Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng
(4 April 2026/A: Mat 28:1-10; Kel 14; Kej 1).
Apakah yang mewarnai peristiwa Paskah yang kita rayakan malam ini? Pesan inspiratif apa yang dapat kita timba dari rangkaian panjang Firnan Allah pada malam Paskah ini? Salah satu ciri utama yang terasa dan tampak kuat adalah GERAKAN. Baik pelaku peristiwa maupun proses peristiwa dilukiskan berlangsung dalam dinamika/gerakan bermakna.
Kita mulai pertama-tama dari para wanita sederhana dari Galilea, yaitu Maria Magdala dan Maria lainnya. Injil menceritakan bahwa pagi pagi benar mereka pergi bergegas ke kubur Yesus (Mat 28). Mereka ini tidak larut dalam banjir air mata kesedihan. Mereka tidak terpenjara dalam kepahitan dan kekecewaan. Mereka tak berhenti dalam suasana gelapnya kematian. Mereka tak putus asa dan pasif. Sebaliknya mereka berupaya keluar dari situasi yang menyedihkan. Mereka bangkit dari keterpurukan akibat kematian Yesus. Mereka bergegas mencari sesuatu yang baru. Hal ini pula yang terjadi pada umat Israel yang bergegas keluar dari Mesir menuju Tanah Terjanji. Mereka tak membiarkan diri ditindas oleh Firaun dan dihimpit oleh beban perbudakan di Mesir. Tetapi di bawah pimpinan Musa mereka berjuang demi pembebasan, meski melawan kuasa Firaun yang dasyat dan kejam (Kel 14).
Paskah berarti bangkit dari keterpurukan, bergerak keluar dari himpitan beban kehidupan, keluar dari kegelapan dan pergi bergegas menyongsong fajar baru. Bukankah spirit Paskah ini juga sangat kena dengan situasi hidup masing-masing kita yang saat ini juga dihimpit oleh pelbagai kesulitan dan dilingkupi oleh aneka nuansa kegelapan? Bersama perempuan perempuan sederhana dari Galilea, mari kita keluar dari kekecewaaan dan kegelapan hidup, bergerak maju, terus merangkai asa dalam kehidupan.

Gerakan berikut yang dilukiskan oleh injil pada saat kebangkitan Yesus adalah gerakan alam/kosmis. Terjadi gempa bumi yang sangat hebat. Kubur pun terbuka. Inilah gambaran apokaliptik tentang akhir zaman, ketika Allah membarui semesta alam dan mendirikan “langit dan bumi yang baru”. Perubahan alam yang dasyat ini terjadi pula pada saat Paskah Israel saat menyebrangi laut Teberau: sekonyong konyong angin timur bertiup demikian kerasnya sehingga air mengering dan menyingkapkan jalan bagi umat Israel untuk menyeberang.
Paskah ternyata meliputi pula alam semesta. Dalam peristiwa Paskah bukan hanya manusia tapi juga seluruh ciptaan dibarui dan ditebus oleh Allah. Gerakan Paskah dengan demikian berdimensi ekologis dan menjangkau alam lingkungan. Paskah ternyata bukan hanya perayaan insani tapi juga perayaan ekologis. Perayaan Paskah sejati terwujud dalam gerakan merawat dan melestarikan ibu bumi sebagai rumah bersama umat manusia.
Ketiga, dalam peristiwa Paskah bukan hanya ciptaan yang bergerak tapi juga yang ilahi. Bahkan gerakan dari Allah inilah yang menjadi dasar dan motor seluruh peristiwa Paskah. Tanpa campur tangan yang ilahi, tak terjadi peristiwa Paskah. Demikianlah kisah injil: seorang Malaikat Tuhan turun dari langit, yang wajahnya bersinar seperti kilat dan berpakaian putih gemerlap seperti salju. Setelah mendongkel batu penutup makam Yesus, sang Malaikat itu duduk di atas batu itu. Gestikulasi ini adalah simbol kuasa Allah atas kematian. Kematian dan kegelapan berada dalam wewenang Allah. Karena itu Dia dapat menerbitkan terang dalam kegelapan pekat saat penciptaan (hari pertama, Kej 1:2) dan dapat mengubah kematian menjadi kehidupan abadi. Kuasa ilahi ini pula yang tampak dalam Paskah Israel, ketika melalui tongkat Musa, Allah membelah laut merah yang ganas dan menyiapkan jalan penyebrangan bagi umat Israel.
Jadi Paskah berarti hidup yang mengandalkan kekuatan Allah. Paskah berarti terus berharap, meski tak ada dasar manusiawi untuk berharap, ujar Rasul Paulus (Rm 4:18). Tak jarang dalam hidup ini saya tergelincir dalam situasi sulit yang mengerikan, seolah tanpa ada jalan keluar. Begitu juga kadanh dalam pergumulan hidup ini saya terjerembab jatuh terpuruk dan merasa tak punya energi lagi untuk bangun kembali.
Paskah berarti dalam kejatuhan, dan kegagalan, saya boleh bangkit memulai baru lagi dalam kekuatan Kristus. Dalam kegelapan hidup, bahkan dalam kematian, saya boleh terus merangkai harapan akan fajar baru yang diterbitkan Allah sendiri. Sebab barang siapa berharap pada-Nya, tak akan pernah dikecewakan.
Akhirnya, injil Paskah ditutup dengan pesan Malaikat yang menyuruh wanita-wanita sederhana itu untuk pergi ke para murid dan berpesan agar mereka kembali ke Galilea. Galilea adalah wilayah asal mereka. Galilea adalah rumah kehidupan mereka. Maka Paskah mengajakku kembali untuk meniti langkah baru dalam hidup sehari hari dengan kekuatan rahmat Tuhan. Perayaan Paskah tak berakhir meriah di Gereja tetapi berlanjut terus dalam perutusan nyata ke tengah dunia.
Sesungguhnya Yesus yang bangkit tak usah dicari cari dalam peristiwa hebat dan istimewa, tetapi justru dalam peristiwa hidup sehari-hari, Dia yang bangkit ingin menjumpai kita. Dalam makan dan minum penuh sukacita, dalam kerja tekun bertanggungjawab dan rekreasi yang menghibur, dalam relasi kasih di tengah keluarga dan paroki, dalam interaksi sosial yang adil dan bermartabat, di sanalah Yesus hidup terus dan ditemukan olehku. Dalam pergumulan hidup harian yang dijalani dengan kekuatan kasih Tuhan, itulah Perayaan Paskah. Maka marilah kita bergandeng tangan dan terus berjalan bersama ke Galilea. Salam Paskah 2026. Tuhan memberkatimu… 😘😊👏

Comments are closed.