Press "Enter" to skip to content

INSPIRASI MINGGU 14 C: Berharap dan Bersaksi dalam Kekuatan Allah

Oleh : RD Martin Chen | Direktur Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Ruteng

(6 Juli 2025:Yes 66:10-14c; Luk 10:1-12.18-20)

Narasi pengharapan Israel dirajut oleh nabi Yesaya begitu indah dalam teks ini dengan sentuhan sangat insani dan ekologis. Dalam situasi sangat sulit mencekam pembuangan Babel, Israel janganlah berputus asa. Karena ia selalu boleh bersandar pada kasih setia Allah yang akan mengubah segalanya : dari derita menjadi sukacita. Dengan simbol seorang ibu, Yerusalem dilukiskan seperti seorang mama yang akan memangku manja anak yang disusuinya, yang dibelai lembut dan digendongnya dengan riang. Begitu pula dalam nuansa ekologis, Israel digambarkan seperti “sungai” yang akan mengalirkan keselamatan berlimpah-limpah dan ibarat “rumput muda” yang tumbuh dengan lebat (Yes 66).

Kiranya kuncup segar pengharapan Yesaya ini bertumbuh mekar pula dalam dirimu dan diriku di tengah aneka tantangan yang meletihkan dan kesulitan yang membalut hidup ini. Lebihnya menjadi orang beriman terletak dalam hal ini : Bukan dia bebas dari kesusahan tetapi dia tak pernah menderita sendirian. Dia selalu boleh bergayut pada kekuatan penghiburan ilahi. Bukan pula bahwa dia tak pernah kecewa dan gagal sendirian; Tetapi dia senantiasa boleh menenun mosaik pengharapan bersama DIA, Tuhan yang setia menuntun ziarah hidupnya.

Gelora pengharapan ini pulalah yang dihidupkan oleh Yesus dalam diri murid-murid-Nya yang diutus berdua-dua (Luk 10). Ada 70 orang yang diutus: sebuah simbol pengharapan yang kukuh bahwa misi ini tak akan sia sia. 7×10 : 7 adalah angka sempurna yang dikalikan dengan angka 10 lambang keutuhan. Artinya perutusan ini diresapi pengharapan yang berkobar-kobar dan akan berbuah karena dijamin oleh kuasa Yesus sendiri. Justru karena itu para murid tak perlu mengandalkan kekuatan duniawi. Tak usah membawa “pundi-pundi (duit), atau bekal atau kasut”. Mereka tak perlu pesona pencitraan : penerimaan dan sanjungan orang. Bila ditolak pun tak apa apa. Mereka hidup seadanya dan ugahari dalam pelayanan : tinggal di rumah dan makan yang diberikan orang. Mereka bebas dari kemapanan dan keterikatan: kibaskan debumu dari kota yang engkau masuki.

Sungguh sebuah inspirasi injil yang memukau sekaligus menohok perih diriku : Sejauh mana hidup imamatku sungguh terpikat dan terpukau oleh cinta Allah dan tidak terbuai oleh kenikmatan duniawi yang semu? Sejauh mana sebagai suami-istri, orang berjuang menghidupi damai dan pengampunan Allah serta berjuang lepas dari egoismenya : mendengar dan menerima pasangan apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dengan semua pahit manis hidupnya? Sejauh mana sebagai remaja dan orang muda, saya mencari kesenangan hidup yang sejati pada Allah dan dalam berbelarasa dengan sesama, dan bukannya terbius dalam pencitraan medsos yang semu dan terjebak dalam kenikmatan foya-foya duniawi?

Sepulang dari perutusannya, para murid  dengan gembira menceritakan kehebatannya, “sampai roh-roh pun taat kepada mereka”. Namun Sang Guru menjawab, “bergembiralah karena namamu tercatat di Surga” (Luk 10:20). Bukan karena kehebatan diri dan kemuliaan duniawi, tetapi Yesus mengajakku untuk selalu mencari dan merasakan sukacita sejati yang dihadiahkan Allah. Selamat berhari minggu. Tuhan memberkatimu…

Comments are closed.