Press "Enter" to skip to content

Maraknya Masalah dalam Perkawinan Jadi Sorotan Pertemuan para Ketua Komisi Keluarga Regio Nusra di Ruteng

KEUSKUPANRUTENG.ORGPara Ketua Komisi Keluarga se-regio Nusa Tenggara (Nusra) kembali mengadakan pertemuan di Rumah Retret Maria Bunda Karmel, Wae Lengkas, Ruteng, 5 – 8 Agustus 2025. Tahun ini, Keuskupan Ruteng menjadi tuan rumah pertemuan tahunan tersebut dengan mendalami tema tentang Pastoral Konseling Keluarga, masih terkait dengan tema Perjalanan Katekumenat Menuju Kehidupan Perkawinan dan Keluarga, yang menjadi fokus pertemuan tahun sebelumnya.

Pertemuan Regional Komisi Keluarga Nusa Tenggara merupakan sisi lain dari membangun persaudaraan, persahabatan dan juga menbangun sharing karya pelayanan pastoral bagi keluarga-keluarga di semua keuskupan se-Nusa Tenggara. Perjumpaan tahunan ini menjadi bagian dari tanggung jawab para ‘punggawa’ atau Ketua Komisi Keluarga seregio Nusra untuk memberikan laporan sekaligus bersama-sama membarui tekad untuk menjalankan karya pastoral keluarga di mana saja mereka berada.

RP Yohanes Aristanto Hari Setiawan, MSF (kiri), Sekretaris Eksekutif Komisi Keluarga Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) saat menyampaikan materinya tentang Pastoral Konseling Keluarga pada Pertemuan para Ketua Komisi Keluarga Seregio Nusa Tenggara di Rumah Retret Maria Bunda Karmel, Wae Lengkas, Ruteng, 6 Agustus 2025. (Foto : J. CARVALLO/KEUSKUPANRUTENG.ORG)

Pada kesempatan ini hadir Sekretaris Eksekutif Komisi Keluarga Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), RP Yohanes Aristanto Hari Setiawan, MSF, dan Ketua Komisi Keluarga se-Regio Nusra yang juga Ketua Komisi Keuskupan Larantuka, RD Bernardus B. Wara. Tampak pula Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Atambua, Sr. Fridolin Teme, SSpS, Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Kupang, RD Anselmus Leu, Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Maumere, RD Dedy Son, Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Ende, RD Frans Jata, Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Ruteng, RD Blasius Harmin, Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Labuan Bajo, RP Fabianus N. Ngama, SVD dan Ketua Komisi Keluarga Keukupan Denpasar, RD Adi Harun.

Selama beberapa hari, para Ketua Komisi Keluarga yang datang dari berbagai keuskupan di regio Nusra mendiskusikan dan mensharingkan berbagai materi, seperti Komunikasi Efektif Suami-Istri (Praksis Pastoral Konseling Keluarga) yang dipresentasikan oleh RP Aristanto. Ada pula materi seputar Komunikasi Efektif Suami-Istri, dan Sharing Pastoral Keluarga masing-maing keuskupan se-regio Nusra yang telah dijalankan selama ini.

Suasana saat digelarnya Pertemuan para Ketua Komisi Keluarga Seregio Nusra yang digelar di Rumah Retret Maria Bunda Karmel, Wae Lengkas, Ruteng. Sejumlah pasutri dari 7 paroki gugus kota Ruteng, pasutri dari paroki Reo dan Borong serta utusan Marriage Encounter juga hadir pada sesi Hari Studi. (Foto : J. CARVALLO/KEUSKUPANRUTENG.ORG)

Menariknya, pada pertemuan kali ini, pada hari ke-2 yakni Hari Studi, pihak Komisi Keluarga Keuskupan Ruteng juga mengundang dan melibatkan para pasangan suami-istri (pasutri) pendamping keluarga-keluarga atau yang menjabat di Seksi Pastoral Keluarga dari 7 paroki gugus Kota Ruteng juga dari Borong, Reo, dan pasutri utusan Marriage Encounter (ME), yakni Laurens dan Kristina. Dalam pertemuan ini juga disoroti maraknya kompleksitas persoalan yang muncul dalam perkawinan dan menjadi catatan yang membutuhkan penanganan holistik.

Bangun Jejaring Bersama Awam

Ketua Komisi Keluarga se-Regio Nusra, RD Bernardus Belawa Wara, disapa Romo Bernard dalam bincang dengan media ini mengatakan, momen tahunan ini dilaksanakan dalam kerja sama dengan para Bapak Uskup yang menjadi tuan rumah dari setiap kegiatan dihelat. Dan kali ini, pertemuan di kota dingin Ruteng membicarakan tema tentang Konseling Pastoral Keluarga.

“Tema ini diangkat karena dalam diskusi kami masih terdapat adanya kenyataan tentang kesulitan di dalam relasi dan komunikasi suami-istri yang berujung pada retaknya relasi dan komunikasi dalam rumah tangga itu sendiri. Tahun lalu setelah pertemuan di Bali yang berbicara tentang Kursus Persiapan Perkawinan Katolik, perjalanan katekumenat menuju hidup perkawinan dan keluarga, kami bersepakat kali ini kami secara khusus membicarakan konseling sebagai langkah antisipasi paska perkawinan demi menjaga relasi-komunikasi yang baik di antara suami dan istri,” kata RD Bernard.

Ketua Komisi Keluarga se-Regio Nusra yang juga Ketua Komisi Keuskupan Larantuka, RD Bernardus B. Wara saat hadir dalam Pertemuan para Ketua Komisi Keluarga Seregio Nusra yang digelar di Rumah Retret Maria Bunda Karmel, Wae Lengkas, Ruteng. (Foto : J. CARVALLO/KEUSKUPANRUTENG.ORG)

Dalam Konseling Pastoral Keluarga yang menjadi perhatian pertemuan di Wae Lengkas, lulusan Universitas Leteran, Institut Yohanes Paulus II Licensiat Pastoral Perkawinan dan Keluarga, ini menuturkan, tidak hanya menyangkut pekerjaan pastoral dari para Romo/Suster yang membidangi Komisi-komisi Keluarga di masing-masing keuskupan, namun lebih dari itu membangun jejaring bersama para awam yang punya dedikasi bagi gereja dan memiliki kompetensi khas, seperti para dokter, perawat, psikolog, tokoh adat dan masyarakat.

“Setelah sesi Hari Studi dan Sharing Pastoral Keluarga dari masing-masing keuskupan, ini kami akan membangun rencana tindak lanjut yang akan dilaksanakan di masing-masing keuskupan dan meng-goal-kan berbagai rencana seperti Emaus Center yang untuk kami di Larantuka, misalnya disebut dengan Pusat Pastoral Keluarga dengan nama-nama yang khas yang ada di masing-masing keuskupan,” ucap RD Bernard.

Paroki Diharapkan Seriusi Pastoral Keluarga

Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Ruteng, RD Blasius Harmin, menuturkan, untuk keuskupan Ruteng penekanan yang dilakukan pada pasutri paska nikah, sehingga pada hari studi tentang Komunikasi yang Efektif bagi Pasangan Suami-Istri, pihaknya mengundang 7 pasutri dari paroki-paroki dalam Kota Ruteng, 1 pasutri dari paroki Reo, Borong dan sepasang pasutri perwakilan ME dengan harapan bahwa mereka dapat menjadi pendamping-pendamping keluarga yang handal, terutama ikut mendampingi keluarga-keluarga yang sedang bermasalah.

Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Ruteng, RD Blasius Harmin saat berbicara dalam Pertemuan Para Ketua Komisi Keluarga se-regio Nusa Tenggara yang dilaksanakan di Rumah Retret Maria Bunda Karmel Wae Lengkas, Ruteng. Rabu, 6 Agustus 2025. Ia mendorong adgar paroki-paroki di Keuksupan Ruteng ‘menginterupsi’ agar pastoral keluarga semakin diperhatikan secara serius. (Foto : J. CARVALLO/KEUSKUPANRUTENG.ORG)

“Pendampingan keluarga tentu pendampingan keluarga pada umumnya, membangun relasi yang harmonis antara suami-istri, tetapi juga relasi yang harmonis antara orang tua dan anak, termasuk di dalamnya pendidikan anak, pendidikan moral, pendidikan karakter, pendidikan religius bagi anak. Tapi, mengingat banyaknya persoalan atau kasus-kasus perkawinan termasuk perceraian, maka tentu fokusnya adalah pendampingan keluarga yang bermasalah,” ujar RD Blasius.

Ia berharap agar semua paroki dalam keuskupan Ruteng dengan serius memperhatikan pendampingan pasutri paska nikah, sejak dari usia pernikahan 0-10 tahun, 10-25 tahun dan 25-50 tahun dan seterusnya karena keluarga yang utuh, harmonis dan kuat dalam berbagai demensinya juga sangat berkontribusi bagi masa depan gereja dan bangsa-negara. “Itu semua sangat bergantung pada keluarga, bagaimana mereka mendidik anak-anak sebagai generasi masa depan yang diharapkan oleg gereja, bangsa dan negara,” tutur RD Blasius.  

Comments are closed.