Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng
(Minggu, 28 Des 25: Sir. 3:2-6,12-14; Kol. 3:12-21; Mat. 2:13-15,19-23)
Seringkali gambaran kita terhadap kehidupan keluarga kudus terlampau “romantis”. Keluarga yang baru menimang bayi Betlehem ini sejak awal dinaungi cahaya ilahi sehingga kehidupan mereka “aman aman saja”. Ternyata tidak. Romantika natal dengan dendang malaikat surgawi, kunjungan para gembala dan cahaya bintang para Majus dari Timur begitu cepatnya berlalu. Kegembiraan Natal sirna sekejap seperti embun di pagi hari. Seakan akan setelah perayaan Natal yang meriah penginjil Matius mengajak kita untuk kembali masuk dalam kehidupan sehari-hari yang nyata dengan segala pergumulannya. Ternyata kehidupan Keluarga Kudus tidak selalu “baik baik saja”.
Kisah injil mulai dengan peristiwa singkat: begitu para majus kembali, segera mulailah jalan panjang penderitaan keluarga muda ini. Dari narasi mencekam Matius seakan terpantul dalam kehidupan awal bayi Betlehem ini akhir tragis hidup-Nya dalam peristiwa salib kemudian. Salib telah menghiasi sejak awal ziarah hidup keluarga kecil yang baru saja merangkai sukacita dalam kelahiran sang Bayi Natal.
Dimulai dengan gerakan pengungsian keluarga baru ini ke negeri Mesir. Matius yang menempatkan kisah kehidupan Sang Mesias dalam solidaritas dengan nasib bangsa-Nya, tentu mesti mengaitkan-Nya dengan peristiwa mengenaskan perbudakan bangsa Israel di tanah perbudakan Mesir (Kel. 1). Demikian pula nanti kisah Matius tentang pencobaan dan matiraga Yesus 40 hari di padang gurun memantulkan lagi perjalanan penuh kesulitan dan pencobaan bangsa Israel selama 40 tahun di padang gurun sebelum memasuki Tanah Terjanji (Mat. 4).
Mesir adalah simbol penderitaan dan pergumulan hidup. Di sinilah bangsa Israel mengerang perih kesakitan karena dianiaya oleh penjajah selama ratusan tahun. Begitu pulalah nasib naas keluarga muda dari Betlehem ini. Mereka harus mengalami pedihnya penderitaan pengungsian di tanah asing. Bukankah situasi pahit kehidupan keluarga Betlehem ini mencerminkan pula kenyataan kehidupan keluarga kita masing-masing? Sukacita perayaan Natal sesungguhnya tidak membebaskan kita dari tangis duka perjuangan hidup nyata sehari-hari. Nyanyian syahdu malam kudus dengan sinar lembut lampu natal dalam perayaan meriah di Gereja ternyata harus berlanjut dengan kenyataan hidup sehari hari yang penuh liku liku perjuangan keluarga yang seringkali pahit dan perih: mencari sesuap nasi, memikul berat biaya pendidikan anak, menderita sakit yang tak kunjung sembuh, hubungan suami istri yang terluka oleh kata-kata penghinaan dan perilaku pasangan yang kejam.
Bila demikian apakah gunanya perayaan Natal untuk perjuangan hidup keluarga? Hanya sekedar istirahat sejenak dari kenyataan perjuangan hidup keluarga yang keras? Hanya hiburan sementara dari tanggungan beban kehidupan keluarga yang berat? Bila demikian, jangan jangan Natal, seperti kritik pedas Karl Marx atas agama, sebuah “opium”, “obat bius” yang meninabobokan penganutnya dari persoalan hidup yang melilitnya.

Natal sebuah “opium” (narkoba)? Natal hanya pelarian nyaman indah sementara dari pergumulan hidup keluarga yang perih? Tidak!!! “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku!”. Allah bertindak. Seperti dahulu Dia membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, demikian pula kini Dia membebaskan keluarga muda itu dari cengkeraman pengungsian Mesir. Jadi bukan hanya salib, juga bayangan peristiwa Paskah, pembebasan dari perbudakan dan kematian sejatinya telah mulai menaungi peristiwa Natal Yesus.
Maka Natal berarti merasakan kekuatan ilahi yang menyelamatkan dalam dinamika kehidupan keluarga sehari hari yang lemah dan rapuh. Natal berarti merengkuh cahaya Betlehem dalam malam gelap yang menaungi perjalanan panjang kehidupan keluarga di tengah dunia ini. Natal berarti menimba inspirasi Roh Kudus dalam keremangan dan kekalutan yang menggayut hidup keluarga. Seperti Yusuf, yang setelah “bermimpi” berjumpa malaikat Allah, mengalami pencerahan, Natal adalah momentum (saat) inspiratif yang menelurkan harapan baru dan menggelorakan semangat pembaruan dalam kehidupan keluarga.
Dari Mesir, keluarga kudus kemudian dituntun menuju kota Nazaret. Nazaret (Netzer, Ibrani) berarti tunas (Yes 4:2;11:1). Perayaan Natal ibarat tunas yang menumbuhkan dan mengobarkan asa ( harapan) dalam kehidupan keluarga. Mari kita rawat tunas Natal ini dengan lembut, sabar dan tekun, agar dalam kecemasan dan harapan serta suka duka yang dialami keluarga, tunas Natal ini terus bertumbuh subur dan berbuah lebat. Caranya bagaimana? Rasul Paulus mengajak keluarga-keluarga untuk senantiasa “mengenakan cintakasih sebagai tali pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kol 3). Selamat merayakan Minggu Keluarga Kudus! Belas kasih keluarga Nazaret kiranya mengalir berlimpah dalam kehidupan keluargamu…

Comments are closed.