Press "Enter" to skip to content

Inspirasi Minggu Kristus Raja Semesta Alam: Raja Mesias seturut Egoku?

Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng

(Minggu 22 Nov 25; Luk 23: 35-43)

Setiap tahun, kita menutup tahun liturgi 2025 (C), dengan merayakan pesta Kristus Raja Semesta Alam. Minggu depan, dengan mulainya masa Advent, kita memasuki tahun liturgi Gereja yang baru.
Namun Kristus yang dilukiskan oleh injil Lukas jauh dari citra seorang raja yang biasa kita kenal dan bayangkan. Bukan sebagai penguasa hebat, tapi seorang tak berdaya di kayu salib. Tanpa pasukan, prajurit yang ada di situ, malah mencemoohkan Dia. Tanpa rakyat, hanya ada penjahat tersalib di samping-Nya, yang malah mencibir-Nya.

Ada tiga kelompok dalam narasi injil, yang mencaci maki Yesus di salib, karena Dia seorang “raja” yang sama sekali berbeda dari yang mereka harapkan. Yesus tak masuk kategori “raja” pencitraan mereka. Mungkinkah kita juga masuk ke dalam salah satu dari kelompok ini?

Pertama, kelompok pemimpin agama Yahudi yang sejak lama membenci Yesus karena Dia merusak kemapanan sosial dan kenyamanan religius mereka. Bagi mereka Mesias itu orang yg dipilih dan diberkati oleh Allah. Jadi mereka merindukan seorang Mesias yang agung, mulia dan penuh kuasa ilahi. Maka Yesus yang mati di salib adalah Mesias palsu, karena seseorang yang mati tergantung di kayu salib adalah pertanda bahwa orang itu dikutuk oleh Allah (bdk. Ul 21:23). Maka mereka pun mengejek-Nya. Mereka menolak Mesias yang menderita dan mati. Karena bagi mereka beriman berarti hidup nyaman, aman dan enak enak saja.

Mirip dengan itu adalah kelompok kedua, para prajurit. Mereka membayangkan Yesus sebagai seorang raja militer politis yang berkuasa, yang diharapkan bangsa Yahudi sebagai raja. Karena itu mereka mengolok-olok Dia yang tak selaras dengan gambaran Raja Mesias duniawi dengan segala kekuasaan dan kehebatan-Nya.

Ketiga adalah si penjahat tersalib di samping Yesus, yang baru akan mengakui-Nya, bila Dia dapat bertindak seturut kemauannya. Saya percaya pada Yesus kalau Dia bermanfaat bagiku, bila Dia menyelamatkanku. Beriman dengan syarat! Bila Dia ada gunanya untukku, baru aku mengakui-Nya. Inilah tipe gambaran “Raja Mesias narsis”, demi memuaskan egoismeku, “Raja Mesias Bisnis” yang dinilai dengan prinsip untung rugi belaka.

Lalu, saya dan engkau masuk kelompok yang mana? Ketiga kelompok di atas telah “memframing” Yesus seturut keinginan mereka. Yesus Raja Mesias ditampilkan sesuai pencitraan mereka. Mereka menolak Mesias yang menderita. Mereka merindukan seorang Mesias yang diluberi kekuasaan hebat dan tampil dengan glamour mempesona.

Akan tetapi syukurlah di tengah arus deras di atas, masih ada yang berenang melawan arus. Dalam dominasi kebisingan di atas, ternyata masih ada suara lembut yang lain, dan justru dari salah seorang penjahat. Dia tidak membingkai Yesus sesuai pencitraannya. Juga dia tidak menuntut Yesus untuk berbuat sesuatu seturut kemauannya. Tetapi dia hanya membuka diri terhadap Yesus. Dia membiarkan Yesus menjadi seperti diri-Nya sesuai kehendak Bapa: Ingatlah aku Tuhan, bila Engkau datang sebagai Raja….Hanya itulah pintanya. Si penjahat memasrahkan diri dengan tulus dan total kepada Yesus.

“Hari ini juga engkau bersamaku di Firdaus.” Jawab Yesus kepadanya. Bagi yang menerima-Nya dengan tangan terbuka, Yesus tak pernah menunda untuk datang kepada-Nya. Sekarang juga, bukan sebentar, esok atau lusa. Kini Dia ingin memelukmu dengan cinta ilahi. Mari kita sambut kedatangan sang Raja Mesias ini dalam hati dan hidup kita…Selamat merayakan Minggu Kristus Raja Semesta…Tuhan memberkati….

Comments are closed.