KEUSKUPANRUTENG.ORG — Ribuan umat Katolik memadati Gereja Katedral Ruteng pada Selasa (7/10) untuk mengikuti Misa Puncak Maria Ratu Rosari 2025, sebelum bersama-sama melanjutkan Prosesi Akbar Arca Bunda Maria Ratu Rosari menuju Bukit Golo Curu. Perayaan yang diikuti oleh puluhan ribu umat dari berbagai paroki, sekolah, dan lapisan masyarakat ini menjadi salah satu prosesi religius terbesar di Indonesia, yang berlangsung dalam suasana penuh hikmat dan sukacita.
Misa Puncak: Menghayati Ekaristi Transformatif
Perayaan Misa Puncak Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari dipimpin oleh Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat, yang dalam homilinya mengajak umat untuk menghayati makna Ekaristi Transformatif sebagai semangat pastoral Keuskupan Ruteng tahun ini.

Uskup Ruteng Mgr Siprianus Hormat saat menyampaikan homilinya dalam misa puncak Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari di Gereja Santa Maria Assumpta dan Santu Yosep Katedral Ruteng, Selasa, 7 Oktober 2025 pagi. (Foto: KOMSOS KR)
“Dalam tahun pastoral Ekaristi Transformatif, kita merayakan kehadiran Tuhan tidak hanya di dalam gereja, tetapi bagaimana Roh Tuhan mengubah dan membaharui hidup kita di tengah-tengah dunia. Itulah Ekaristi Transformatif. Persis dalam Prosesi Akbar Maria Ratu Rosari tampak Ekaristi Transformatif tersebut. Diruangan Gereja ini seperti di zaman para rasul kita berkumpul bersama Bunda Maria merayakan Kristus dan melalui prosesi, kita keluar dari gereja untuk mewartakan Kristus di tengah dunia. Dalam Prosesi Akbar sebentar ini, kita berziarah bersama Bunda Maria untuk memberikan kesaksian kepada dunia betapa indahnya cinta Tuhan, yang memberi arti dan nilai bagi hidup ini,” ungkap Mgr. Siprianus dalam khotbahnya.

Mgr Siprianus Hormat saat mendupai arca Maria Ratu Rosari didampingi Ketua Komisi Kerohanian RD Ompi Lasma Latu di Gereja Katedral Ruteng. (Foto: KOMSOS KR)
Mgr. Siprianus juga menggarisbawahi dalam kotbahnya bahwa festival ini bukan hanya seremoni tapi sungguh transformatif menggerakkan kehidupan. “Festival ini menguatkan penghayatan spiritualitas Katolik yang inklusif, berakar dalam keunikan dan kekayaan budaya Manggarai, menggerakan ekonomi rakyat melalui pameran UMKM, bersolider dengan yang rentan dan sengsara melalui kegiatan sosial karitatif dan ingin merawat juga memelihara ibu bumi melalui ibadat ekologis dan gerakan penghijauan. Festival Golo Curu ini ingin mengekspresikan Ekaristi Transformatif, iman yang menggerakan dan membarui kehidupan yang holistik,” ujarnya.
Prosesi Akbar: Paduan Iman dan Budaya
Usai Perayaan Ekaristi Puncak peringatan Santa Perawan Maria Ratu Rosari, puluhan ribu umat mengadakan perarakan (prosesi) dari Gereja Katedral Ruteng menuju Bukit Golo Curu dalam Prosesi Akbar arca Bunda Maria Ratu Rosari. Prosesi panjang yang diikuti oleh puluhan ribu orang ini melibatkan seluruh elemen masyarakat, umat dari berbagai paroki, komunitas-komunitas biara, berbagai kelompok kategorial (rohani) serta mahasiswa dan pelajar sekolah.

Foto udara yang memperlihatkan puluhan ribu umat Katolik saat mengikuti Prosesi Akbar Maria Ratu Rosari dari Gereja Katedral Ruteng menuju Bukit Golo Curu dalam acara puncak Festival Golo Curu di Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai pada Selasa, 7 Oktober 2025. (Foto: KOMSOS KR)
Sepanjang perjalanan yang dilalui oleh prosei akbar tersebut, umat juga berhenti di tujuh tempat perhentian doa. Setiap perhentian disambut dengan tarian adat Manggarai dan sapaan adat dari berbagai etnis di Flores — antara lain Manggarai, Bajawa, Lio, dan Sikka — yang mempersembahkan ekspresi budaya mereka sebagai ungkapan iman dan penghormatan kepada Bunda Maria. Pemandangan ini pun menjadi daya tarik para wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Manggarai, Land of Harmony.

Para penari yang berasal dari etnis Bajawa saat membawakan Tarian Ja’i ketika menyambut Arca Maria Ratu Rosari yang diprosesikan dari Gereja Katedral Ruteng menuju Bukit Ziarah Golo Curu. Festival Golo Curu menjadi event perjumpaan yang menyatukan semua etnis, agama dan budaya yang ada di Pulau Flores, NTT. (Foto: KOMSOS KR)
Meskipun diikuti oleh lautan manusia, prosesi berjalan lancar dan berlangsung tertib, hening, dan penuh kekhusyukan dengan pengawalan aparat gabungan dari Polisi, Dinas Perhubungan, dan Satuan Polisi Pamong Praja serta organisasi THS-THM. Nuansa kultural yang kuat berpadu harmonis dengan semangat religius Katolik, menghadirkan pemandangan yang memukau dan menyentuh hati. Festival Golo Curu menjadi harmoni semesta yang menyatukan kemajemukan masyarakat.
Ziarah Bersama Bunda Maria
Prosesi akbar Maria Ratu Rosari 2025 bukan hanya menjadi puncak perayaan iman umat Katolik Keuskupan Ruteng, tetapi juga perwujudan nyata ziarah hidup bersama Bunda Maria untuk mewartakan kasih Kristus di tengah dunia. Melalui ziarah bersama ini tersirat pesan yang selalu tersimpan di hati ribuan peziarah dan para wisatawan yang mengikutinya, bahwa kasih mesti selalu menjadi “panduan” kehidupan ke manapun kaki melangkah.

Arca Maria Ratu Rosari ketika sampai di Bukit Golo Curu setelah melalui rangkaian prosesi panjang dari Gereja Katedral Ruteng. (Foto: KOMSOS KR)
Perpaduan antara doa, budaya, dan solidaritas menjadikan perayaan ini sebagai simbol iman yang hidup dan menggerakkan. Melalui jejak puluhan ribu tapak kaki di sepanjang jalan prosesi dari Gereja Katedral Ruteng menuju Bukit Golo Curu yang penuh doa sambil menggenggam manik-manik rosario diselingi nyanyian, umat Katolik Keuskupan Ruteng menegaskan kembali panggilan untuk menjadi saksi dan pembawa Kasih Tuhan di tengah dunia. (Sasha Claudia)

Comments are closed.