Press "Enter" to skip to content

Inspirasi Jumat Agung: Allah yang Terluka bersama Kita

Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng

(Yes 52:13-53:12; Ibr 4:14-6;5:7-9; Yoh 18:2-19:42)

Barangkali ada yang sekarang ini sedang mengalami perihnya penderitaan Jumat Agung seperti yang dialami oleh Yesus. Mungkin ada yang sedang menderita sakit yang tak kunjung sembuh. Ada pula yang mungkin sedang kecewa dengan hidupnya yang selalu dirundung masalah. Tidak sedikit pula dalam era digital ini banyak orang yang stress dan galau karena gaya hidup dan tuntutan zaman.

Yang lebih memilukan, ada banyak beban dalam hidup ini yang mesti kita tanggung, meskipun hal itu berasal dari orang lain. Tidak sedikit orang tua yang sangat menderita karena perilaku anaknya yang buruk. Kadang suami atau istri terluka perih dan menanggung beban karena ulah pasangannya.

Dan alangkah melegakannya bila dalam situasi terhimpit oleh beban hidup itu, ada orang yang mengerti dan mendengar kita. Betapa meneguhkan bila dalam kesulitan hidup yang parah, ada yang berjalan bersama kita dan mengulurkan tangan pertolongan. Kini, bayangkan dan rasakan, dalam situasi sulit hidupmu saat ini, engkau tak sendiri, yang bersamamu adalah Tuhan sendiri, Allah yang tersalib.

Persis itulah sabda pengharapan dari Kitab Ibrani yang bergema lembut hari ini: Imam Agung yang kita miliki bukanlah Dia yang bermasa bodoh dengan duka nestapa kita, tetapi sebaliknya yang turut merasakan kelemahan hidup kita (Ibr 4:15).

Persis inilah misteri agung dan indah iman Kristiani: Allah yang kita imani adalah Allah yang peduli dan terlibat dalam tangis duka kita. Dia juga tidak hanya menghibur dengan nasihat suci. Tetapi Dia sendiri hadir merangkul kita dengan cinta ilahi. Allah yang berbelarasa, merasakan perihnya luka penderitaan, sakitnya dikhianati, sedihnya ditinggalkan, pilunya dibully dan dihujat oleh massa, sengsaranya dipukul, perihnya disiksa dan gelapnya kematian. Hamba Allah itu dihina, didera kejam, sampai bentuknya tidak menyerupai manusia lagi. Orang bahkan tak dapat mengenalnya dan jijik melihatnya (bdk Yes 53:3).

Inilah Allah Jumat Agung. Allah yang berjalan bersamaku, setia denganku dalam lika liku kesengsaraan hidup ini, bahkan terus menggenggam tanganku sampai pada titik akhir kegelapan kematian.

Tetapi Dia bukan hanya bersamaku dalam kegelapan, tapi juga menuntunku ke fajar baru kehidupan. Dia tidak hanya merasakan tangis air mataku, tapi juga menyekanya dengan lembut. Dia tidak hanya ikut terluka perih dalam kepedihan hidupku, tapi juga menyembuhkanku. Itulah Allah jumat agung, yang kita imani bersama.

Kazoh Kitamori, teolog Jepang, bilang bahwa Allah Kristiani berbeda dengan Allah dalam konsep Yunani yang sempurna, tak berubah dan abadi dalam kebahagiaan, dan karena itu tak dapat menderita apalagi mati. Sebaliknya Allah injili adalah Allah yang dapat menderita, bukan karena Dia lemah, tetapi karena Dia begitu kuat dalam cinta-Nya kepada manusia sehingga rela berbelarasa dengannya dalam situasi perih dan gelap hidupnya. Allah demikian menurut rasul Paulus adalah “kebodohan” bagi orang Yunani, tetapi “hikmat” dan kekuatan bagi kita yang percaya dan diselamatkan (1Kor 1:18).

Allah tersalib inilah yang mesti kita wartakan ke tengah dunia. Oleh sebab itu menurut Juergen Moltmann, teolog Jerman, Allah yang tersalib bukanlah gagasan sentimental emosional belaka untuk menghibur kita dalam penderitaan. Tetapi Allah yang tersalib berciri transformatif. Artinya: menggerakkan kita untuk berjuang bersama mengatasi penderitaan di muka bumi ini dan mengusahakan dunia yang lebih adil, bermartabat dan bersaudara. Allah yang tersalib juga kiranya mendorong kita untuk merawat dan melestarikan bumi sebagai “ibu” dan “rumah bersama” kita. Salam Jumat Agung. Tuhan yang tersalib memberkati dan menyembuhkanmu…

Comments are closed.