Fr Albertus Dino OFM February 5, 2019

“Dalam tahun 2019 ini, gereja keuskupan Ruteng mencanangkan tahun pelayanan (diakonia). Melalui perhatian pastoral ini, kita mau menyadari pentingnya pelayanan dalam hidup gereja. selain itu, kita ingin mengisi tahunpelayanan ini dengan memberi perhatian kepada sesama yang lapar, kesulitan dan menderita. Kita hendaknya berpartisipasi dalam program pastoral pelayanan ini baik secara pribadi maupun dalam keluarga, lembaga dan komunitas, stasi, paroki, kevikepan dan keuskupan. Kita melayani bukan hanya terdorong oleh situasi manusiawi orang berkesulitan dan kesusahan tetapi pelayanan merupakan bagian yang melekat dalam kehidupan menggereja.”

Demikian ungkapan Pastor paroki St. Fransiskus Assisi, Pater Bartholomeus Didit T. Haryadi OFM, dalam misa pembukaan tahun pelayanan (diakonia) keuskupan Ruteng di Gereja St. Fransiskus Assisi Tentang, Manggarai Barat (3/2/2019).

Murid-murid Kristus, katanya lebih lanjut, dipanggil dan diutus oleh sang guru ilahi untuk melayani, yaitu saling membasuh kaki satu sama lain. Demikian juga ketika orang banyak berkumpul mendengar Yesus. Mereka mengalami kelaparan.

Yesus memerintahkan murid-murid-Nya, “kamu harus memberi mereka makan.” Oleh karena itu panggilan untuk melayani orang miskin dan menderita merupakan kewajiban iman kita sebagai orang kristiani.

Karena dasar pelayanan Gereja adalah teladan dan perutusan Yesus sendiri untuk memberi makan orang yang lapar, menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat, membebaskan orang tertawan dan tertindas serta mewartakan kabar baik bagi kaum miskin.

Melalui teladan pelayanan ini, Yesus menunjukkan secara radikal pada peristiwa pembasuhan kaki. Meskipun sebagai Tuhan dan guru, Yesus justru mengambil posisi rendah dan melakukan tindakan seorang hamba.

Pastor kelahiran Jawa ini juga mengajak umatnya untuk turut mengambil bagian secara aktif dalam seluruh program tahun pelayanan tersebut. Dalam tahun pelayanan ini, demikian katanya, kita mendapatkan kesempatan berharga untuk meningkatkan semangat dan perjuangan kita mengikuti jejak Yesus, untuk melayani dan berbagi dengan orang miskin dan berkekurangan. Untuk itu, terdapat berbagai kegiatan pastoral dalam tingkat KBG, Stasi, dan juga paroki, misalnya mengumpulkan beras dan jagung 1 Kg perbulan untuk membantu orang-orang yang berkekurangan yang ada di sekitar kita, seperti anak yatim piatu, jompo atau lanjut usia.

“Kita mesti turut terlibat dalam gerakan bersama untuk mengembangkan pertanian organik dan mengurangi ketergantungan kepada penggunaan prodak-prodak kimiawi. Kita juga perlu mengupayakan kebersihan lingkungan, pnghijauan demi terwujudnya lingkungan sehat bagi kita semua,” tegasnya lagi.

Dalam perayaan ekaristi itu, Pastor paroki yang didampingi pastor rekannya, Pater Wolfhelmus Apriano OFM dan diakon Andi Pr saling membasuh kaki. Setelah itu mereka bertiga membasuh kaki umat yang diwakili oleh tokoh masyarakat, biarawan dan biarawati. Tindakan tersebut menjadi tanda dari perwujudan makna tahun pelayaan.

Misa tersebut dimeriahkan dengan koor dari Ikatan Mahasiswa Pelajar Manggarai (IMPELMA) Ende, yang sedang mengadakan kunjungan di Desa Tentang.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*