Press "Enter" to skip to content

Inspirasi Minggu Advent 2A: “Keluar dari Zona Nyaman”

Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng

Ziarah Advent dalam minggu kedua menuntun kita berjumpa dengan Yohanes Pembaptis, tokoh unik kalau tak mau disebut “aneh”. Sebab pola dan gaya hidupnya sangatlah bertentangan dengan orang sezamannya. Lihat saja. Tempat tinggalnya di padang gurun. Hidupnya asketis, mati raga. Tapi sangat ekologis, selaras alam. Berpakaian dari bulu dan kulit hewan, menyantap belalang dan madu yang disediakan hutan. Tapi justru cara hidup Yohanes Pembaptis beginilah yang jadi simbol adventus: mengekspresikan gaya hidup yang terbuka menyambut kedatangan Mesias. Gaya hidup Yohanes adalah gerakan “pemberontakan” terhadap model kehidupan yang nyaman, enak dan mapan orang orang sejamannya. Nyaman dalam balutan tradisi Yahudi, enak dalam ketersediaan pangan, sandang dan papan, serta mapan dalam bingkai pedoman dan aturan Taurat. Kemapanan dalam hidup dengan kenyamanan duniawinya, yang membuat seseorang beku terhadap gerakan Roh inilah yang ingin dibongkar oleh Yohanes Pembaptis.

Inilah pula yang terungkap dalam pewartaannya. Yohanes meneriakkan dengan nyaring di sungai Yordan, “bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat!” Adventus, kedatangan Tuhan hendaknya disambut dengan pertobatan. Yakni hidup yang berubah, dari keterikatan pada hal duniawi kepada hidup yang diinspirasi oleh bisikan Roh Allah. Bertobat berarti keluar dari cara hidup lama yang “berkelok-kelok” oleh magnet kelekatan duniawi, yang “berbukit” karena ditumpuki sampah dosa. Serta membiarkan diri dituntun oleh Roh Tuhan, yang oleh Yesaya dalam bacaan pertama, disebut “roh hikmat dan pengertian, nasihat dan keperkasaan, pengenalan dan takut akan Tuhan”.

Saat itu, orang Yahudi merasa nyaman dan mapan sebagai bangsa pilihan Allah, turunan Abraham. Namun Yohanes Pembaptis ingin membongkar mindset dan mental mapan tersebut. Secara sarkastis dia mengingatkan bahwa Allah dapat menjadikan anak-anak Abraham dari batu-batu mati. Orang Yahudi tak boleh bersembunyi nyaman di balik keistimewaan status pilihan mereka, tanpa pertobatan hidup sejati.

Selanjutnya secara dramatis Yohanes Pembaptis melukiskan mendesaknya pertobatan dengan pelbagai simbol kehidupan dunia pertanian saat itu. Kapak sudah tersedia, tinggal diayunkan untuk menebang akar pohon yang tak berbuah. Penampi (nyiru) sudah digerakkan untuk menyaring gandum dari debu jerami yang dibuang. Dengan kata lain, Yohanes menuntut untuk tidak santai santai saja, bermasa bodoh. Yohanes mau menghancurkan “keong emas” kenyamanan diri. Dia ingin memberangus mental pembiaran atas kejahatan. Dia mengirim “SOS”, peringatan gawat darurat pertobatan.

Bukankah kritik Yohanes Pembaptis ini berlaku juga bahkan kena sekali dengan situasi kita? Bukankah masa adventus seringkali menjadi masa ritual romantis dengan lampion bernyala dan lagu natal sentimental, namun tanpa isi pembaruan hidup yang nyata? Bukankah kita sering terjerumus ke dalam praktik keagamaan yang hanya mencari rasa nyaman dan damai dalam diri, tanpa peduli dengan jeritan penderitaan dunia? Bukankah kita sering tergelincir ke dakam “zona nyaman” yang enak dan mapan, lalu bermasa bodoh dan membiarkan kejahatan merajalela di sekitar kita? Janganlah sampai kita begitu terbuai dalam zona nyaman romantisme adventus, lalu menjadi kurang peduli dengan tuntutan merawat ibu bumi, membela kemanusiaan dan memperjuangkan keadilan sosial. Bertobatlah! Seru Yohanes kepada orang orang sezamannya, dan juga kepadaku saat ini. Salam Minggu Advent Kedua! Tuhan memberkatimu..

Comments are closed.