Fr Albertus Dino OFM February 6, 2019

Semangat misioner menggema dalam diri ana-anak dan remaja pedesaan di Stasi Lumut, Paroki St. Fransiskus Assisi, Tentang, Keuskupan Ruteng, Manggarai Barat, Flores NTT. Semangat itulah yang mendorong pastor paroki untuk membentuk dan meresmikan Sekami stasi Lumut.

Pater Wolfhlemus Apriano OFM sebagai pastor rekan Paroki St. Fransiskus Assisi hadir meresmikan dan melantik Sekami di stasi Lumut pada Selasa (5/2/2019). Jumlah anak-anak yang menjadi Sekami itu mencapai 40-an.

Dalam misa peresmian tersebut, anak-anak mengungkapkan janji setia mereka sebagai Sekami di depan altar Tuhan dan disaksikan oleh pastor dan semua umat yang hadir. Mereka mau menjadikan Yesus Kristus sebagai sahabat mereka, sahabat sejati dalam semangat misioner.

“Kami berjanji menjadi sahabat-Mu yang setia, rajin berdoa, membaca Alkitab, rela berkurban dan semoga Engkau memampukan kami untuk melawan godaan. Tuhan Yesus, pemberi semangat misioner semangatilah dan tegukanlah kami untuk meneruskan misi-Mu di tengah zaman yang terus berubah-ubah dan penuh tantangan ini,” ungkap mereka dengan lantang.

Setelah mengungkapkan janji setia mereka sebagai Sekami, Pater Wolf kemudian meresmikannya. Dalam homilinya, pastor yang sering dipanggil pater Wolf ini, menjelaskan tugas mereka sebagai Sekami.

“Sekami adalah Serikat Kepausan Anak Misioner. Kalian adalah perpanjangan tangan dari Paus. Kalau berbicara tentang misi berarti mewartakan Tuhan, mewartakan iman kita, mewartakan cinta kasih. Karena itu tugas kamu adalah mewartakan iman, mewartakan cinta kasih. Tugas tersebut mulai dari dari rumah, keluarga, lalu di sekolah dan kemudian di masyarakat,” tegas Pastor kelahiran Pagal, Manggarai ini.

Lebih lanjut pater Wolf menguraikan makna pesan Yesus, yakni menjadi garam dan terang dunia.

“Kalau Yesus katakan tadi kita menjadi garam dan terang. Karena itu, mulailah pertama-tama menggarami dan menerangi diri sendiri, menggarami dan menerangi keluarga, lalu kemudian keluar mewartakan,” ungkapnya lagi.

“Jadi, hari ini kalian berikrar berarti kalian bersumpah. Sumpah itu harus ditepati. Janji kepada Tuhan. Seperti kami, para imam, biarawan/i mengucapkan kaul kemurniaan, ketaatan dan kemiskinan. Kami tidak bisa berkeluarga karena kami sudah berjanji kepada Tuhan sehingga kami harus setia sampai mati, hidup dalam kemiskinan, ketaatan dan kemurniaan. Demikian juga kalian. Kalau hari ini kalian berikrar maka jalankan ikrar itu, laksanakan janji itu. Jangan hanya sebatas berikrar di gereja ini,” tegas pastor kelahiran tahun 1989 ini.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*