Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng
(Minggu 1 Maret 2026: Mat 17:1-9; Kej 12:1-4a)
Kisah gunung Tabor sesungguhnya merupakan cermin perjalanan rohani kita masing-masing. Ini bukan sekedar cerita tentang Petrus dkk bersama Yesus, tapi juga menyapa hidup kita yang nyata dan aktual. Bukankah kita juga kadang merasakan hal yang sama: pengalaman di gunung, pengalaman berada di puncak, pengalaman sukacita dan bahagia, perasaan damai. Dan karena itu kita bergumam lirih, betapa indahnya hidup ini.
Betapa seringnya pula kita seperti Petrus, bermental instan, ingin mencapai dan mempertahankan kebahagiaan hidup dengan cara gampang dan jalan pintas. Narsisme sering menjerumuskan kita ke dalam zona nyaman hidup enak. Seperti Petrus, kita lalu ingin membuat kemah, untuk mematri semua pengalaman nyaman dan enak itu. Kita ingin mengecapi sukacita paskah tanpa memanggul salib perjuangan hidup.
Persis di titik inilah Yesus mengajak kita untuk turun dari gunung Tabor menuju Yerusalem. Yesus menuntun kita untuk turut menapaki jalan salib-Nya. Dia ingin membongkar zona nyaman hidup enakku dan merobohkan kemah egoisku. Ia menyemangatiku untuk terus berjuang teguh, kreatif dan optimal dalam perjuangan hidup yang keras dan pahit di dunia ini.

Zona hidup mapan, rutin dan enak ini pula yg dibongkar oleh Allah dalam hidup Abraham. Abraham dipanggil oleh Allah untuk pergi keluar dari negerinya ke negeri baru yang akan ditunjukkan oleh-Nya. Memang negeri baru itu masih jauh dan belum jelas bentuknya, tetapi Abraham taat. Beriman berarti hidup yang mengandalkan Allah, bukan hidup yang dibangun di atas kepastian duniawi dan kenyamanan manusiawi.
Yang paling meneguhkan, kita tidak pernah sendirian dalam perjuangan hidup yang sering keras, pahit dan meletihkan. Kita boleh meniti jalan salib di dunia ini dengan kekuatan kebangkitan Tuhan. Masa Prapaska adalah momentum berahmat untuk keluar dari zona nyaman hidupku serta membingkai harapan paskah dalam perjuangan salib. Masa Prapaskah adalah sebuah ziarah iman, seperti Abraham, untuk merasakan kerahiman Allah agar dapat menjadi “berkat” bagi banyak orang. Masa Prapaskah adalah saat menimba kekuatan belas kasih ilahi dalam perjuangan hidup manusiawi yang rapuh menyongsong sukacita Yerusalem surgawi. Selamat berhari minggu..😊🙏

Comments are closed.