Press "Enter" to skip to content

Uskup Siprianus: Sinode III Menjadi Guru, Sinode IV Menjadi Harapan Baru

KEUSKUPANRUTENG.ORGUskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat menyampaikan input pada Sidang Sinode IV Sesi I di Aula Rumah Retret Maria Bunda Karmel Wae Lengkas, Senin, 5 Januari 2026. Dalam pemaparannya, Uskup Siprianus menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Sinode III, yakni PUSPAS, para Pastor Paroki, DPP-DKP, Wilayah, Stasi, KBG, serta seluruh umat.

“Sinode III telah menjadi kerja bersama Gereja lokal, bukan hanya agenda struktural, tetapi gerakan pastoral. Selama masa kegembalaan saya, beberapa tema pastoral utama telah dihidupi dan dikembangkan bersama: Ekaristi Transformatif, Ekologi Integral, Ekonomi Berkelanjutan, Pariwisata Holistik, dan Tata Layanan Kasih. Keberhasilan ini juga didukung oleh proses evaluasi dan monitoring berkala yang dilakukan,” ujar Mgr. Siprianus.

Para peserta Sidang Sinode IV Keuskupan Ruteng Sesi I sedang serius menyimak input yang disampaikan oleh Uskup Ruteng, Yang Mulia Mgr. Siprianus Hormat pada hari pertama pelaksanaan sidang di Aula Rumah Retret Wae Lengkas, Senin, 5 Januari 2026. (Foto : KOMSOS KR)

Dikatakannya, ada banyak buah Sinode III kini menjadi napas kehidupan umat, antara lain Ekaristi sosial yang menyentuh kehidupan konkret, Liturgi yang hidup dan membumi, Festival iman yang menghidupkan doa, devosi, dan solidaritas, Dampak ekonomi nyata bagi umat, Dukungan pada pariwisata holistik yang menghormati manusia, budaya, dan alam. Semua ini menunjukkan bahwa iman yang dihidupi secara benar selalu berdampak sosial.

“Kini kita memasuki Sinode IV dengan tema: Ziarah Umat Allah Keuskupan Ruteng Dalam Pengharapan: Beriman, Bersaudara, Misioner.” Tema ini lahir dari pergumulan nyata umat dan dari kesadaran iman bahwa: Gereja hanya setia pada panggilannya bila ia terus berjalan bersama dalam pengharapan,” lanjut Mgr. Siprianus.

Dituturkannya, kita hidup dalam dunia yang sangat paradoksal di mana kemajuan teknologi yang pesat, namun bersamaan dengan itu kemiskinan struktural, ketimpangan sosial, keluarga yang terpinggirkan, tekanan berat pada orang muda, krisis ekologis yang menyentuh iman dan moral. Kemiskinan sering berakar pada ketidakadilan struktural. Krisis ekologis bukan sekadar soal lingkungan, tetapi krisis iman dan tanggung jawab moral.

Suasana saat berlangsungnya Sidang Sinode IV Keuskupan Ruteng Sesi I pada hari pertama yang dilaksanakan pada Senin, 5 Januari 2026 dan dihadiri lebih dari 200 peserta. Pada kesempatan ini Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat menyampaikan input kepada semua peserta sidang. (Foto : KOMSOS KR)

“Dalam situasi ini, Gereja dipanggil menjadi saksi pengharapan. Sinode bukan sekadar forum administratif, tetapi perjalanan iman Gereja yang berakar pada iman, kasih, dan pengharapan akan Allah yang setia,” kata Mgr. Siprianus.

Ditambahkan Mgr. Siprianus, Sinode IV Melanjutkan, Memperdalam, dan Membarui. Sinode IV tidak lahir dari kekosongan melainkan Warisan Sinode III, Sinode III menjadi guru, sementara Sinode IV menjadi harapan baru. “Kita melanjutkan, memperdalam, dan membarui arah pastoral Gereja dengan menegaskan tiga orientasi dasar: Beriman, Bersaudara, dan Misioner,” ujarnya. (Tim Redaksi)

Comments are closed.