Komsos Ruteng March 20, 2019

Karya pelayanan atau diakonia Gereja menghadapi konteks kehidupan masyarakat manggarai yang rumit dan menantang. Di antaranya, kehadiran banyak aktor dengan kepentingan mereka masing-masing dan krisis yang melilit kehidupan masyarakat dalam berbagai aspek. Dan dalam ruang kehidupan sosial itu, Gereja hadir dan mau menjadikan diri sebagai semacam sahabat atau teman seperjalanan bagi masyarakat Manggarai.

Rm Max Regus Pr membahas hal-hal itu dalam sesi “Konteks Sosial Manggarai Raya bagi Diakonia Gereja” pada pelatihan kepemimpinan bagi para utusan paroki di Pusat Pastoral Keuskupan ruteng, Jumat (15/03/2019). Ia mengangkat tiga isu penting yang perlu di perhatikan oleh para agen pastoral dalam mengelola program pelayanan atau diakonia, yaitu kontestasi hegemonik, anomie sebagai krisis, dan kontinuitas.

Isu kontestasi hegemonik menurut pengajar STKIP St. Paulus Ruteng itu, yaitu terkait kesadaran akan Manggarai Raya sebagai ruang sosial yang tidak kosong, tidak netral, tetapi dipenuhi oleh banyak para aktor hadir dan bergerak dengan kepentingan mereka masing-masing. Dan dalam ruang kehidupan sosial itu, kehadiran Gereja melalui gerakan-gerakan yang menjadi bagian dari Sinode III, mau menjadikan diri sebagai semacam sahabat atau teman seperjalanan bagi masyarakat Manggarai.

“Itu salah satu tantangan bagi kita untuk merumuskan kembali kehadiran Gereja. Salah satunya dalam diakonia yang bisa kita katakan sebagai satu mekanisme tanggapan tetapi juga sebagai alat bagi Gereja untuk menegaskan pilihan-pilihan tindakan pastoral yang benar-benar sesuai dengan pola-pola perubahan sosial yang sedang terjadi,” kata Rm Max.

Isu lain yang perlu diwaspadai dan mendapat perhatian, lanjut Rm Max Regus Pr, yaitu krisis. Manggarai Raya menjadi bagian dari cerita krisis yang terjadi di berbagai level, mulai dari konteks lokal, nasional, hingga level dunia. Bentuknya juga banyak seperti kekerasan, konflik, dan permusuhan. Krisis terjadi bahkan di negara atau komunitas yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya bisa terjadi, seperti aksis teror yang baru saja terjadi di Selandia Baru yang menewaskan puluhan orang.

Kerentanan dan gejala keterasingan menurut Rm Max Regus merupakan dua bentuk krisis yang paling krusial dewasa ini.Kerentanan, yaitu keadaan mudahnya suatu komunitas sosial mengalami goncangan dan keruntuhan, dan itu terjadi baik dalam ruang sosial maupun ekologis, politis, budaya, dan seterusnya.

Disebutnya, bencana longsor dan banjir di wilayah Manggarai Barat merupakan contoh kerentanan yang berujung pada kerusakan ekologis. Dan kalau ditelusuri lebih jauh, krisis ekologis itu terkait pula dengan krisis pada bidang lain seperti sosial dan politik.

“Kehancuran itu bisa dikatakan sebagai puncak gunung es. Krisis ini terkait satu sama lain, satu rangkaian. Jadi Manggarai Raya ini dalam dirinya sedang menanggung apa yang kita katakan kerentanan ekologis, politik, sosial.”

Sementara gejala keterasingan disebut oleh Emile Durcheim sebagai situasi anomie. Anomie merupakan situasi ketika orang mengalami keterasingan dari diri sendiri, keluarga, komunitas, nilai-nilai bersama, budaya, termasuk Gereja. Amonie, jelas Rm Max Regus mengutip Emile Durckheim, dapat menyebabkan orang menemukan rencana untuk bunuh diri. Masyarakat cenderung melakukan tindakan bunuh diri kalau tingkat anomie tinggi.

“Anomie atau keterasingan itu bukan hanya pengalaman orang per orang, personal, tetapi juga bisa menjadi pengalaman keluarga, komunitas sosial, bahkan juga pengalaman ekologis. Alam menjadi terasing dari kita karena pendekatan pembangunan yang kerakusan yang luar biasa. Alam lalu menghancurkan diri,” jelas Rm Max Regus.

Diakonia dan isu Kontinuitas dalam menjawab Tantangan

Lebih lanjut, Rm Max Regus menjelaskan, Diakonia dapat dianggap sebagai bagian dari mekanisme dan terobosan yang dibangun dan diperkenalkan Gereja dalam menjawab sejumlah tantangan yang muncul dari arus krisis dan kontestasi. Akan tetapi keberhasilan aneka karya pelayanan itu sangat bergantung pada tindakan dan tanggapan individu dan kolektif para agen pastoral dan umat.

Selain kolaborasi positif dalam jejaring sosial, menurut dia, kontinuitas karya menjadi energi yang mendorong perubahan sosial ke arah yang lebih baik itu dapat lebih cepat terwujud.

“Ada energi kreatif yang tersedia dalam mendukung usaha manusia. Energi tersebut akan berlipat ganda ketika diekspresikan melalui berbagai kolaborasi positif dan konstruktif. Fokus utama kita sekarang harus pada pertumbuhan dan pengembangan investasi yang berkelanjutan, kapasitas akal kita untuk memajukan batas kita dan mematahkan paradigma lama yang membatasi kita,” Jelas Rm Max Regus.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*