Press "Enter" to skip to content

Inspirasi Minggu Pembaptisan Tuhan: DIKASIHI ALLAH “APA ADANYA”!

Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng

(Minggu, 11 Jan 26: Mt 3:13-17; Yes 42:2-4;6-7)

Terperanjat! Begitu reaksi Yohanes Pembaptis ketika Yesus ingin dibaptis oleh-Nya. Mengapa? Karena baptisannya adalah untuk pengampunan dosa. Bagaimana mungkin Sang Mesias, yang kudus dari Allah ingin masuk ke dalam air yang sama tempat para pendosa dicelupkan? “Agar kehendak Allah dipenuhi”, demikian jawab-Nya singkat. Kehendak Allah yang seperti apa?

Hal ini telah disimbolkan dengan indah penuh makna dalam liturgi Gereja, yang dalam rubriknya, menata perayaan pembaptisan Tuhan sebagai penutup masa natal. Allah ternyata tidak hanya menjadi manusia dalam peristiwa natal, tetapi juga bersatu penuh dengan manusia itu dalam seluruh kenyataan hidupnya yang tercemar dan rusak, yakni dalam dosanya. Dalam inkarnasi, Yesus tidak hanya senasib denganku secara esensial tetapi juga eksistensial. Dia tidak hanya bersolider dalam martabat kemanusiaan (esensiku), tetapi juga dengan seluruh kenyataan diriku (eksistensiku) yang rapuh, dan bahkan rentan dengan dosa. Inilah simbol gestikulasi keseketiakawanan sempurna Yesus dengan manusia.

Maka sejatinya Pesta Pembaptisan Tuhan hari Minggu ini memuncaki peristiwa agung cinta natal. Yaitu: Allah ternyata tidak hanya menerima diriku dalam sisi kemanusiaanku yang bagus, dan indah tetapi juga yang jelek dan buruk. DIA tidak hanya menerimaku dalam keberhasilan dan kemenanganku. Juga dalam aneka kegagalan dan sederet kekalahan dalam hidup ini, Dia tetap merengkuhku dalam pelukan cinta-Nya yang lembut. Bahkan juga dalam dosa dosaku, Dia selalu menerimaku apa adanya, untuk merangkai asa baru dalam hidupku.

Kadang ada pengalaman hidup yang mengguncang diri kita. Bahkan ada peristiwa hidup yang menghancurkan hidup kita, sehingga kita terkulai dan seakan tak melihat lagi tetang dalam dunia ini. Hari ini kita boleh datang kepada-Nya. Jangan menunda untuk berpaling kepada-Nya. Sebab Dialah yang oleh nabi Yesaya dinubuatkan sebagai sang Mesias sejati dengan tugas luhur: “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.”(Yes 42:3). DIA datang bukan untuk para pemenang, tapi untuk orang yang kalah dalam sejarah ini. DIA hadir bukan untuk orang yang memuliakan kesuksesan hidupnya, tetapi untuk orang orang gagal dalam hidup ini. DIA ada dalam diri orang yang “dibully” sehari hari, yang dicemoohkan dalam keluarga, dihina di ruang publik, dimanipulasi, dan dihujat dalam dunia digital. DIA hanya punya misi agung satu-satunya : Aku datang bukan untuk orang suci tapi untuk menyelamatkan orang berdosa!

Namun lebih dari itu, dalam pembaptisan Yordan, Yesus tidak hanya berbelarasa dengan diriku yang berdosa ini, tetapi juga yang sebaliknyalah yang terjadi. Hari ini aku yang berdosa ini juga boleh dibersihkan dan disucikan oleh-Nya. Aku yang lemah ini dapat merasakan kekuatan-Nya yang ilahi. Hari ini aku juga boleh dibaptis bersama-Nya. Aku bahkan boleh mengenakan martabat luhur-Nya: “Inilah Anak-Ku terkasih kepada-Nyalah Aku berkenan….”

Oh Tuhan…Terima kasih karena dalam pembaptisan, aku telah menjadi anak-Mu. Oh Tuhan, betapa agungnya…, aku bahkan anak yang tetap dikasihi dalam kegagalan hidupku. Engkau selalu setia menyembuhkan luka luka hidupku. Oh, betapa indahnya…., dalam kepahitan dan kehancuran hidup ini Engkau selalu berkenan padaku dan merangkai harapan baru dalam hidup ini…

Selamat merayakan pesta pembaptisan Tuhan. Mari kembali merasakan penuh syukur dan sukacita rahmat luhur dan indah pembaptisan kita masing masing. Mari berziarah ke depan penuh pengharapan. Tuhan memberkatimu…

Comments are closed.