Primus Dorimulu April 20, 2019

Dialog Pilatus-Yesus-orang Yahudi memberikan banyak pesan moral. Intrik politik yang terjadi sepanjang masa di berbagai belahan bumi acap menggunakan sentimen agama.

Para pemimpin agama Yahudi yang terancam oleh reformasi yang digulirkan Yesus berusaha membunuh-Nya dengan berbagai cara. Dalam menghadapi umat, para imam menggunakan sentimen agama. Sedang untuk meluluhkan Pilatus, para pemimpin agama menggunakan isu makar.

Pilatus yang terjepit namun tetap ingin berkuasa akhirnya “mencuci tangan” sebagai ungkapan tidak ikut bertanggung jawab atas kematian Yesus. Dialog antara Pilatus dan orang Yahudi merupakan ajang adu-cerdas dan adi-lihai.

Yesus lahir dan wafat pada masa Kerajaan Galilea berada di bawah penjajahan Romawi. Pilatus adalah gubernur Galilea yang diangkat Kaiser Romawi.

Simaklah dialognya.

Dari Istana Imam Agung Kayafas, Yesus dibawa ke pengadilan untuk menemui Pilatus, gubernur Galilea.

Apa tuduhanmu terhadap orang ini? Tanya Pilatus. “Jika bukan penjahat, kami tidak menyerahkan Dia kepadamu,” kata orang Yahudi.

“Oh, ambillah Dia dan adililah Dia menurut hukum Tauratmu,” kata Pilatus.

“Kami tidak boleh membunuh seseorang,” jawab orang Yahudi.

Dalam kebingungan, Pilatus menghampiri Yesus dan bertanya, “Apakah Engkau raja orang Yahudi?”

Yesus menjawab, “Dari hatimu sendirikah atau ada orang lain yang mengatakan kepadamu tentang Aku.”

“Aku bukan orang Yahudi. Bangsamu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku. Apa sesungguhnya yang sudah Engkau perbuat?” Tanya Pilatus.

Jawab Yesus, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini.”

“Jadi, Engkau adalah raja?” Tanya Pilatus.

“Seperti yang engkau katakan. Aku adalah Raja. Untuk itulah Aku datang dan lahir ke dunia ini untuk memberikan kesaksian tentang kebenaran. Setiap orang yang berasal dari kebenaran, mendengarkan suara-Ku,” jawab Yesus.

Pilatus menimpali, “Apakah kebenaran itu?”

Pilatus makin bingung. Orang Yahudi mengharapkan ia menghukum Yesus, bahkan memberikan hukuman mati.

Pilatus tidak kehilangan akal dan dengan lantang ia berkata, “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya. Tapi, di tradisimu ada kebiasaan membebaskan seseorang pada hari Paskah. Maukah kamu supaya saya bebaskan raja orang Yahudi bagimu?”

Orang Yahudi tetap menghendaki Yesus dibunuh. Mereka meminta Pilatus membebaskan Barabas, seorang penjahat kakap pada masa itu.

Pilatus yang bingung mengajak Yesus keluar dari ruangan dan duduk menghadap khalayak Yahudi di teras pengadilan. Dari kerumunan massa, para imam dan ahli Taurat terus menghasut masyarakat untuk berteriak “Salibkan Yesus!”

Untuk kesekian kali, Pilatus berkata, “Aku tidak menemukan kesalahan apa pun pada-Nya. Ambil saja sendiri dan salibkan Dia.”

“Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu, Ia harus mati. Sebab, Ia menganggap diri-Nya Allah,” ujar orang Yahudi.

Pilatus bertambah gusar dan bergegas masuk ke ruang pengadilan untuk menemui Yesus. “Dari mana asal-Mu?” Tanya Pilatus.

Yesus tidak menjawab sepatah kata pun. “Tidakkah Engkau tahu bahwa aku mempunyai kuasa untuk membebaskan-Mu?” Tanya Pilatus.

“Engkau tidak mempunyai kuasa apa pun terhadap Aku jika kuasa itu tidak diberikan dari atas. …” jawab Yesus.

Pilatus yang sangat yakin Yesus tidak bersalah berusaha untuk membebaskan-Nya. Ia pun keluar ruangan untuk menyampaikan pandangannya kepada orang Yahudi.

Tapi, sebelum ia bicara, orang Yahudi serempak berkata, “Jika engkau membebaskan Dia, Engkau bukanlah sahabat Kaiser. Setiap orang yang menamakan diri raja, melawan kaiser.”

Pilatus dikunci oleh orang Yahudi. Yesus tidak hanya dituduh menghujat Allah dan penjahat kakap, melainkan seseorang yang berbahaya yang hendak melakukan tindakan makar. Yesus hendak melakukan pemberontakan.

Jika Pilatus tidak menghukum Yesus, dia dituduh ikut makar atau paling tidak mendukung aksi makar. Tindakan itu bukan tindakan sahabat kaiser, melainkan tindakan pihak yang hendak menjatuhkan kaiser. Sedang Pilatus adalah gubernur yang ditunjuk oleh kaiser. Mana mungkin Pilatus melawan kaiser?

Pilatus pun keluar dari ruang pengadilan dan duduk di kursi pengadilan di teras depan, yang disebut Gabata. Yesus juga berada di teras depan.

Sambil menunjuk Yesus, Pilatus berkata kepada orang Yahudi, “Inilah rajamu.”

Dengan mengatakan demikian, Pilatus berharap orang Yahudi luluh. Tapi, massa terus berteriak, “Salibkan Dia!”

“Haruskah aku menyalibkan rajamu?” Tanya Pilatus.

Para imam kepala menjawab, “Kami tidak mempunyai raja selain kaiser.”

Pilatus mati langkah. Orang Yahudi yang tidak suka dijajah Romawi dan bangsa mana pun berpura-pura mengaku kaiser Romawi sebagai raja mereka asalkan Yesus dibunuh. Bagi para pemimpin agama Yahudi, Yesus lebih berbahaya bagi eksistensi dan privilege mereka.

Selama tiga tahun melakukan pewartaan, Yesus dinilai menggerus kewibawaan para pemimpin agama Yahudi. Dibandingkan penjajahan Romawi, Yesus jauh lebih berbahaya karena langsung merongrong kewibawaan mereka sebagai pemimpin agama.

Sedang pemerintahan Romawi memberikan keistimewaan kepada para pemimpin agama. Tidak mengganggu mereka selama para pemimpin agama tidak menghasut rakyat untuk melawan. Pembayaran pajak lancar.

Pilatus akhirnya menyerahkan Yesus untuk disalibkan. Untuk menunjukkan kepada publik ia tidak ikut bertanggung jawab, Pilatus mengambil air dan membasuh tangannya.

“Saya tidak bertanggung jawab terhadap darah-Nya,” kata Pilatus.

Serempak orang Yahudi menjawab, “Biarkan darah-Nya jatuh di atas kami dan anak-anak kami.” Sejarah mencatat, Yesus dianiayai dan dihukum mati di kayu salib.

Ibarat domba tanpa mengembik menuju tempat pembantaian, Yesus memanggul salib menuju Golgota.

Bagi umat yang percaya, kematian Yesus adalah pemenuhan ramalan para nabi. “Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita. Dia diremukkan oleh karena kejahatan kita dan oleh bilur-bilur-Nya, kita disembuhkan.”

Selamat merayakan Jumat Agung.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*