Press "Enter" to skip to content

Inspirasi Minggu 15-C: Siapakah Sesamaku?

Oleh : RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng

(13 Juli 25: Luk 10:25-37)

“Mencintai sesama” adalah bahasa sehari-hari kita orang “beriman”. Saking rutinnya diucapkan sehingga menjadi “jargon” : mudah keluar dari mulut dan sekedar menjadi basa-basi sebuah pernyataan religius. Karena itu pertanyaan menukik ahli taurat dalam injil minggu ini kiranya juga menggelitik kita: Siapakah sesamaku?

Jawaban Yesus tidaklah kalah menarik. Secara dramatis Dia melukiskan seseorang yang dirampok dan dianiaya sampai hampir mati, terkapar di pinggir jalan. Lalu datanglah dua tokoh agama hebat. Yang satu seorang imam, pemimpin ibadat. Yang lain orang Lewi, petugas di kenisah. Dari keduanya, yang dekat dengan Allah dan sering berkotbah tentang cinta kasih tentu diharapkan uluran tangan pertolongan yang segera dan gesit. Tapi apa yang terjadi?  

Sangatlah miris menyayat hati, mereka bukannya mendekat malah menghindar. Keduanya hanya menatap korban dari seberang jalan. Rupanya mereka takut bersentuhan dengannya, yang dianggap sudah menjadi mayat. Padahal ini berbahaya karena dianggap “najis” oleh aturan hukum taurat.   

Namun, Allah seperti apakah yang mau dilayani oleh tangan tidak “najis” tetapi dengan “hati batu” yang tak berbelas kasih? Bukankah nabi Yesaya sudah menohok kesalehan palsu pemimpin para pemimpin agama ini, ketika atas nama Allah dia menyemprot pedas demikian: Aku muak akan kurban persembahanmu…, ibadat dan doa-doamu yang alim-alim… Kemenyanmu telah berbau busuk… Hentikan persembahanmu, karena tanganmu berlumur darah, doyan kekerasan, dan bernoda korupsi. Doamu didaraskan indah dengan mulut yang tipu tapu… (bdk Yes 1).

Justru tindakan heroik pertolongan datang dari orang Samaria yang dianggap rendah dan hina oleh orang Yahudi saat itu. Dengan rinci sangat menyentuh, Yesus mengambarkan belas kasihNya: ia menghampiri korban itu, membersihkan dan membalut lukanya, menyiraminya dengan minyak dan anggur, menaikkannya ke keledai tunggangannya dan membawanya ke penginapan. Bahkan dia menjamin pengobatannya lebih lanjut sampai sang korban sembuh. Sungguh sangat luar biasa! Lalu apa pesan Yesus untukku dan untukmu dengan kisah paradoks dan dramatis ini?

“Sesama” sesungguhnya bukan sekedar orang di luar diri saya. Bukan juga orang-orang pada umumnya di sekitarku. Tetapi sesama adalah seseorang. Dia bukan angka, tetapi pribadi yang ingin menjalin relasi denganku. Dia butuh perhatianku. Dia rindu peduliku. Maka bisa jadi dia adalah orang di dekatmu, bahkan paling dekat dalam hidupmu, tapi tanpa engkau sadari : dia tengah terkapar tak berdaya di jalan hidupmu. Sesama ini bisa saja suami atau istri atau anggota keluarga yang kau lukai dengan kata-kata pedismu dan tindakanmu yang menyakitkan. Tanpa kau rasakan, dia kini terkapar menanti uluran kasih penyembuhanmu.

Sesama juga bukan orang yang kebetulan saya jumpai dan lewati dalam perjalanan hidup ini. Melainkan dia adalah orang yang Tuhan tempatkan di jalan hidupku. Sesama adalah korban yang melintang terkapar di jalan hidupmu : orang yang rentan, lemah,  terkulai, terkapar menderita. Sesama adalah korban bencana alam, korban kemiskinan, korban kekerasan, korban ketidakadilan, dan setiap korban miris kemanusiaan.

Yang patut juga disadari : Sesama bukan orang-orang yang saya senangi. Bukan orang yang sesuai dengan seleraku. Tetapi dia muncul sebagai “orang najis” yang menjijikkan dan ingin dihindari olehku dalam hidup ini. Maka bisa saja sesama adalah teman kelasmu, anggota KBG-mu, anggota keluarga besarmu, dan orang sekitarmu yang engkau rasa sangat menyebalkan, sangat memuakkan, yang ingin kau hindari sedapat mungkin. Dia hanya ingin engkau toleh “dari seberang jalan” saja.

Mengakhiri kisahnya yang sangat menyentuh sekaligus menusuk relung kemanusiaan, Yesus bertanya : bukan lagi siapakah sesamamu, tetapi siapakah yang menjadi sesama bagi korban yang terkapar di pinggir jalan itu? Yesus mengubah fokus perhatian! Tidaklah terlalu penting definisi tentang sesama. Tetapi yang paling utama adalah tindakan nyata : bagaimana saya menjadi sesama untuk setiap korban yang terkapar mengenaskan di tengah jalanku. Masa bodoh? Hanya menoleh dari seberang jalan? Hanya perasaan terharu? Atau sampai terlibat menggapai, merangkul dan menyembuhkan dengan belas kasih ilahi? Selamat berhari minggu. Tuhan berbelas kasih padamu. Dia mencintaimu…

Comments are closed.