Surat Gembala Paskah 2026 Uskup Ruteng
“Akulah Kebangkitan dan Hidup” (Yoh 11:25)
Para imam, biarawan-biarawati, dan Umat Allah Keuskupan Ruteng yang dicintai Tuhan,
Ketika derap ziarah iman kita memasuki Minggu Prapaskah Kelima, Gereja tampil dalam kesederhanaan yang justru menyimpan kedalaman makna. Salib dan patung-patung ditudungi kain ungu. Liturgi seakan menahan pandangan kita, agar hati belajar melihat lebih dalam. Itulah penanda bahwa kita telah memasuki fase penting dalam peziarahan ini: awal masa sengsara Tuhan, passiontide, saat Gereja mengajak kita menapaki jejak-jejak penderitaan Kristus pada hari-hari terakhir hidup-Nya di Yerusalem.
Dalam suasana itu, kita tidak hanya mengenang sengsara Tuhan sebagai peristiwa masa lampau. Kita juga diajak membawa luka-luka dunia hari ini ke dalam lambung kudus-Nya yang tertikam oleh kejahatan dan dosa manusia: kekerasan dalam rumah tangga dan perang antarbangsa, kesenjangan sosial dan korupsi yang merajalela, judi online dan aneka kejahatan digital yang kian masif, juga perusakan lingkungan serta perubahan iklim yang makin parah.
Namun, pada Minggu Sengsara ini, kita tidak hanya berhenti pada duka. Kita juga ingin merasakan cinta Tuhan yang lembut dan mesra—cinta yang membuat-Nya rela menderita demi keselamatan kita. Sebab cinta yang sejati tidak pernah menolak penderitaan. Cinta yang sejati tidak hanya tumbuh dalam rasa senang dan keadaan yang serba nyaman. Ia justru menyala dalam malam panjang kegelapan, dan lahir melalui lika-liku perjuangan yang menegangkan. Cinta Tuhan yang menghibur inilah yang dapat kita rasakan, baik di tengah penderitaan pribadi maupun di tengah luka-luka dunia zaman ini.
Iman Kristiani bukanlah “obat bius”, bukan pelarian yang menghibur kita dengan mimpi-mimpi indah agar terhindar dari kenyataan hidup yang pahit. Sebaliknya, iman Kristiani menggerakkan kita untuk terlibat sepenuhnya dalam kenyataan hidup, termasuk pada bagian-bagian yang buram dan perih. Pada saat yang sama, iman ini memberi jaminan batin yang kokoh: siapa yang berjuang bersama Tuhan akan dimampukan mengolah penderitaan menjadi jalan menuju kebahagiaan. Siapa yang bersandar pada Tuhan akan sanggup berjalan teguh melewati lorong dunia yang fana dan gelap, bahkan ketika lorong itu berujung pada kematian, menuju fajar kehidupan baru yang diterbitkan oleh Tuhan sendiri.
Itulah yang kita rayakan dengan sukacita dalam Paskah. Paskah adalah jawaban Allah atas rintihan penderitaan manusia: Aku tidak pernah meninggalkan engkau sendirian. Paskah adalah jawaban terhadap kebisuan kematian: di balik gelapnya kubur, terbit cahaya hidup yang abadi. Paskah adalah tenaga baru bagi langkah-langkah kita yang telah letih dan rapuh, agar tetap berjalan di lorong hidup yang fana ini dengan kekuatan dari-Nya. Sebab Tuhan berkata: “Akulah kebangkitan dan hidup. Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yoh 11:25).

Injil Minggu ini menghadirkan kisah iman yang memukau dari dua perempuan bersaudara, Maria dan Marta. Mereka mengalami duka yang sangat dalam: Lazarus, saudara mereka satu-satunya, meninggal dunia. Penyangga kasih dan harapan mereka seakan runtuh seketika. Namun justru dari dua perempuan yang pada zaman itu kerap dipandang lemah dan tak berdaya, lahir kekuatan iman yang menggetarkan. “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati,” ujar Maria lirih. Dan Marta menegaskan dengan keyakinan yang teduh, “Tetapi sekarang pun aku tahu: Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.”
Dari pengakuan dan keyakinan iman dua perempuan inilah, peristiwa besar itu terjadi: Lazarus dibangkitkan. Maka benarlah kata Rasul Paulus: juga dalam situasi yang paling gelap dan paling hampa, “pengharapan tidak mengecewakan” (Rm 5:5). Di titik ketika manusia merasa semuanya selesai, Tuhan justru membuka kemungkinan baru.
Para imam, biarawan-biarawati, dan Umat Allah Keuskupan Ruteng yang dicintai Tuhan,
“Berziarah bersama dalam Pengharapan.” Itulah semangat yang menghidupi Sinode IV Keuskupan Ruteng pada tahun 2026 ini. Di tengah dunia yang dilanda rangkaian krisis kemanusiaan dan bencana alam, di tengah kehidupan Gereja yang juga tidak luput dari pelbagai kesulitan dan persoalan, kita ingin tetap berdiri teguh sebagai saksi-saksi pengharapan. Pengharapan yang kita tawarkan kepada dunia bukanlah janji-janji palsu atau optimisme kosong, melainkan ungkapan iman yang berakar dalam kasih setia Allah. Karena itu, Sinode IV dibingkai oleh motto: Beriman, Bersaudara, Misioner. Ziarah bersama Umat Allah Keuskupan Ruteng bertolak dari persekutuan yang mesra dengan Allah, diwujudkan dalam persaudaraan dan solidaritas, lalu dipancarkan dengan gembira ke tengah dunia.

Pengharapan ini bukanlah mimpi yang melayang di ruang hampa. Ia berpijak pada kebaikan Allah yang telah kita alami bersama dalam pelaksanaan Sinode III Keuskupan Ruteng selama sepuluh tahun terakhir. Hasil survei dan diskusi mengenai ketercapaian arah dasar Sinode III menunjukkan buah yang sangat menggembirakan. Gereja lokal kita semakin bertumbuh menjadi persekutuan Umat Allah yang beriman secara utuh, dinamis, dan transformatif.
Hal ini terutama ditopang oleh pola dan praksis pastoral kontekstual-integral yang telah dijalankan. Ketika titik tolak pelayanan pastoral adalah kebutuhan dan harapan umat—itulah yang disebut kontekstual—maka reksa pastoral sungguh menyapa hidup nyata dan menggerakkan partisipasi umat secara kreatif dan optimal. Itulah yang kita alami dalam pelaksanaan fokus-fokus pastoral seperti Tata Kelola Pelayanan Kasih, Pariwisata Holistik, Ekonomi Berkelanjutan, Ekologi Integral, dan Ekaristi Transformatif. Demikian pula ketika program-program pastoral dijalankan secara terintegrasi lintas bidang kehidupan Gereja, dikawal oleh lingkaran manajemen pastoral yang andal, serta diperkuat oleh jejaring kerja sama lintas stakeholder atau pemangku kepentingan, buahnya nyata: iman umat diteguhkan, persaudaraan dan solidaritas dipererat, dan ibu bumi di tanah Nucalale tercinta semakin dijaga dan dirawat.
Pada tahun 2026 ini, melalui empat sesi sidang sinodal, kita hendak merenungkan mosaik indah karya-karya pastoral yang selama ini telah bersinergi dalam bidang pewartaan, pengudusan, pelayanan, persekutuan, tata kelola, dan pelayan pastoral. Dari sana, kita ingin bersama-sama merumuskan arah dasar dan desain program pastoral untuk sepuluh tahun ke depan, dengan membiarkan diri diinspirasi oleh Roh Kudus. Sinode, menurut Paus Fransiskus, adalah perjalanan bersama: saling mendengarkan, dan terutama mendengarkan suara Roh Tuhan. Itulah yang kini sedang kita hayati melalui doa dan ibadat, katekese umat, diskusi, survei pastoral, serta aksi-aksi sosial-ekologis yang bernapas sinodal.
Lebih daripada itu, sinode adalah cara hidup (modus vivendi) sekaligus cara bertindak (modus operandi) Gereja. Sinode bukan sekadar sidang pastoral, melainkan napas seluruh hidup Gereja dalam pelbagai dimensinya, yang dijalankan dalam semangat kebersamaan dan persaudaraan. Paus Leo XIV menegaskan bahwa sinode bukanlah kampanye atau panggung pencitraan, melainkan sungguh sebuah jalan pertobatan dan pembaruan sikap, agar Gereja semakin menjadi Keluarga Allah yang misioner dan setia memberi kesaksian tentang kabar gembira keselamatan dalam Kristus.
Karena itu, marilah kita bersinode. Marilah kita berjalan bersama di jalan Tuhan dan dalam tuntunan Roh-Nya. Marilah kita terus merangkai harapan dalam kekuatan kasih-Nya. Dalam semangat sinodal itulah, saya menghaturkan salam sukacita Paskah 2026.
Haleluya!
Ruteng, 19 Maret 2026
Uskupmu,
Mgr. Sipri Hormat

Comments are closed.