekerja dalam kelemahan dan kerapuhan dirinya. Mereka bukan orang sempurna, malah orang berdosa, tetapi membiarkan kerahiman Allah membasuh dan membarui hidupnya. Mereka bukan tak pernah gagal. Tetapi dalam kegagalan, mereka menyambut uluran kasih Allah untuk bangkit berdiri dan berjalan bersama merangkai masa depan yang baru. Hari minggu Paskah ini kita semua diajak, diinspirasi dan diutus Tuhan yang bangkit untuk menjadi manusia Paskah. Selamat Pesta Paskah. Tuhan memberkatimu…❤️👏

Comments are closed.