Komsos Ruteng January 26, 2019

Dalam rangka membangun kesadaran ekologis bagi kalangan orang muda di wilayah lingkar tambang, Komisi JPIC Keuskupan Ruteng menyelenggarakan seminar sehari bagi orang-orang muda lintas agama di Aula TK Persatuan, Paroki Reo, Sabtu (26/01/2019).

Seminar menghadirkan empat narasumber yang menyoroti isu lingkungan dari sudut pandang berbeda. Rm. Louis Jawa Pr berbicara tentang spiritualitas lingkungan hidup. Menyusul Rm Max Regus Pr yang berbicara tentang Social Movement terkait upaya menjaga keutuhan lingkungan ciptaan, Rm Ino Sutam yang mengulas peran tokoh adat dalam menjaga keutuhan, dan Rm Marten Jenarut yang membedah izin lingkungan sebagai sebuah konstruksi hukum.

Peserta seminar: orang-orang muda utusan dari Remaja Masjid, Orang Muda GMIT, dan OMK Paroki Reo

Ketua JPIC Keuskupan Ruteng Rm Marten Jenarut Pr menjelaskan, kerusakan alam akibat pertambangan merupakan persoalan bagi semua orang dan lintas agama. Oleh karena itu, seminar sebagai bagian dari pendampingan bagi masyarakat lingkar tambang menghadirkan peserta orang-orang muda lintas agama.

“Pesertanya 40 orang. Terdiri atas utusan Remaja Masjid, Orang Muda GMIT, dan OMK Paroki Reo. Tujuannya, memberi pemahaman tentang hubungan yang erat antara manusia dan lingkungan. Juga membangun kesadaran dan tanggung jawab untuk menjaga lingkungan hidup serta memahami hak-hak dasar yang diberikan undang-undang kepada masyarakat,” tulis Rm Marten dalam pesan singkatnya kepada media ini.

Untuk diketahui, kerusakan alam akibat pertambangan merupakan salah satu isu yang mendapat perhatian utama dalam karya pastoral Gereja Keuskupan Ruteng beberapa tahun terakhir. Berbagai diskusi pada Sinode III Keuskupan Ruteng (2013 – 2015) bermuara pada simpulan, aktivitas pertambangan mengancam kelestarian alam dan keutuhan ciptaan. Oleh karena itu, Sinode III Keuskupan Ruteng merekomendasikan komisi terkait, antara lain komisi JPIC Keuskupan, untuk secara aktif melakukan pendampingan pastoral bagi masyarakat di sekitar wilayah pertambangan yang disebut “masyarakat lingkar tambang”.

Terkait itu, Komisi JPIC Keuskupan melakukan berbagai kegiatan dalam rangka membangun kesadaran ekologis bagi masyarakat lingkar tambang. Selain orang-orang muda, upaya ini juga menyasar keluarga, orang-orang tua dan tokoh masyarakat.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*