Fr Albertus Dino OFM January 17, 2019

SMPK Ndoso memasuki usia yang ke-48 sejak berdirinya pada 15 Januari 1971. Perayaan hari ulang tahun kali ini mengangkat tema “Mencintai Keberagaman Budaya Manggarai.” Peryaan diawali dengan Ekaristi yang dipimpin oleh Pater Wolfhelmus Apriano OFM, lalu kemudian dilanjutkan dengan resepsi bersama di aula paroki Fransiskus Assisi, Tentang, Manggarai Barat, (15/01/2019).

Dalam sambutannya, Kepala SMPK Ndoso, Bruder Yohanes Baptista Rahmat Simamora OFM S. Pd menguraikan tema yang dipilih pada perayaan HUT kali ini. Tema tersebut diangkat dengan maksud supaya siswa-siswi tidak melupakan budaya mereka sendiri.

“Secara sepakat kami mengambil tema, seperti yang telah kita renungkan dalam perayaan ekaristi bahwa kita mau mencintai keberagaman budaya Manggarai, budaya kita. Tema ini dipilih, salah satu alasan adalah menjadi prioritas pertama karya pelayanan kami, para Fransiskan di wilayah Indonesia. Bagaimana kita membangun kehidupan kita, berdialog dengan budaya setempat, budaya lokal, budaya Manggarai. Oleh karena itu, saya kira tidak salah ketika tema ini diambil untuk kita rayakan dalam pesta Dies Natalis sekolah kita. Harapanya supaya kita semua, khususnya anak-anak, sisiwa-siswi yang baru tamat SD, menginjakkan masa belajar di bangku SMP dan selepas tamat SMPK Ndoso ini tetap dan selalu mencintai budaya.” Ungkap Kepala SMPK Ndoso ini.

Hadir juga dalam perayaan ini, Bapak Camat Kecamatan Ndoso, Fransiskus Tote, pastor rekan paroki St. Fransiskus Assisi Tentang, tokoh masyarakat, para guru dan semua siswa-siswi SMPK Ndoso.

“40 tahun, ini usia sudah berada pada tingkat kematangan dan kematangannya tidak perlu dipertanyakan. Siapapun kita yang ingin bertanya tentang lembaga pendidikan ini, yang jelas dengan sendirinya akan terjawab di mana-mana,” Ungkap Camat Kecamatan Ndoso dalam sambutannya.

Mencintai keberadaan budaya manggarai tidak kita pungkiri, katanya lebih lanjut, bahwa Pancasila yang telah digali sudah kita terima. Pancasila itu lahir dari budaya dimana kita lahir, di mana kita dididik, kata bapak camat.

“Sesuai dengan program pemerintah kabupaten Manggarai Barat bahwa kabupaten Manggarai Barat selaku kota pariwisata, maka diharapkan akan tertuang dalam regulasi supaya di sekolah-sekolah terutama lembaga pendidikan SD dan SMP diprogramkan tentang seni dan budaya. Sehingga tidak hanya mencintai keberagaman tetapi dia juga harus tahu bagaimana cara mencintai kebudayaan itu.” ungkapnya lagi.

Selain itu juga, Bapak Martinus Obes dalam sambutannya menceritakan sedikit lika-liku perjalanan SMPK Ndoso. Awalnya SMP ini didirikan atas kerinduan Masyarakat di wilayah Ndoso. kerinduan itu didengar oleh pater Florianus Laot OFM sehingga pater Flori mengundang tokoh adat di wilayah Ndoso untuk berjuang bersama mendirikan SMP ini. Dalam perjalanan waktu timbul persoalan, ada yang menginginkan SMP ini ditutup dan sebagiannya lagi tetap berjuang untuk mempertahankannya.

“Kok dengan susah payah kita membangun SMP ini. Tiba-tiba ada suara yang mengatakan cukup. Lalu kami panggil pater Flori. Pater, kami minta dengan hormat kalau boleh SMP ini di bawah afiliasi Ordo Fransiskan. Kasihan nanti masyarakat Ndoso, belum semua terangkat martabatnya. Sejak saat itu, sudah mulai tumbuh pemahaman-pemahaman tentang betapa pentingnya nilai-nilai pendidikan,” kata Bapak Martinus.

“Kalau lembaga ini ditutup berarti orang Ndoso, SMP-nya kembali lagi ke Ruteng. Tidak ada pilihan lagi, harus pikul beras, pikul jagung, semuanya pikul sendiri karena pada waktu itu belum ada kendaraan. Akhirnya pater Flori minta supaya dia ke Jakarta dulu untuk menyampaikan hal tersebut kepada Provinsial. Waktu itu, provinsialnya masih uskup emeritus, Uskup Mikhael Angkur OFM. Apa jawaban mereka, coba saja kita terima. Nah, sejak itu, kami semua, utusan-utusan dari wilayah Ndoso ini menandatangani penyerahan yayasan kepada Fransiskan,” Ungkapnya lagi.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*