Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng
(Minggu Prapaskah III/A, 08.03.2026: Yoh 4,5-42; Rm 5:1-8).
Dalam sebuah perjalanan jauh yang meletihkan dari Yerusalem, Yudea kembali ke Galilea, saat melewati Samaria, Yesus mengaso di sumur Yakub. Ia capek dan kehausan. Maka ketika berjumpa dengan seorang wanita Samaria, ia meminta air kepadanya. Yesus dilukiskan penginjil Yohanes begitu manusiawi dan sungguh bersolider dengan pergumulan hidup manusia. Ia turut mengalani yang dirasakan manusia yang letih dan haus. Pesan injil yang sungguh sejuk dan menguatkan, terlebih ketika pergumulan hidupku saat ini terasa berat dan meletihkan. Ternyata aku tak pernah sendirian. Ia bersamaku. Ia turut merasakan kegalauan hidupku.
Lebih dari itu, Yesus kemudian mengajak saya untuk tidak terpaku pada keseharian pergumulan manusiawi, tetapi bergerak keluar. Saya diundang untuk mencari yang melampaui keduniawian hidup ini. Saya didorong agar dalam kesibukan harian untuk terus mencari yang lebih bermakna, tidak hanya puas dengan menjalankan hal rutin saja di dalam hidup ini. Dan persis pesan ini yang kena dengan diriku. Bukankah kesibukan sehari-hari sering melilitku dalam “urusan duniawi”, sehingga “tak punya waktu”, atau lebih tepat enggan, malas, tak bersemangat (tak mau) untuk mencari yang melampaui urusan duniawi itu? Tetapi bukankah juga keterikatan dengan hal duniawi ini tak pernah memberikan rasa puas, rasa damai, rasa nyaman yang sejati dalam diriku?
Persis dalam situasi begini, seperti si wanita Samaria
saya dituntun untuk menemukan “air hidup” yang mengobati rasa hausku selama-lamanya. Saya digerakkan untuk mencari yang lebih berarti dan bermakna di balik kemilau kenikmatan dan kesenangan dunia ini. Dan itulah Yesus Kristus. Dialah yang memenuhi pencarianku akan kebahagiaan sejati. Dialah yang memberikan damai dan sukacita yang langgeng, yang bertahan dan berlanjut, yang mendalam, berakar dan bertumbuh kembang dalam diriku. Dialah air kehidupan sejati yang memuaskan dahagaku, mengobati hausku akan kekuatan, dan semangat dalam hidup ini, haus akan kebenaran, keadilan, dan cinta: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi! Tetapi barang siapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai ke hidup yang kekal” (Yoh 4:13-14).

Masa Prapaskah adalah kesempatan berahmat untuk mencari dan menemukan yang lebih mendalam dari sekedar yang bergerak di permukaan di dunia ini, yang lebih bermakna dari sekedar rutinitas harianku, yang berkelanjutan dari yang sementara, dan temporer dalam hidupku, kebahagiaan yang sejati dan hakiki dari sekedar kenikmatan duniawi yang fana dan semu. Ketika saya melakukan “pantang dan puasa” dari makanan, minuman, kebiasaan tertentu, di situlah saya disadarkan dan dibentuk untuk keluar dari keenakan duniawi dan kenyamanan sehari-hari. Di situlah saya digerakkan untuk mencari yang lebih bermakna, bernilai, berkelanjutan, berbuah dalam hidup ini. Itulah Yesus Kristus. Dialah “jalan, kebenaran, dan kehidupan” yang sejati. Barang siapa berharap pada-Nya, tidak akan dikecewakan (Rom 5:5).
Sangatlah menarik bahwa pewahyuan Yesus sebagai Mesias, Air Kehidupan Kekal justru dinyatakan kepada wanita Samaria yang berdosa. Bukan kepada orang Yahudi yang dianggap sebagai penerima wahyu sejati. Malah kepada orang Samaria “setengah Yahudi”, yang saat itu bahkan dianggap “kafir”. Lebih menakjubkan alamat wahyu ilahi ini bukan pria tetapi justru seorang wanita, kaum lemah, “kelas dua” dalam kehidupan sosial budaya saat itu. Lebih menggemparkan lagi, injil malah menceritakan kepada seorang wanita yang asusila, berdosa berat, “bersuami lima orang” (inewai daat). Justru yang lemah, tak berarti, dan tak dianggap oleh dunia, inilah yang dipilih oleh Allah.
Namun selanjutnya justru dari keterbatasan, kelemahan, dan kehinaan duniawi inilah lahir pula iman yang sejati akan Yesus Mesias. Bahkan si wanita Samaria berdosa ini bertransformasi, berubah menjadi pewarta injil kepada orang orang sekotanya. Dialah yang menghantar banyak orang berjumla dengan Yesus dan percaya kepada-Nya.
Kiranya masa Prapaskah menjadi momentum indah bagiku untuk bertransformasi, berubah, bertobat. Juga aku yang lemah, hina dan berdosa ini dipanggil Tuhan, dicintai oleh-Nya. Bahkan aku juga ingin dipakai oleh-Nya menjadi pewarta kabar baik bagi banyak orang. Semoga mulai hari ini mulutku berceloteh tentang kebaikan dan kebenaran dalam hidup ini. Semoga selanjutnya, tanganku semakin mengulurkan kemurahan hati Allah kepada yang lain. Tuhan, semoga Engkau mengubah kegersangan, kekosongan dan kehausan dalam diriku menjadi “mata air yang terus memancar sampai ke hidup yang kekal”. Amin. Selamat berhari minggu. Tuhan memberkati.😁🙏

Comments are closed.