Press "Enter" to skip to content

Inspirasi Minggu: Cinta akan diri-Mu membakar aku!

Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng

(Minggu 9 Nov 25: Pemberkatan Gereja Lateran, Yoh 2:13-22)

Hari Minggu tanggal 9 November 2025 ini menjadi istimewa karena bertepatan dengan hari raya pentahbisan basilika Lateran di Roma. Apanya yang istimewa dari basilika ini? Sejak abad ke-4 zaman romawi, masa kaisar Konstantin yang mengawali pembangunannya, basilika ini merupakan katedral Uskup Roma. Karena itu perayaan basilika ini mengekspresikan kesatuan Gereja Katolik universal di bawah pimpinan Paus di Roma. Nama Lateran sendiri berasal dari Lateranus, bangsawan Roma yang menghadiahkan lokasi tanah basilika tersebut.

     Sangatlah menarik bahwa liturgi Gereja mengangkat peristiwa pembersihan kenisah oleh Yesus dalam bacaan injil hari ini. Sasaran kemarahan Yesus adalah dua pihak yakni para pedagang hewan dan para pedagang “valas” (penukar uang/bank). Mengapa penukar uang ini penting? Hewan kurban yang dipersembahkan saat itu, karena alasan praktis, tidak dibawa sendiri, tetapi langsung dibeli oleh para peziarah di pelataran kenisah. Karena mata uang yang bergambar kaisar Roma dianggap haram untuk membeli hewan kurban, maka perlu ditukar dengan mata uang Yahudi yang hanya digunakan di tempat tempat suci. Persis keramaian bisnis di sekitar bait Allah inilah yang diberangus oleh Yesus: “Jangan jadikan rumah Bapa-Ku sebagai tempat berjualan”. Bukan lagi kekhusukan ibadat yang mewarnai bait Allah tetapi hiruk pikuk bisnis. 

        Bukankah praktik demikian pula yang sering terjadi zaman ini dalam kehidupan Gereja kita? Injil hari ini menantang kita: Sejauh mana mental bisnis mencari untung yang merasuki manusia era super modern zaman ini juga tengah menulari pelayanan sakramen di pelbagai paroki kita? Barangkali tak sedikit pula pelayan Gereja yang menjadikan pelayanan spiritual sebagai kesempatan untuk keuntungan material! Maka hari ini sesungguhnya Yesus bukan hanya mencambuki para pedagang di kenisah tapi juga para “pebisnis” dalam kehidupan Gereja.

      Setelah memporakporandakan praktik “komersialisasi agama”, Yesus mengarahkan perhatian publik dari bait Allah secara fisik kepada diri-Nya: “rombaklah bait Allah ini dan Aku akan membangunnya dakam tiga hari.” Yang dimaksudkannya, demikian narasi injil, adalah peristiwa kebangkitan-Nya setelah tiga hari terbaring dalam makam. Ilustrasi Yesus ini ingin menggarisbawahi bahwa Allahlah yang menjadi pusat kehidupan agama. Bukan kemegahan rumah ibadat (gereja), bukan juga praktik ritual (ibadat) yang utama, tetapi Allahlah yang disembah dalam “gedung” gereja dan dirayakan dalam ibadat dan sakramen. 

       Lagi-lagi kritik pedas Yesus atas obsesi banyak orang akan kemegahan fisik dan arsitektur indah gedung gereja belaka! Lagi lagi penolakan Yesus atas ritus ibadat yang kosong hampa: “bangsa ini memuliakan Aku hanya dengan bibirnya, bukan dengan hatinya”.

     Jadi perayaan pentabisan basilika Latetan hari ini tidak sekedar sebuah memori sejarah tetapi perayaan transformatif yang ingin menggugat kemapanan religius yang semu dan keliru serta menggugah kesadaran dan habitus religius baru yang semata berpusat pada kemuliaan Allah. Pesta basilika Lateran sejatinya merupakan perayaan yang menggugat segala praktik “komersialisasi” sakramen dan “pembisnisan” Gereja serta menginspirasi pembaruan dan pertobatan sejati: cinta akan “rumah-Mu” menghanguskan aku. Cinta akan diri-Mu Tuhan membakar jiwaku dan menggelorakan hidupku, dan bukannya “cinta uang”, dan “cinta diri”, narsis. Maka marilah terbakar dan menyala bagi Tuhan dan semata demi kemuliaan-Nya di tengah dunia yang gelap ini. Happy Sunday! Selamat merayakan pesta basilika Lateran. Tuhan memberkatimu…

Comments are closed.