Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng
(Minggu Prapaskah IV/A, 15.03.2026, Yoh 9:1-41; 1 Sam 16:1-13).
Lagi lagi injil melukiskan pengalaman kontras yang memukau. Justru si buta sedari lahir yang menemukan dan percaya Yesus sebagai Mesias, sedangkan orang Farisi yang normal dan sehat malah buta untuk melihat dan mengakui Tuhan. Justru yang secara fisik buta, memiliki hati yang jernih untuk memandang dan memuliakan Tuhan. Akan tetapi orang Farisi yang melek secara fisik malah memiliki hati yang rabun, kotor dan tertutup (buta) sehingga tak sanggup merasakan dan memandang nikmat penyembuhan dalam diri Yesus.
Demikian pula justru si buta yang dianggap “berdosa” sejak dilahirkan, karena buta sejak lahir dinilai saat itu sebagai akibat kutukan Tuhan, malah ia yang terbuka terhadap belas kasih ilahi yang menyembuhkan. Sementara orang Farisi yang secara turun temurun dikenal sebagai penganut agama yang saleh dan pengikut hukum Taurat yang taat, malah terpenjara dalam kemapanan yuridis-ritual dan terjatuh dalam kesombongan rohani sehingga tak mau menggapai uluran tangan kerahiman Allah.
Bukankah saya juga kerap terjerembab dalam licin kesalehan palsu orang Farisi dan terjebak dalam praktik agama yang kaku, sehingga tak mampu melihat terang ilahi yang menyinari hidup ini? Bukankah saya sering ternina bobo dalam kenyamanan rutinitas ibadat dan terlindungi dalam keamanan ketaatan pada perintah agama, sehingga tak mau dibarui untuk menemukan dan melihat karya Yesus yang mengejutkan dalam hidupku? Bukankah perilaku Farisi yang menghina si buta, menganggap yang lain tak berarti dan bernilai, juga menulari diriku, yang kerap membully, menghina dan mencampakkan yang lain?

Atau barangkali aku juga mengalami nasib seperti si buta, yang menderita pelbagai kekurangan jasmani serta menanggung pelbagai keterbatasan fisik yang membebani hidupku sehari-hari? Barangkali aku juga merasakan kerapuhan, kelemahan dan kehinaan secara spiritual dan dianggap orang berdosa oleh publik?
Namun bersama si buta, aku hendaknya tak berkecil hati, malu, atau putus asa dalam keterbatasan fisik diriku, juga dalam kejelekan dan kehinaan hidupku di mata dunia. Hari ini bersama si buta aku boleh datang kepada Yesus dan dioles dengan balsem penyembuhan ilahi-Nya. Aku boleh menikmati rahmat kekuatan dan bersorak sorai atas hadiah penyembuhan-Nya.
i buta melihat terang karena membuka hatinya bagi terang ilahi dalam diri Yesus. Demikian pula dalam bacaan pertama, nabi Samuel menemukan raja pilihan Allah pengganti Saul raja perkasa dalam diri si bocah kecil kemerah merahan Daud, karena sabar dan setia mendengar bisikan Allah. Keterbukaan dan ketekunan, bahkan tahan uji dalam tantangan, inilah yang menyingkapkan fajar baru keselamatan. Mari kita membangun dan mengembangkan resiliensi iman dalam kegelapan hidup ini.
Si buta kemudian disuruh oleh Yesus pergi ke kolam Siloam untuk membasuh dirinya. Mari kita juga dalam masa Prapaskah ini menceburkan diri dalam kolam kerahiman Allah dan membiarkan diri dibersihkan dan disucikan oleh rahmat-Nya. Siloam berarti diutus. Pengalaman sukacita atas kebaikan Allah bukan dinikmati hanya untuk diri sendiri tetapi untuk dibagikan kepada yang lain. Mari kita berbagi. Mari mulai hari ini kita mencari orang orang, mulai dari yang dekat dengan kita, di sekeliling kita, untuk berbagi kebaikan dan pengampunan Allah. Si buta yang tak dianggap dan diperhitungkan, justru dipilih menjadi saksi yang diutus untuk membuka mata iman orang lain. Hari ini saya dan engkau juga dipilih Tuhan. Tak usah ragu. Tak perlu malu. Tak mesti hebat. Biarkan rahmat Tuhan bekerja dalam “kebutaan” kita. Biarkan Dia mengoles dirimu. Biarkan dirimu digerakkan oleh kekuatan cinta-Nya. Siloam. Mulai hari ini engkau juga diutus. Amin.😊🙏

Comments are closed.