Press "Enter" to skip to content

Inspirasi Minggu: Tekun Berdoa! Untuk apa?

Oleh: RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng

(Minggu XXIX C, 19 Oktober 2025: Luk 18:1-8)

Biasanya orang tekun berdoa bila ada “mau-maunya” dengan Allah. Bila sedang sakit keras, saya terus menerus berdoa agar dijamah tangan penyembuhan ilahi. Saya tak jemu-jemu berdoa agar lulus ujian, lulus test ASN, cepat dapat pekerjaan, dapat jodoh, naik pangkat… Saya tekun berdoa bila ada “intensi” pribadi agar dikabulkan oleh Allah. Bila begitu, apakah doa tidak lebih seperti sebuah transaksi bisnis, berdagang dengan Allah. Seakan akan saya berelasi dengan-Nya agar Dia memberikan sesuatu kepadaku. Doa lalu tak lebih dari suatu praktik dagang: Ada imbalannya. Ada pamrihnya.

Meskipun demikian, menariknya praktik tidak tepat ini seolah-olah dibenarkan Yesus dalam injil hari minggu ini (Luk 18). Melalui perumpamaan hakim keras atheis yang toh akhirnya terpaksa mengabulkan permintaan seorang janda agar ia tak diganggu terus menerus olehnya, Yesus mengajak kita untuk berdoa dengan tekun agar permintaan kita dikabulkan.

Tentu Allah bukan seperti hakim itu, yang mengabulkan permintaan agar tak diganggu lagi. Hakim yang jahat itu hanyalah perbandingan negatif (perumpamaan kontras). Bila dia yang jahat itu saja mengabulkan permintaan janda tadi, apalagi Allah Bapa yang maha murah. Bukankah terlebih lagi DIA, akan peduli dengan anak-anak-Nya yang siang malam mengetuk pintu kemurahan hati ilahi-Nya? Bukankah Dia akan mendengar dengan penuh kemurahan hati jeritan penderitaan kita?

Di sini doa bukan lagi menjadi sebuah praktik dagang: Saya seakan membeli bantuan Allah dengan doa yang tak kunjung henti.  Sesungguhnya bukan doa saya yang mendatangkan berkat. Tapi kemurahan hati Allah lah yang mengalirkan rahmat berlimpah kepadaku. DIA tentu memeluk lembut anak-anak-Nya yang letih berbeban berat yang datang bersujud ke haribaan-Nya.

Dengan begitu doa yang tekun adalah ungkapan kesetiaan saya untuk terus menerus mengandalkan Allah dalam hidup ini. Doa menjadi ekspresi iman: sebuah komunikasi yang tak putus putusnya dengan Allah sumber denyut nadi kehidupan. Maka tekun berdoa sesungguhnya bukan untuk mendapat sesuatu dari Allah tapi untuk bersyukur atas setiap saat dan seluruh kehidupan yang telah diberikan Allah dengan cuma-cuma padaku. Tekun berdoa adalah momentum intensif dan berkesinambungan untuk merasakan kebaikan dan kerahiman Allah dalam hidup ini. Tekun berdoa merupakan jawabanku atas kasih setia Allah yang tak berkesudahan dalam pergumulan hidup di tengah dunia yang fana ini.

Tekun berdoa sejatinya merupakan melodi indah iman yang saya senandungkan merdu dan berulang ulang ke hadirat Allah yang agung, karena begitu hebat cinta-Nya dan tak terhingga kasih setia-Nya. Namun pertanyaan reflektif oleh Yesus dalam injil kiranya menggugah dan menggugatku: bila Anak Manusia datang, apakah DIA menemukan iman di bumi?

Tuhan, aku percaya tapi tambahkankah selalu imanku! Tuhan, tuntunlah aku tekun berdoa, bukan hanya untuk mendapatkan sesuatu tapi terutama agar aku tahu bersyukur terus menerus atas segala-Nya yang telah Kau curahkan berlimpah limpah tanpa henti dalam hidupku. Tuhan, ajarilah aku tekun berdoa, agar aku semakin beriman kepada-Mu, sumber kekuatan dan kebahagiaan sejati hidupku. Amin.

Selamat berhari minggu misi. Wartakanlah melalui ketekunan doamu betapa indahnya dan abadinya kasih Tuhan. Tuhan memberkatimu…

Comments are closed.