Press "Enter" to skip to content

Inspirasi Minggu: Berbahagialah karena Allah!

Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng

(Minggu, 1 Februari 2026: Mat 5:1-12a)

Injil hari minggu ini sungguh menantang kita. Bahkan mungkin bagi banyak orang, Sabda Yesus di bukit ini kedengarannya sangat aneh. Bagaimana mungkin orang disebut berbahagia bila ia berada dalam situasi melarat (miskin), berduka, dan teraniaya? Bagaimana mungkin orang bersukacita bila ia dililit oleh tali penderitaan?

Marilah kita berusaha untuk memahaminya. Dari segi literer, jenis sastra, Paus Benediktus XVI menyebut teks injil Sabda Bahagia ini sebagai bentuk “paradoksi”. Apa artinya? Melalui rumusan kontras, bentuk ungkapan yang berlawanan, Yesus ingin menggarisbawahi pesan yg ingin disampaikan-Nya. Apakah itu? Yaitu begitu besar kasih setia Allah kepada kita, begitu dalam kepedulian dan belarasa-Nya, sehingga dalam segala situasi kehidupan juga kondisi hidup yang melarat, sedih dan penuh penderitaan, kita boleh selalu mengandalkan kuat kuasa-Nya. Kehadiran cinta Allah yang menghibur, meneguhkan dan membuka masa depan baru, itulah yang membuat kita berbahagia.

Jadi Yesus dalam Sabda Bahagia-Nya tidak bermaksud memuliakan penderitaan dan kedukaan dalam hidup ini. Yesus juga tidak ingin menguatkan kita dengan hiburan hiburan semu. Dia juga tidak menawarkan janji palsu di masa depan dalam situasi malang hidup kita sekarang ini. Tidak! Yesus sesungguhnya ingin mewartakan Kerajaan Allah, bahwa Allah peduli dan terlibat dengan nasib sulit dan sengsara umat-Nya. Karena itu kita dapat selalu berpijak pada kekuatan-Nya dan boleh menenun harapan dalam kebaikan-Nya, yang menuntun ziarah hidup kita.

Persis inilah yang nembuat orang sungguh “berbahagia”. Saya bahagia bukan karena situasi hidup saya baik, aman dan nyaman saja, tetapi karena Allah itu baik. Dia ingin memberiku kebahagiaan yang sejati. Saya selalu boleh berpaling dan berpaut pada-Nya. Dialah satu satunya sumber kebahagiaanku yang sejati. Maka dari itu, saya berbahagia dalam hidup ini bukan karena sesuatu tetapi karena seseorang, yaitu Allah sendiri.

Oleh sebab itu, kebahagiaan saya yang sejati terasa dan terwujud tatkala saya hidup sesuai dengan kehendak Allah. Karena itulah Yesus kemudian dalam Sabda Bahagia-Nya melanjutkan, berbahagilah orang yang “lemah lembut”, “yang lapar dan haus akan kebenaran”, “yang murah hati”, “yang suci hatinya”, “yang membawa damai”. Ini semua adalah ciri ciri orang yang hidup sesuai dengan prinsip Kerajaan Allah. Orang yang hidup selaras prinsip demikianlah yang hidupnya “berbahagia”.

Sesungguhnya apa yang digariskan Yesus ini adalah prinsip prinsip yang menuntun seseorang untuk berjuang merengkuh kebahagiaan sejati dalam hidupnya. Ini pada dasarnya adalah prinsip “kemuridan”. Karena itu Sabda Bahagia ini tidak hanya ditujukan kepada para murid Yesus zaman itu, tetapi juga kepada kita murid-murud-Nya zaman ini.

Juga saat ini, Yesus menyapa saya, berbahagialah engkau. Apapun situasi hidupmu sekarang ini, juga yang galau, sedih, duka, dan pahit, janganlah berputus asa. Engkau tetap boleh berbahagia, karena Allah peduli denganmu. Dia pasti menolongmu. Apa pun situasi dirimu saat ini, mungkin kondisi tak nyaman, melarat, gagal, dibully, dihina, dan terbuang, janganlah engkau kecewa dan terkulai. Engkau selalu punya hak untuk hidup bahagia. Berbahagialah senantiasa, bukan karena “intan dan permata”, tetapi karena Allah mencintaimu. Selamat berhari minggu. Tuhan memberkatimu..

Comments are closed.