HASIL SIDANG SINODE IV SESI I KEUSKUPAN RUTENG
BERZIARAH BERSAMA DALAM PENGHARAPAN (RM 5:5)
“BERIMAN, BERSAUDARA, & MISIONER”
(WAE LENGKAS – RUTENG, 5 – 8 JANUARI 2026)
Pendahuluan
- “Pengharapan tidak mengecewakan karena kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5). Dalam semangat dan kekuatan pengharapan umat Allah Keuskupan Ruteng ingin berjalan bersama di tanah Nucalale dewasa ini dalam bimbingan Roh Kudus melalui Sinode IV pada tahun 2026. Setelah bergandengan tangan menjalankan program Sinode III secara kontekstual-integral dalam dinamika lingkaran sepuluh tahun 2016-2025, kami ingin melantunkan madah syukur kepada Tuhan sebab Ia baik, kekal abadi kasih setia-Nya (Mzm 107:1).
- Dalam Sesi I pada 5–8 Januari 2026 yang berlangsung di Rumah Retret Wae Lengkas, Ruteng, Sinode IV ini mengusung tema “Berziarah Bersama dalam Pengharapan: Beriman, Bersaudara, dan Misioner.”. Refleksi sinodal ini diikuti oleh 152 peserta, yang terdiri atas Uskup Ruteng, Kuria Keuskupan, para Pastor Paroki, pimpinan tarekat dan lembaga, Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP), utusan komunitas umat, perwakilan Pemerintah, dan kelompok masyarakat.
Arah dan Proses Sinode IV

- “Merayakan Sinode berarti berjalan di jalan yang sama, berjalan bersama” (Kotbah Pembukaan Sinode Paus Fransiskus, Vatikan, 10 Oktober 2021). Langkah ini kami tapaki bersama Paus Fransiskus, berawal dari perjumpaan dengan Yesus dan dengan sesama umat Allah, yang kemudian dilanjutkan dengan saling mendengarkan seluruh keprihatinan spiritual dan eksistensial dalam tuntunan Roh Kudus, menuju gerakan pembedaan Roh (discretio/discernment) demi menemukan arah dasar, proses dan desain program Sinode IV Keuskupan Ruteng sebagai Gereja yang Beriman, Bersaudara, dan Misioner dalam lingkaran 10 tahun ke depan, 2027-2036.
- Oleh karena itu seperti dalam Sinode III, dalam Sidang Sinode IV juga diterapkan metode 3M: Mendengar (Melihat), Menilai, dan Memutuskan. Pada tahap Mendengar (Melihat), para peserta menjaring aspirasi umat dan menganalisis realitas pastoral melalui evaluasi implementasi Sinode III, menemukan isu strategis kehidupan sosial dan gerejawi yang aktual. Pada tahap Menilai, realitas tersebut ditimbang dalam terang Sabda Allah, Tradisi dan Ajaran Gereja, serta inspirasi antropologis, sosial, kultural, dan ekologis. Pada tahap Memutuskan, dirumuskan rekomendasi-rekomendasi pastoral sebagai dasar perumusan Arah Dasar Pastoral, strategi, dan desain program pastoral Gereja Keuskupan Ruteng agar semakin berakar pada Kristus, teguh dalam persaudaraan, dan giat kreatif dalam perutusan sebagai Gereja yang berziarah bersama dalam pengharapan.
Gereja yang Hidup dari Ekaristi

- Kami meretas refleksi Sinode IV Sesi I dengan kembali ke sumber dan puncak kehidupan Gereja, yaitu Ekaristi. Program Pastoral Tahun Pastoral Ekaristi Transformatif 2025, yang menutup lingkaran 10 tahunan implementasi program Sinode III ternyata telah mengalirkan rahmat berlimpah dalam kehidupan umat. Hal ini terungkap dalam berbagai perubahan nyata, maupun dalam aneka program yang meskipun tingkat keterlaksanaannya bervariasi antarbidang dan antarparoki.
- Dalam bidang Liturgi dan Spiritualitas Ekaristi, umat semakin memahami, merasakan dan merayakan Ekaristi sebagai perayaan iman yang hidup dan pusat kehidupan Gereja. Kehadiran dan partisipasi aktif umat dalam perayaan liturgi di Paroki, Stasi dan KBG semakin meningkat. Ekaristi semakin dialami sebagai perjumpaan personal dengan Kristus yang membarui relasi umat dengan Allah serta meneguhkan persaudaraan umat. Demikian pula terjadi gerakan devosi dan prosesi yang penuh semangat baik terhadap Sakramen Maha Kudus maupun kepada bunda Maria. Tradisi devosi Ekaristi gerejawi yang telah berusia ribuan tahun juga mulai hidup dan dirayakan oleh umat di berbagai paroki, yang membutuhkan perawatan intensif selanjutnya.
- Dalam bidang Ekaristi Sosial dan Ekaristi Ekologis terungkap meningkatnya kesadaran dan komitmen umat terhadap sesama dan alam lingkungan yang mengalir dari persatuan dengan Yesus Ekaristi. Berbagai karya belarasa terhadap kelompok miskin dan rentan serta kepedulian terhadap kelestarian ciptaan berkembang di paroki dan lembaga, yang pengembangannya ke depan perlu didorong semakin intensif. Umat semakin mengalami bahwa Ekaristi bukan hanya perayaan khidmat di altar kudus, melainkan juga berlanjut dalam ‘tindakan suci’ untuk menolong sesama yang rentan dan lemah, serta merawat dan melestarikan ibu bumi.
- Dalam bidang Persekutuan Umat, Ekaristi semakin dirayakan dengan aktif dan sukacita dalam Komunitas Basis Gerejawi (KBG) dan berbagai komunitas kategorial seperti kelompok anak, remaja, orang muda, keluarga, lansia, dan kelompok rentan. Ekaristi semakin menjadi tali pengikat yang mempersatukan dan menggerakkan kehidupan umat. Ketika Ekaristi dirayakan, umat basis berkumpul dan merajut jalinan kasih persaudaraan.
- Dalam Bidang Inkulturasi, penghayatan Ekaristi dengan citarasa budaya Manggarai semakin dirasakan bermakna dan menjamah umat beriman. Namun demikian, perlu dilanjutkan dalam refleksi kritis untuk menemukan kesepakatan terkait keselarasan atau ketidakselarasan antara iman Kristiani dan adat Manggarai (bdk. RM 52)
- Pelayan Pastoral Terbaptis juga semakin terlibat aktif dalam perayaan liturgi. Namun, kapasitas teknis-liturgis para pelayan memerlukan pembinaan berkelanjutan demi semakin terwujudnya perayaan liturgi Ekaristi yang aktif, khidmat, dan penuh sukacita.
- Senafas dan sejalan dengan gerakan Gereja sejagat, umat Allah Keuskupan Ruteng juga merayakan Tahun Yubileum 2025 dengan mengunjungi Gereja dan Gua Maria yang ditetapkan di seantero Keuskupan. Umat merasakan dan merayakan dengan penuh syukur momentum Tahun Yubileum ini sebagai Tahun Rahmat Tuhan yang menawarkan belas kasih Ilahi tidak terbatas dalam hidupnya.
- Melalui Tahun Ekaristi Transformatif 2025 umat Allah Keuskupan Ruteng semakin bertumbuh sebagai Gereja yang hidup dari Ekaristi. Ekaristi semakin menjadi sumber spiritualitas, pusat persekutuan, dan daya penggerak perutusan Gereja. Inilah yang menjadi kairos, saat penuh rahmat untuk mengawali refleksi dan ziarah bersama penuh pengharapan dalam Sinode IV tahun 2026 untuk menemukan dan merumuskan dalam tuntunan Roh Kudus arah dasar, strategi, dan desain pastoral Gereja Keuskupan Ruteng yang Beriman, Bersaudara, dan Misioner.
Titik Pijak pada Sinode III (2013—2015) dan Implementasinya (2016—2025)

- Jalan bersama dalam Sinode IV ini tidak berada dalam ruang kosong, tetapi berpijak pada dasar kekayaan tradisi dan dinamika implementasi pastoral Sinode III Keuskupan Ruteng (2013—2015) dalam lingkaran 10 tahunan dari 2016—2025. Bertolak dari situasi pastoral “liturgisentris” (ritualsentris), Sinode III menggagas dan menenun harapan untuk menjadi persekutuan umat Allah Keuskupan Ruteng yang beriman utuh, dinamis, dan transformatif. Hal ini diwujudkan dalam lingkaran lima tahun pertama dengan fokus pastoral integral, yang terungkap dalam Tahun Liturgi 2016, Tahun Pewartaan 2017, Tahun Persekutuan 2018, Tahun Diakonia 2019, dan Tahun Penggembalaan 2020. Dalam lingkaran lima tahun kedua program pastoral berorientasi pada diakonia transformatif yang terejawantah dalam Tahun Tata Kelola Pelayanan Kasih 2021, Tahun Pariwisata Holistik 2022, Tahun Ekonomi Berkelanjutan 2023, Tahun Ekologi Integral 2024, dan Tahun Ekaristi Transformatif 2025.
- Sebagai discernment sinodal, dalam proses persiapan Sinode IV, kami mengadakan survei evaluatif terhadap implementasi Sinode III yang telah berjalan hampir satu dekade. Survei ini ingin membaca secara objektif dan berbasis data sejauh mana visi dan arah pastoral Sinode III sungguh dirasakan dan dihayati oleh umat dan para pelayan pastoral untuk menjadi basis dan kelanjutan refleksi pastoral Sinode IV.
- Survei ini melibatkan 1.248 responden yang terdiri dari umat dari berbagai latar belakang dan para imam. Dimensi penilaian pertama adalah utuh, sejauh mana iman dirayakan secara liturgis sekaligus dihayati dalam hidup sehari-hari, secara rohani-jasmani, personal, sosial, ekologis dan meliputi seluruh aspek pastoral Gereja. Dimensi kedua adalah dinamis, dalam arti iman yang sungguh bertolak dari pergumulan hidup nyata umat (GS,1), bertumbuh kembang dan menghasilkan buah dalam Kristus. Dimensi ketiga adalah transformatif, dalam arti iman yang mengubah dan memperbarui pribadi, Gereja dan masyarakat. Penghayatan iman dalam tiga dimensi itu diteropong dalam lima bidang kehidupan Gereja, yakni: dimensi koinonia, kerigma, liturgi, diakonia, dan manajemen pastoral.
- Kami bersyukur atas rahmat Tuhan bahwa secara keseluruhan visi dan misi Sinode III telah terwujud secara sangat signifikan (98 %). Mayoritas responden menilai bahwa arah pastoral Sinode III bukan hanya dipahami secara konseptual, melainkan juga sungguh dihayati dan dijalankan dalam kehidupan menggereja. Hal ini menegaskan bahwa Sinode III telah berhasil membentuk suatu pola dan habitus pastoral yang bertumbuh kembang dalam praksis Gereja Keuskupan Ruteng.
- Umat dan pelayan pastoral secara khusus menilai sangat pentingnya liturgi terutama perayaan Ekaristi sebagai perjumpaan mesra dengan Kristus yang meneguhkan kehidupan dan relasi intim dalam persekutuan umat (koinonia) terutama yang dialami dalam kehidupan Komunitas Basis Gerejawi. Temuan ini yang didukung hasil sharing katekese umat mengisyarakatkan bahwa Pastoral liturgi dan koinonia kiranya perlu terus menjadi fokus-fokus pastoral dalam Sinode IV.
- Kami mengapresiasi pula efektivitas pendekatan pastoral Sinode III yang bersifat kontekstual integral. Dari hasil survey terlihat bahwa program pastoral terbukti paling berdampak ketika dijalankan secara sinergis, bukan sektoral. Pastoral pewartaan, liturgi, koinonia, diakonia dan manajemen pastoral, saling memengaruhi dan memperkuat dalam membangun iman umat yang hidup dan bertumbuh.
- Dalam dinamika pengaruh antarbidang pastoral, pastoral pewartaan (kerygma) tampil sebagai peletup pastoral. Pewartaan Sabda Allah yang kontekstual dan relevan memberi daya hidup bagi liturgi, memperdalam persekutuan umat, menata manajemen pastoral, dan pada akhirnya berbuah nyata dalam praksis diakonia. Temuan ini menegaskan bahwa iman yang lahir dari pendengaran akan Sabda (bdk. Rm 10:17) menjadi sumber dinamika seluruh kehidupan Gereja.
- Survei juga menegaskan bahwa diakonia merupakan buah paling nyata dari penghayatan iman yang utuh dan sejati. Praksis diakonia paling efektif terjadi ketika didukung oleh manajemen pastoral yang transparan, partisipatif, dan kredibel. Dengan demikian, kesaksian iman Gereja semakin tampak nyata dalam keberpihakan kepada kaum kecil, lemah, dan rentan, sebagaimana diamanatkan Injil dan ajaran sosial Gereja.
- Meskipun capaian Sinode III sangat menggembirakan, survei juga mencatat beberapa aspek yang belum sepenuhnya terwujud dan memerlukan pendalaman lebih lanjut. Aspek-aspek tersebut terutama berkaitan dengan partisipasi umat dalam perencanaan, monitoring, dan evaluasi pastoral; transparansi dan fungsi manajemen pastoral; praksis pastoral ekologis; serta kualitas relasi, rasa aman, dan resolusi konflik dalam komunitas basis gerejawi. Temuan ini tidak dimaknai sebagai kegagalan, melainkan sebagai panggilan untuk pertobatan pastoral yang berkelanjutan.
- Berdasarkan hasil survei ini, Sinode IV dipanggil untuk meneguhkan dan melanjutkan arah dasar Sinode III, sambil menajamkan strategi pastoral yang semakin partisipatif, transformatif, dan berdampak nyata. Survei ini menegaskan bahwa Gereja Keuskupan Ruteng dipanggil untuk memperdalam kualitas penghayatan, integrasi praksis, dan daya transformasi iman, agar Gereja semakin sungguh menjadi persekutuan murid-murid Kristus yang berziarah bersama dalam pengharapan.
Isu Strategis Sosial dalam Sinode IV

- Setelah melihat realitas sosiopastoral aktual Keuskupan Ruteng yang terungkap dalam hasil survei dan diskusi sinodal, kami meneropong lebih luas dan mendalam realitas sosial dewasa ini di Manggarai Raya. Untuk itu dalam Sesi I Sinode IV ini, kami mulai membaca realitas bangsa Indonesia aktual dalam situasi krisis multidimensional, saling berkaitan, dan berdampak langsung juga pada kehidupan Gereja dan masyarakat di tingkat lokal dan keuskupan.
- Dalam bidang sosial, kami mencermati semakin rapuhnya daya rekat kebangsaan yang ditandai oleh melemahnya solidaritas, menurunnya kepercayaan antarwarga, serta memburuknya relasi antara masyarakat dan negara. Realitas ini di tingkat lokal tampak dalam apatisme sosial, lemahnya partisipasi warga, serta menguatnya sikap individualistis.
- Dalam bidang ekonomi, ketimpangan sosial semakin menganga dan melahirkan penderitaan nyata: kelompok atas relatif terlindungi oleh struktur ekonomi-politik, sementara kelompok menengah hidup dalam kecemasan dan kelompok bawah semakin bergantung pada bantuan sosial. Di tingkat daerah, situasi ini menjelma dalam kemiskinan yang berkepanjangan, pengangguran, serta maraknya praktik ekonomi yang merusak martabat manusia, seperti judi online, pinjaman online, dan rentenir harian.
- Dalam ranah politik, kami menyaksikan menguatnya praktik politik transaksional, lemahnya tata kelola pemerintahan, resentralisasi kekuasaan, minimnya gerakan politik warga, serta korupsi yang menggerogoti kepercayaan publik.
- Persoalan ekologis seperti krisis air bersih, pengelolaan sampah yang buruk, deforestasi, dan dampak perubahan iklim menjadi pengalaman nyata umat sehari-hari. Semua ini memperlihatkan apa yang dapat disebut sebagai “efek gunung es”: perhatian publik sering tersedot pada gejala permukaan, sementara persoalan struktural yang lebih mendalam, seperti ketidakadilan sistemik, lemahnya institusi, dan kerusakan relasi manusia dengan sesama dan alam, kerap terabaikan.
- Kami menyadari bahwa krisis yang dihadapi, baik pada tingkat nasional maupun lokal, tidak muncul secara kebetulan, melainkan berakar pada penyebab yang bersifat struktural sekaligus kultural.
- Dalam pengelolaan sosial-ekonomi, kami mencermati kecenderungan penarasian realitas yang tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan di lapangan, termasuk dalam penyajian data kemiskinan, pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi. Hal ini berdampak pada kebijakan yang kurang berpihak pada kelompok rentan dan pada berkurangnya perlindungan sosial. Di tingkat lokal, kemiskinan dan pengangguran diperparah oleh rendahnya kualitas sumber daya manusia, terbatasnya lapangan kerja, budaya konsumtif, serta mentalitas instan yang mendorong orang mencari jalan pintas melalui judi online dan pinjaman berbunga tinggi.
- Dalam bidang politik, tingginya biaya politik, lemahnya pengawasan, mentalitas tidak jujur, ketergantungan pada pemerintah pusat, sempitnya cara pandang kesukuan, pembungkaman media, serta apatisme masyarakat melemahkan kualitas demokrasi dan partisipasi publik.
- Dalam bidang ekologi, kurangnya kesadaran dan pengetahuan, lemahnya regulasi dan penegakan hukum, alih fungsi hutan, serta pengelolaan sumber daya alam yang tidak berkelanjutan menjadi penyebab utama krisis air dan sampah.
- Semua ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi merupakan buah dari sistem, kebijakan, dan budaya yang belum sepenuhnya berorientasi pada keadilan sosial, keberlanjutan ciptaan, dan kesejahteraan bersama.
Peran Etis Profetis Gereja

- Dalam menghadapi realitas tersebut, kami ingin hadir secara radikal dalam arti Injili: sungguh terlibat dalam dinamika dunia tanpa menarik diri dari realitas konkret, sekaligus tanpa jatuh pada sikap mendominasi. Sukacita dan harapan, duka dan kecemasan manusia terutama mereka yang miskin, tersingkir, dan terluka oleh ketidakadilan adalah juga sukacita dan harapan, duka dan kecemasan kami sebagai umat Allah (GS 1). Sebagai sakramen keselamatan, Gereja hadir sebagai tanda dan sarana karya Allah demi martabat manusia dan kebaikan bersama (bonum commune) (LG 1).
- Etos dasar kehadiran Gereja di ruang publik adalah belarasa (compassio), yang menuntut bukan hanya tindakan karitatif, tetapi juga keterlibatan dalam etika publik dan transformasi struktur sosial yang melukai martabat manusia. Di tingkat nasional dan lokal, kami memandang bahwa tugas Gereja adalah menjalankan peran kenabian melalui pendidikan politik yang beretika, penguatan kaderisasi awam, pendidikan antikorupsi, pemberdayaan ekonomi umat, pendampingan pastoral bagi keluarga rentan, serta pengembangan pastoral ekologis melalui edukasi, aksi nyata, dan kerja sama dengan berbagai pihak.
- Bersamaan dengan itu, kami menegaskan komitmen pribadi setiap umat untuk hidup jujur, sederhana, bertanggung jawab, peduli terhadap sesama dan lingkungan, serta berani menjadi garam dan terang di tengah masyarakat. Dengan demikian, iman dan kewarganegaraan dihayati sebagai satu panggilan yang utuh, demi terwujudnya keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan di tanah Nucalale dan Indonesia.
Gereja Kontekstual Sinodal

- Dalam refleksi Sinode IV Sesi I ini kami juga menemukan hakikat Sinode sebagai “jalan bersama” di dalam Kristus, karena Dialah jalan, kebenaran, dan kehidupan (Yoh 14:6). Seperti dahulu Dia berjalan bersama para rasul berkeliling sambil berbuat baik di wilayah Galilea menuju Yerusalem, demikian pula kami meyakini kehadiran-Nya dalam ziarah bersama di tanah Nucalale ini menuju Yerusalem surgawi (bdk. Mat 4:32; Kis 10:38). Kami berupaya agar semakin menjadi anggota tubuh-Nya yang kudus dan persekutuan umat Allah-Nya yang mesra.
- Kami berdoa agar Roh Kudus membimbing seluruh proses Sidang Sinode IV ini, sebagaimana dahulu Dia menuntun sidang Sinode Perdana di Yerusalem (Kis 15). Kami mengamini keyakinan Paus Fransiskus bahwa Sinode adalah momentum berahmat untuk saling mendengarkan satu sama lain, tetapi terutama mendengarkan Roh Kudus.
- Lebih dari sebuah sidang, kami mengakui dan berusaha untuk menghayati sinodalitas sebagai cara hidup(modus vivendi)dan cara kerja(modus operandi) Gereja, secara konkret dan konsisten dalam seluruh kehidupan pastoral paroki dan lembaga gerejawi. Sinodalitas bukan sekadar metode atau program, melainkan habitus gerejawi yang hendaknya menjiwai relasi, struktur, pengambilan keputusan, serta pelaksanaan perutusan umat Allah Keuskupan Ruteng.
- Dalam kehidupan paroki selama ini, kami ingin terus mengembangkan dan menghayati sinodalitas dalam berbagai bentuk konkret, antara lain melalui keterlibatan umat dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi program pastoral; kehidupan KBG yang menumbuhkan semangat kebersamaan, solidaritas, dan kepedulian; praktik musyawarah dalam pengambilan keputusan; kehadiran pastoral bagi umat kecil, sakit, dan rentan; serta upaya transparansi dan pertanggungjawaban dalam tata kelola keuangan paroki.
- Praktik-praktik ini menunjukkan bahwa Gereja lokal Keuskupan Ruteng memiliki fondasi nyata untuk terus bertumbuh sebagai Gereja yang sinodal. Praktik-praktik baik ingin kami rawat dan kembangkan secara sadar dan berkelanjutan, melalui budaya mendengarkan, keterbukaan terhadap kritik, pembedaan rohani bersama, evaluasi rutin, serta penguatan komunikasi dan kolaborasi antara pastor, DPP, DKP, stasi, KBG, dan kelompok kategorial. Kami berkomitmen agar Sinodalitas menjadi pola tetap kehidupan Gereja, bukan sebagai kegiatan insidental atau tergantung pada figur tertentu.
- Komitmen ini berakar pada budaya Manggarai dalam konsep salang lako raés (jalan di mana kita menjejakkan kaki bersama dalam persaudaraan). Disadari bahwa hidup itu sebuah ziarah (salang mosé), yang perlu dibekali secara fisik dan spiritual dengan baik (wuat wa’i). Semua rangkaian ziarah perjalanan ini berlangsung dalam rahim persekutuan (tuka wing mosé cama). Tidak ada jalan hidup tanpa jejak-jejak kaki bersama (toé manga salang mosé émé toé helé lako cama). Karena itu, kami selalu berdoa agar jalan hidup bersama selalu terbuka (néka ro’é salang mosé, néka tungga salang duat, néka képé salang wé’é).
- Kami juga menyadari dan mengidentifikasi secara jujur adanya hambatan serius terhadap pertumbuhan Gereja sinodal, terutama dalam bentuk pola kerja nyaman, rutinitas tanpa evaluasi, gaya pastoral yang pastorsentris, mentalitas klerikalisme, manajemen tertutup, lemahnya regenerasi kepemimpinan, serta partisipasi umat yang rendah akibat sikap apatis dan individualisme. Hambatan-hambatan ini hendak kami atasi karena bertentangan dengan hakikat Gereja sebagai Umat Allah yang berjalan bersama dalam bimbingan Roh Kudus.
- Oleh karena itu, dalam Sidang Sinode IV Sesi I kami ingin membangun pertobatan personal dan struktural (metanoiapastoral) yang menyentuh cara berpikir, cara memimpin, dan cara melayani. Secara khusus Pastor Paroki dipanggil untuk menjalankan kepemimpinan sinodal sebagai pelayan persekutuan dan fasilitator proses pembedaan bersama, sementara umat awam diteguhkan sebagai subjek aktif perutusan Gereja berdasarkan martabat baptisan.
- Kami juga ingin secara tegas menguatkan peran dan kapasitas awam, melalui pendelegasian tugas yang nyata, pembinaan iman dan kompetensi yang berkelanjutan, kaderisasi kepemimpinan, serta pelibatan aktif dalam lima bidang perutusan Gereja, baik di dalam Gereja maupun di ruang sosial. Penguatan awam dipandang sebagai syarat mendasar bagi pertumbuhan Gereja yang sinodal dan misioner.
- Dalam bidang tata kelola, kami menyadari bahwa transparansi dan akuntabilitas keuangan paroki merupakan ekspresi konkret sinodalitas. Oleh karena itu, kami berupaya agar pengelolaan keuangan paroki wajib berlangsung kolegial, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan sesuai kaidah publik, melalui tim yang kompeten, laporan berkala kepada umat, monitoring dan audit rutin, serta SOP yang jelas dan mengikat.
Gereja Berziarah dalam Pengharapan

- Dalam konteks isu strategis sosial dan konteks sosiopastoral umat Allah di tanah Nucalale, kami berkomitmen untuk terus menjadi Gereja yang menenun dan merangkai pengharapan. Gereja ikut menanggung suka dan duka, kecemasan dan harapan manusia (bdk. GS 1). Sinode III menjadi Guru, dan Sinode IV menjadi tanda harapan baru bagi kami.
- Dalam segala pergumulan hidup, bahkan dalam kehampaan diri, kami ingin membiarkan Yesus sendiri yang mengisi hidup kami, sebab Dia sendiri telah bersabda “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10). Rasul Paulus meneguhkan kami: Spes non confundit – pengharapan tidak mengecewakan (bdk. Rm 5:5). Barang siapa sungguh pernah menenun pengharapan dalamkasih Allah, ia tidak akan pernah berputus asa. Dari keyakinan iman inilah kami meretas Sinode IV ini dengan kidung pengharapan.
- Kami meyakini ajaran Paus Benediktus XVI, bahwa “Manusia membutuhkan pengharapan yang dapat diandalkan, pengharapan yang lebih besar dari semua harapan kecil yang dapat ia bangun sendiri.” Lebih dari itu: “Pengharapan kristiani bersifat performatif: Ia bukan hanya berbicara tentang masa depan, tetapi mempunyai daya untuk mengubah hidup sekarang.” (Ensiklik Spe Salvi, 23).
- Sejak awal kehadirannya di tanah Nucalale, Gereja Katolik berusaha menjadi sinar pengharapan bagi masyarakat. Melalui pendidikan, kesehatan, dan karya sosial-ekonomi, Gereja berusaha menghadirkan pembebasan nyata, sebagaimana diwartakan Yesus sendiri: “Roh Tuhan ada pada-Ku… Ia telah mengutus Aku untuk membebaskan orang-orang yang tertindas” (Luk 4:18–19). Panggilan dan perutusan ini tetap relevan dan mendesak kami ingin lanjutkan secara aktif dan kreatif di Keuskupan Ruteng tercinta ini.
Motto Sinode IV: Beriman, Bersaudara, Misioner

- Dalam Sinode IV, kami dituntun dan bergerak dengan motto Beriman, Bersaudara, Misioner. Beriman berarti menumbuhkembangkan kehidupan yang sungguh berakar pada Tuhan—iman yang hidup, yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Seperti telah digarisbawahi dalam Sinode III, iman yang kami perjuangkan adalah iman yang holistik: yang menjamah seluruh aspek kehidupan umat—rohani dan jasmani, personal dan sosial, ekonomi dan budaya, bahkan relasi dengan alam ciptaan. Iman tidak boleh terkurung di dalam ruang ibadat, tetapi harus menjadi daya yang menghidupkan dan menggerakkan seluruh kehidupan.
- Dalam kondisi krisis yang dialami banyak orang dewasa ini, ketika orang terikat dengan daya dan jangkauan ilmu pengetahuan dan teknologi serta materi, yang ternyata terbatas, bahkan hampa, suram dan gelap, kami ingin berakar, bertumbuh dan berbuah dalam iman akan Yesus Kristus. Dialah terang dan kebenaran sejati. Kami berkomitmen agar iman Kristiani kami sungguh ibarat cahaya (lumen) yang menerangi aspek kehidupan sehari-hari setiap insan di tanah Nucalale ini (bdk. Ensiklik Lumen Fidei, LF, 4). Beriman berarti menemukan kekuatan dengan meletakkan seluruh diri di tangan Allah yang adalah setia (LF,10).
- Iman yang sejati menuntun pada kasih karena iman tanpa perbuatan adalah mati (bdk. Yak 2:17). Iman lahir dari kasih Kristus yang memberikan diri-Nya (bdk. 1 Yoh 4:7-12). Demikian pula iman terwujud dalam kasih kepada sesama. Sebab barang siapa mengatakan mengasihi Allah tetapi membenci sesamanya, dia adalah seorang pendusta (1 Yoh 4:20). Kami meyakini ajaran Paus Fransiskus, beriman berarti mempercayakan diri pada kasih yang selalu menerima dan mengampuni, yang menopang dan mengarahkan hidup serta yang menunjukkan dayanya untuk meluruskan sejarah yang berliku (LF 13). Iman ini ingin kami hidupi dalam belas kasih Allah agar semuanya dilakukan dalam kasih, “Omnia in Caitate” (1Kor. 16:14).
- Dari persekutuan dengan Allah (communio), kami dipanggil untuk memperkuat persaudaraan sebagai satu Umat Allah. Iman yang sejati selalu melahirkan relasi hidup antarumat yang sehat dan membangun, bukan merusak dan memecah-belah. Melalui motto bersaudara, kami ingin semakin terlibat dalam Persekutuan kasih Allah Tritunggal (LG 4) dan semakin menjadi saudara bagi yang lain.
- Dalam konteks Keuskupan Ruteng, panggilan untuk hidup bersaudara ini sangat didukung dan diperkaya kearifan budaya Manggarai, yang merumuskan hidup bersama dalam ungkapan: nai ca anggit, tuka ca leleng—satu hati, satu jiwa. Demikian pula ritus dan upacara adat selalu mengungkapkan persatuan yang mesra keluarga besar dan keluarga dalam kampung satu sama lain.
- Kami ingin mewujudkan persaudaraan dalam keragaman yang menjadi motto Bapa Suci Paus Leo XIV, In illo Uno Unum (Dalam yang Esa, kita adalah satu). Meskipun kita banyak, dalam Kristus yang satu, kita adalah satu (bdk. 1 Kor 12; Mzm 127). Bersaudara bukan berarti menghilangkan keunikan dan perbedaan, tetapi menghargai dan memadunya dalam harmoni yang indah. Perdamaian sejati dalam kehidupan Gereja dan masyarakat terwujud dalam kebenaran, keadilan, dan tenggangrasa.
- Kami juga mengakui dengan jujur bahwa persaudaraan tidak berarti hidup tanpa konflik. Perbedaan pandangan, kepentingan, dalam kehidupan Gereja tidak jarang menyebabkan konflik yang menimbulkan goresan dan luka yang mendalam. Kami mohon pengampunan dan bersama sama ingin membangun terus menerus hidup baru yang diobati oleh balsam Kerahiman Ilahi. Ke depannya kami belajar mengelola konflik dalam semangat Injil—dalam pengampunan, dialog, dan komitmen untuk bertumbuh dan berubah dalam tuntunan Roh Kudus.
- Kemudian, dalam Sinode IV kami ingin menjadi Gereja yang misioner—Gereja yang bersaksi tentang kasih Allah. Kami tidak ingin menjadi Gereja yang hidup dalam “zona nyaman” dan berpuas diri dengan apa yang ada, tetapi ingin terus menerus dibarui dan dituntun oleh Roh Kudus keluar dari kemapanan dan menjadi saksi-saksi Injili.
- Kesaksian ini pertama-tama terjadi ad intra, ke dalam kehidupan umat sendiri: di paroki, stasi, Komunitas Basis Gerejawi, dan terutama dalam keluarga. Di sanalah Injil harus pertama-tama dihidupi dan dirasakan. Misi Gereja tidak berhenti di dalam. Kami juga ingin bersaksi ad extra, keluar ke tengah masyarakat dan dunia: hadir di ruang publik, memperjuangkan keadilan, merawat martabat manusia, dan menjadi suara bagi mereka yang kecil dan terpinggirkan.
- Secara khusus misioner itu berciri ekologis. Bersaksi tentang kasih Allah berarti pula merawat dan melestarikan ibu bumi, rumah bersama kita. Merusak alam berarti melukai sesama dan mengkhianati amanat Sang Pencipta. Karena itu, Gereja Keuskupan Ruteng dipanggil untuk menjadi saksi pertobatan ekologis, dalam kebijakan pastoral, sikap, pilihan dan gaya hidup yang ramah lingkungan.
Program Pastoral Gereja Sinodal 2026

- Bertolak dari inspirasi-inspirasi bernas di atas, kami ingin melaksanakan berbagai program pastoral gereja sinodal yang kontekstual dan integral, pada berbagai tingkatan (level) dan bidang. Dalam bidang Pewartaan sinodal:
a. Kami akan melaksanakan kegiatan dalam bentuk khotbah, katekese, sosialisasi, imbauan, dan pengumuman, baik secara lisan maupun tertulis melalui flyer/baliho tentang Gereja sinodal.
b. Kami akan memanfaatkan media digital untuk mempublikasikan gerakan Gereja sinodal (website, youtube, facebook, Instagram, tiktok, dll).
c. Kami juga akan mensosialisasikan dan mendiseminasikan gagasan Gereja sinodal di lembaga pendidikan, pada saat pertemuan KBG, dan di komunitas persekutuan kategorial, seperti OMK, Sekami, dan Komunitas Rohani.
d. Secara khusus, kami berkomitmen mengadakan literasi digital khususnya kepada keluarga, anak, remaja dan orang muda sehingga mampu menggunakan media dan sarana online secara tepat, produktif dan bijaksana.

- Dalam bidang Liturgi sinodal:
a. Kami berkomitmen untuk terus merayakan Ekaristi mingguan dan harian yang partisipatif, khidmat, dan penuh sukacita, sambil melibatkan khusus umat rentan dan difabel (inklusif).
b. Kami akan mengadakan Rekoleksi umat, retret, dan KRK agar umat semakin termotivasi dan berkomitmen untuk terlibat dalam karya gereja yang berziarah bersama penuh pengharapan.
c. Kami ingin menguatkan spiritualitas devosi melalui Adorasi Ekaristi mingguan, Adorasi Jumat I, Prosesi Sakramen Maha Kudus, Prosesi Salib Kristus, dan novena Pentekosta.
d. Kami akan terus meningkatkan Prosesi Bunda Maria di paroki dan secara istimewa dalam perayaan Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara, Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari, Festival Lembah Sanpio Maria Bunda Segala Bangsa, dan Hari Pariwisata Internasional (HPI).

- Dalam bidang Diakonia sinodal:
a. Kami ingin merayakan Ekaristi bersama kelompok rentan yang diintegrasikan dengan aksi sosial karitatif.
b. Kami akan memberikan perhatian kepada kelompok rentan kesehatan, seperti ibu hamil, ibu menyusui, anak stunting, dan yang mengalami penyakit kronis yang diintegrasikan dengan Ekaristi pada fasilitas kesehatan, seperti Posyandu, Puskesmas, dan Rumah Sakit.
c. Kami juga mau merayakan Ekaristi bersama kelompok profesi, teristiwa petani-peternak yang disatukan dengan kegiatan diakonia transformatif.
d. Kami mendorong umat untuk mengelola ekonomi rumah tangga secara tepat dan bijaksana dan meningkatkan modal keuangannya melalui koperasi dan UBSP yang sehat dan kredibel.

- Dalam bidang Ekologi:
a. Kami akan merayakan Ekaristi pemberkatan benih dan syukuran panen yang terintegrasi dengan kearifan lokal Manggarai.
b. Kami juga akan merayakan misa ekologis terpadu dengan aksi ekologis, seperti penanaman pohon, pembersihan lingkungan, penggunaan tumbler, dan pengolahan sampah organik/anorganik dalam semangat gerakan dan ziarah bersama dalam pengharapan. Secara khusus, perawatan mata air diintegrasikan dalam perayaan ekaristi dan ritus Barong Wae.

- Dalam bidang Budaya:
a. Kami akan mengadakan Lonto Léok untuk menggali nilai dan ungkapan budaya yang memperkuat semangat sinodalitas dalam diri umat.
b. Kami ingin terus merayakan Misa Inkulturasi pada minggu III dalam bulan, serta Misa Penti tahunan agar umat mengalami kesatuan dengan Yesus Ekaristi dalam citarasa budaya Manggarai.
c. Kami akan terus menyanyikan lagu-lagu Manggarai dari Dere Serani yang merupakan hasil kekayaan inkulturasi liturgi yang berharga.

- Dalam bidang Persekutuan umat:
a. Kami terus mengembangkan KBG yang inklusif, partisipatif, dan berbelarasa dengan kelompok rentan, mendorong penguatan ekonomi melalui arisan dan UBSP yang terintegrasi dengan Ekaristi Sosial dan Ekaristi Ekologis.
b. Kami mengupayakan partisipasi umat dalam karya pastoral, dengan mendengarkan aspirasi yang sesuai dengan konteks kehidupan mereka serta melibatkan mereka, terutama melalui wadah KBG.
c. Kami berkomitmen agar pusat dan dinamika pelayanan pastoral tidak hanya berjalan di paroki, tetapi juga di stasi, Komunitas Basis Gerejawi, dan komunitas kategorial lainnya.
d. Kami juga mendorong kelompok Sekami untuk menghidupi semangat sinodal melalui kegiatan bina iman mingguan, jambore, camping, dan aksi sosial karitatif.
e. Kami ingin menggerakkan kelompok OMK untuk menghidupi semangat sinodalitas yang didasarkan pada persaudaraan Kristiani melalui berbagai kegiatan.
f. Kami ingin memperkuat semangat sinodalitas dalam keluarga-keluarga katolik melalui rekoleksi khusus untuk keluarga, pendampingan keluarga Balita, dan penguatan ekonomi keluarga.
g. Kami akan terus melanjutkan perayaan liturgi, katekese, aksi ekologis, serta ekonomi berkelanjutan (UMKM) bersama Sekami dan OMK.

- Dalam bidang pelayan pastoral dan manajemen pastoral:
a. Kami menyadari pentingnya penguatan kapabilitas pelayan terbaptis di paroki untuk mengembangkan semangat sinodalitas pelayanan, baik berkaitan dengan program maupun pengelolaan keuangan. Untuk itu, pembekalan bagi DPP/DKP, Ketua Stasi dan KBG, dan pegawai Paroki, terus dijalankan agar program pastoral, administrasi dan pengelolaaan keuangan dapat dijalankan secara kredibel, transparan, dan berkelanjutan.
b. Kami menemukan pentingnya pastoral data yang obyektif, karena sangat mendasar demi efisiensi dan efektifitas karya pastoral. Untuk itu kami berupaya tekun, setia dan optimal melanjutkan pembaruan sensus data umat, pembuatan diagram data base umat paroki, dan penggunan aplikasi digital data umat.
c. Seluruh reksa pastoral Sinodal 2026 akan kami wujudkan dalam lingkaran manajemen pastoral: perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian (Monev) yang efisien dan efektif berbasis data riil dan mengedepankan kejujuran
d. Kami berkomitmen untuk terus menjalin kerja sama yang intensif dan harmonis dengan pihak Pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), lembaga adat, lembaga pendidikan, dan komunitas lainnya sebagai wujud nyata gerak bersama dalam pengharapan.
e. Seluruh program pastoral “Gereja Sinodal” dikoordinasi oleh Pusat Pastoral (Puspas) Keuskupan Ruteng. Melalui Komisi-Komisi dalam Rumpun Pewartaan, Pengudusan, Persekutuan, dan Pelayanan Sosial, Puspas mendampingi dan menggerakkan paroki-paroki, lembaga, dan komunitas dalam mengimplementasikan program-program yang menekankan sinodalitas di bawah bimbingan Roh Kudus.
Tahap Sinodal Selanjutnya

- Setelah dalam Sesi I, 05-08 Januari 2026, kami telah berdinamika dengan tema evaluasi ketercapaian visi misi Sinode III, dan menemukan tema, arah dasar dan proses Sinode IV, kami akan berjalan bersama terus ke depan dalam langkah-langkah berikut:
a. Dalam Sesi II, 13-17 April 2026: Refleksi sinodal Pastoral Pewartaan, Pengudusan dan Persekutuan umat.
b. Dalam Sesi III, 01-05 Juni 2026: Refleksi sinodal Pastoral Diakonia (karitatif, transformatif, ekologis).
c. Dalam Sesi IV, 27-31 Juli 2026: Refleksi sinodal Pelayan dan Manajemen Pastoral.
d. Kami ingin merayakan Ekaristi puncak perayaan sinodal pada 2 Agustus 2026.
- Setelah proses dokumentasi dan evaluasi Sinode IV 2026, kami akan melanjutkan ziarah bersama pastoral dalam persiapan implementasi program Sinode IV dalam lingkaran 10 tahun, 2027-2036.
Penutup
- Santo Yohanes Krisostomus melukiskan Gereja sinodal ibarat sebuah koor. Gereja adalah umat Allah yang dipanggil untuk mengucap syukur dan memuliakan Tuhan seperti paduan suara, suatu realitas harmonis yang menyatukan segala sesuatu karena melalui hubungan timbal balik dan teratur kita yang menyusunnya bertemu dalam pikiran bersama (ITK, 3).
- Mari kita berdendang ria bersama dalam Sinode IV dipimpin oleh Dirigen Roh Kudus, agar melodi-melodi indah dan inspiratif berbunyi merdu dan tanpa henti di bukit dan lembah, lereng dan gunung Nucalale tercinta ini, untuk memaklumkan kebaikan Tuhan di tengah dunia ini. Maria, Bunda Tuhan dan Gereja, yang setia berkumpul bersama para murid-Nya (Kis 1:14) kiranya menyertai peziarahan bersama kita penuh pengharapan untuk menjadi Gereja yang beriman, bersaudara, misioner.


Comments are closed.