Press "Enter" to skip to content

Inspirasi Minggu: Program Yesus: KERAJAAN ALLAH

Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng

(Minggu 3A, 25 Jan 2026: Yes 8:23b-9:3; Mat 4:12-23)

Kapan Yesus mulai dengan gerakan pewartaan-Nya? Injil Mateus mengisahkan situasi dan saat mencekam, yaitu setelah Dia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, yang kemudian dibunuh oleh Herodes, Raja Galilea. Persis di Kaparnaum, kota tepi danau Genesaret Galilea ini, wilayah kekuasaan raja kejam itu, Yesus mengawali karya-Nya.

Yesus tidak mencari tempat nyaman dan aman untuk berkarya, tetapi tempat sulit yang membutuhkan pertolongan. Yesus tidak memilih waktu pastoral enak, tetapi saat yang ditentukan Allah sendiri, saat kritis, yakni setelah Yohanes Pembaptis mati dibunuh. Bagi Yesus berpastoral bukan mengikuti selera pribadi tapi mentaati kehendak Allah; bukan mencari tempat mapan dan waktu nyaman tapi terjun ke dalam pusaran riak kehidupan yang ditunjuk oleh Allah.

Yang lebih menarik adalah pertanyaan tentang apa yang diwartakan oleh Yesus? Atau dalam bahasa pastoral dewasa ini, apa sesungguhnya program Yesus? Mateus seperti penginjil lain merumuskan warta Yesus dalam ungkapan singkat dan padat: Kerajaan Allah (Basileia thou Theou) atau Kerajaan Surga: “Bertobatlah sebab Kerajaan Surga sudah dekat!”.

Apa itu Kerajaan Allah? Ekseget Jerman Helmut Merklein menandaskan bahwa Kerajaan Allah lah yang menjadi inti pewartaan Yesus. Dan Kerajaan Allah itu sesungguhnya bukan sesuatu, bukan benda, bukan pula pertama tama situasi, tetapi Allah sendiri yang kini datang bertindak menyelamatkan umat-Nya. Kerajaan Allah berarti Allah yang karena peduli dan sayang dengan umat-Nya turun tangan sendiri untuk membawa damai sejahtera (syaloom) kepada umat-Nya.

Bila Allah sendiri bertindak, apa yang terjadi? Perubahan total! Transformasi radikal! Sambil merujuk pada nubuat nabi Yesaya, Penginjil Mateus melukiskan dampak maha dasyat Kerajaan Allah yakni keselamatan dan kebahagiaan manusia yang sejati. Yesaya berujar, “Bangsa yang berjalan dalam kegelapan kini mengalami Terang yang besar.” Orang yang berada dalam kuasa kegelapan maut boleh menyaksikan dan mengalami fajar cerah kehidupan baru.

Kerajaan Allah adalah “penciptaan baru”, yang mengingatkan kita akan karya penciptaan maha agung dalam Kitab Kejadian. Saat semesta dikuasai oleh kegelapan mencekam dan kekacauan dasyat (kaos), Allah bersabda, jadilah terang. Itulah hari pertama yang mengubah segalanya: dari kegelapan menjadi terang, kaos menjadi kosmos, ketiadaan menjadi penciptaan, kehidupan mulai, bertumbuh merekah…(Kej 1).

Maka Kerajaan Allah berarti pula kehidupan manusia yang “berlimpah-limpah”, yang sungguh bahagia sejati, karena dipenuhi dan diresapi oleh kasih ilahi. Itulah sebabnya, Yesus melukiskan arah perutusan-Nya dalam injil Yohanes berikut ini, “Aku datang agar mereka hidup, dan mempunyainya dalam kelimpahan” (Yoh 10:10). Kehadiran Allah sungguh mengubah kehidupan manusia: dari kosong menjadi penuh berlimpah, dari penderitaan menjadi kebahagiaan, dari dosa menjadi rahmat, dari kematian menjadi kehidupan.

Bagaimana caranya mewujudkan “kehidupan berlimpah” ini? Bagaimana cara Yesus menghadirkan Allah dalam kehidupan manusia? Injil menceritakan, ia berkeliling Galilea, dari kampung ke kampung, dari kota ke kota, sambil “berbuat baik”. Apa saja perbuatan baiknya? Konkret dan mengubah: orang buta melihat, orang tuli mendengar, orang lumpuh berjalan. Tindakan-Nya membabat akar kejahatan dan sumber penderitaan: “setan-setan” diusir dan dikalahkan. Kehadiran-Nya menguatkan dan meneguhkan hidup yang capek dengan aneka persoalan: datanglah pada-Ku, kamu yang letih dan berbeban berat, Aku akan melegakanmu!

Kehadiran Yesus menawarkan masa depan yang baru bagi setiap insan. Masa depan yang keluar dari egoisme, dari keterikatan diri, menuju masa depan cerah bersama Allah dan sesama serta bersama ibu bumi yang lestari. Masa depan baru ini mengandaikan keterbukaan dan kesediaan manusia untuk berjalan bersama Allah. Karena itu jawaban manusia atas Kerajaan Allah adalah: bertobatlah! Berbalik: dari cara hidup lama yang terikat pada hal duniawi kepada cara hidup baru yang terpikat dan terpesona dengan Allah.

Yang tidak kalah menarik adalah bahwa, dalam program Kerajaan Allah, Yesus melibatkan orang lain. Yesus tak menjadikan manusia sebagai obyek tetapi subyek pastoral. Itulah sebabnya, langsung setelah mencanangkan program agung Kerajaan Allah, injil menceritakan kisah panggilan para rasul. Para nelayan Galilea, pekerja keras siang dan malam, dalam segala situasi sulit menangkap ikan di danau Genesaret ini, diutus dengan tugas baru menjadi “penjala manusia”. Artinya dalam bahasa Yunani (anthropous zogron, penjala manusia) bukan untuk mengikat dan mengkungkungi orang tetapi sebaliknya untuk meneguhkan dan membimbing manusia kepada kehidupan yang sejati, menuntun orang bertumbuh dalam kebebasan sebagai anak Allah.

Panggilan terlibat dalam program Kerajaan Allah Yesus ini berlaku juga saat ini, dan tidak hanya ditujukan pada klerus tetapi juga awam, tidak hanya pada kaum tertahbis tapi juga kaum terbaptis. Kita semua dipanggil dan diutus Yesus untuk peran sama: menjadi “penjala manusia”. Yaitu membuat hidup orang lain menjadi lebih baik, dan bukannya membebani dan membuat yang lain menderita. Kita semua diutus agar semakin banyak orang merasakan kekuatan cinta ilahi dalam kenyataan hidup manusiawinya yang lemah dan rapuh. Selamat berhari minggu. Tuhan memberkati…

Comments are closed.