Komsos Ruteng January 13, 2019

PENDAHULUAN

1. Gereja hadir untuk melayani, sebagaimana Kristus yang datang “bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani” (Mrk 10:45). Berpangkal pada kesadaran akan hakikat dan perutusan diakonia Gereja ini, kami sejumlah 310 orang, terdiri atas Administrator Apostolik, imam, biarawan/wati, utusan Dewan Pastoral Paroki (DPP), bersidang di Wisma Efata Ruteng tanggal 7—11 Januari 2019. Dalam tahun keempat implementasi Sinode III ini, dalam semangat persaudaraan dan cinta kasih, kami merefleksikan tema pelayanan: “Kamu pun wajib saling membasuh kakimu” (Yoh 13:14) dengan pola proses: melihat, menilai, dan memutuskan (3M, MM 236).

2. Tema Pelayanan yang direfleksikan bersama dalam sidang pastoral tahunan ini, berkaitan erat dengan tema-tema tahun sebelumnya, terutama dengan tahun persekutuan 2018. Sebab ketika perbuatan kasih Allah yang cuma-cuma diwujudkan dan dibagikan satu sama lain, di sana terwujud persekutuan atau Gereja Yesus Kristus. Persekutuan (koinonia) Gereja dan pelayanan kasih (diakonia) saling mengandaikan satu sama lain.

3. Demikian pula tahun pelayanan (diakonia) ini berkaitan pula dengan tahun pewartaan sabda 2017. Sabda Allah bertumbuh dalam pelayanan. Iman tanpa perbuatan adalah mati (bdk. Yak 2:17). Iman akan Sang Sabda terwujud dalam pelayanan kasih terhadap manusia.

4. Begitu pula tahun pelayanan (diakonia) ini berhubungan erat dengan tahun liturgi 2016. Perjumpaan dengan Allah yang dirayakan dalam liturgi mengalir ke dalam pelayanan kasih sehari-hari. Ibadat mesti terwujud dalam tindakan keadilan, kebenaran, dan kesejahteraan (bdk. Yes 1:10—20). Sebaliknya seluruh aktivitas diakonia berpuncak dalam persembahan diri kepada Allah dalam liturgi.

5. Hanya dalam kesatuan integral pelbagai dimensi tersebut, terwujudlah Gereja Yesus Kristus yang sejati. Gereja sekaligus merupakan “persekutuan sabda”, “persekutuan ibadat”, dan “persekutuan cinta” (bdk. Kardinal Karl Lehman).

EVALUASI TAHUN PERSEKUTUAN

6. Sebelum menjalankan Tahun Pelayanan 2019, kami mengadakan proses pembelajaran bersama melalui evaluasi program dan kegiatan dalam Tahun Persekutuan 2018: “Mereka sehati dan sejiwa” (Kis 4:32). Kami telah berupaya melaksanakan berbagai program dan gerakan pastoral yang mendorong agar persekutuan umat Allah Keuskupan Ruteng semakin teguh dan bersolider. Pastoral Tahun Persekutuan itu terfokus pertama-tama pada pemberdayaan dan penguatan Komunitas Basis Gerejawi (KBG) melalui pendataan, penamaan religius, restrukturisasi, pembaruan kepemimpinan, pelatihan kepemimpinan, sosialisasi sistem dan tata kelola, dan penyusunan agenda tahunan KBG. Selain itu persekutuan umat digalang dan dikuatkan melalui pastoral kategorial usia, seperti pembentukan dan penguatan komunitas Sekami, OMK, dan kelompok lansia; kegiatan camping rohani dan dialog lintas agama OMK; dan jambore Sekami. Terdapat pula program pembentukan/penguatan komunitas rohani dan profesi serta komunitas sosial seperti kelompok keluarga migran, difabel, dan korban tambang.

7. Hasil evaluasi memperlihatkan bahwa semua paroki terlibat dalam mengimplementasikan program dan gerakan Tahun Persekutuan 2018 itu. Meskipun terdapat dinamika dalam pelaksanaan baik secara kuantitatif maupun kualitatif, kami bersyukur atas berkembangnya semangat dan komitmen dalam diri gembala dan umat untuk membangun Gereja Keuskupan Ruteng yang semakin “sehati dan sejiwa”. Hal ini terlihat melalui perkembangan Komunitas Basis Gerejawi (KBG) secara struktural, manajerial, finansial, personal, sosial, dan spiritual. Komunitas Sekami dan OMK juga bergerak semakin maju dan satu. Terasa pula geliat dalam kelompok rohani dan profesi serta komunitas sosial.

HAKIKAT, BENTUK, DAN TUJUAN DIAKONIA

8. Diakonia merupakan perutusan Gereja untuk melayani sesama dan alam ciptaan. Gereja tidak hidup untuk dirinya sendiri melainkan untuk menghadirkan Kerajaan Allah ke tengah dunia. Hal itu terwujud melalui panca tugas Gereja: karya pewartaan (kerygma), pengudusan (liturgia), persekutuan (koinonia), kesaksian (martyria), dan pelayanan (diakonia) yang bersumber pada tritugas Kristus (Imam, Nabi, dan Raja). Melalui pelayanan (diakonia), Gereja turut mengambil bagian dalam kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan dunia (GS 1) guna membawa kabar baik tentang Kerajaan Allah kepada semua orang. Kekhasan diakonia adalah menghadirkan Kerajaan Allah itu dalam kerja-kerja konkret di bidang ekonomi, politik, hukum, pendidikan, kebudayaan, termasuk teknologi dan dunia komunikasi sosial.

9. Diakonia–lebih dari sekadar fungsi dalam kehidupan Gereja–mengungkapkan identitas Gereja yang sesungguhnya. Pelayanan kasih Gereja bukanlah sekadar sebuah bentuk karya kesejahteraan, tetapi merupakan hakikat Gereja itu sendiri, ungkapan dasariah jati dirinya (DCE 25). Dalam pelayanan dan dalam saling mengasihi, terungkap wajah Gereja yang sejati, murid-murid Kristus (bdk. Yoh 13:35).

10. Diakonia tampil dalam aneka model atau bentuk. Pertama, diakonia karitatif, yang adalah tindakan langsung menolong orang yang miskin dan menderita seperti memberi makan kepada orang lapar, mengunjungi yang sakit dan memberi pertolongan bagi orang yang bersusah. Model ini merujuk pada perbuatan belas kasih yang bersifat kedermawanan atau pemberian secara sukarela. Kedua, diakonia reformatif, yang menekankan pemberdayaan, pengembangan dan penguatan orang miskin dan sengsara sehingga mandiri untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Pendekatannya berupa community development seperti pembangunan pusat kesehatan, pendidikan dan pelatihan, koperasi kredit, pemberdayaan kelompok tani, kelompok migran, dan kelompok difabel. Dalam hal ini orang “tidak hanya diberi ikan tetapi juga kail untuk menangkap ikan”. Ketiga, diakonia transformatif, yang terungkap dalam tindakan untuk melayani umat manusia secara multi-dimensional (roh, jiwa dan tubuh) dan multi-sektoral (ekonomi, politik, kultural, pendidikan, dan hukum). Diakonia ini bukan terutama melayani orang per orang melainkan pelayanan secara komunal untuk mengubah sistem dan struktur yang tidak adil dan menindas dalam masyarakat menuju kehidupan sosial yang manusiawi dan bermartabat.

11. Diakonia Gereja memiliki berbagai tujuan. Secara biblis, pelayanan Gereja ingin melanjutkan pelayanan Yesus, Sang Tuhan dan Guru (bdk.Yoh 13:14—15). Kita adalah tubuh Kristus yang mengekspresikan pelayanan kasih-Nya kepada manusia dewasa ini (bdk. Rom 12:4—5; 1Kor 12:12—31). Selain itu, pelayanan bertujuan untuk memuliakan Allah yang telah menganugerahkan segala sesuatu kepada umat-Nya. Dalam ketekunan pelayanan, kita memuliakan Allah (bdk. 2 Kor 9:13; 1Ptr 4:11). Selanjutnya, pelayanan menumbuhkan dan menguatkan persaudaraan dan persekutuan umat. Melalui pelayanan, persekutuan umat semakin terbangun dalam kasih (bdk. Ef 4:11—16). Akhirnya, pelayanan menyatakan solidaritas dan terarah kepada kesejahteraan semua orang (bdk. Kis 2:44—45).

KONTEKS SOSIAL DIAKONIA DAN PERUTUSAN PROFETIS GEREJA

12. Kehidupan dunia dewasa ini sedang terperangkap dalam kebusukan “kotoran iblis” (dung of the devil, Paus Fransiskus). Hal ini mengemuka dalam aneka wajah, seperti kapitalime global, degradasi ekologis, fluiditas sosial yang mengabaikan kontrol sosial, krisis demokrasi, korupsi, krisis demografis yang secara keji tampak dalam bentuk perdagangan manusia.

13. Secara lokal, seperti yang ditemukan dalam Sinode III Keuskupan Ruteng, situasi miris tersebut tampak dalam pelbagai kenyataan sosial. Secara ekonomis nyata dalam kemiskinan, ketergantungan pada pertanian kimiawi (anorganik), dan kualitas kesehatan yang rendah; secara politis nyata dalam politik primordial, politik uang, dan politik balas jasa serta tata kelola kekuasaan yang korup; secara budaya nyata dalam mutu pendidikan yang rendah dan krisis nilai dalam kehidupan; secara ekologis nyata dalam kerusakan hutan, sampah, dan pertambangan mineral yang destruktif.

14. Berhadapan dengan aneka kekacauan sosial (chaos) tersebut, Gereja tidak boleh berpangku tangan, tetapi tampil memberi harapan. Gereja terpanggil untuk bersolider dalam “suka dan duka”, “harapan dan kecemasan” masyarakat (GS 1). Fungsi memberi harapan tersebut merupakan satu kriteria utama peran profetisnya, bila tidak ingin segera dipunggungi oleh dunia masa kini dan masa depan. Gereja mesti menjadi sumber motivasi sekaligus motor penggerak untuk mengarahkan dan menata relasi antara dunia Allah, manusia, dan alam ciptaan, antara sejarah manusia dan sejarah keselamatan.

15. Peran profetis Gereja sangatlah urgen sekarang ini untuk memberi kepastian dan stabilitas. Gereja dipanggil untuk menjadi “jangkar” yang melindungi “kemanusiaan” dari tarikan badai kapitalisme global dengan kepelbagaian wajahnya yang eksploitatif. Gereja di sini menjadi benteng tradisi sekaligus kekuatan transformatif untuk menegakkan martabat manusia.

16. Peran profetis tersebut nyata dalam model diakonia yang transformatif yang dilakukan secara cerdas, dan disertai penyesuaian institusional untuk mendorong keterlibatan personal dan komunal anggota Gereja. Ada empat dimensi utama diakonia transformatif. Pertama, prediktif, yakni Gereja yang memiliki mata batin spiritual untuk melihat dan menganalisis situasi masyarakat, menemukan akarnya, dan menentukan solusi yang bersifat menyeluruh. Kedua, provokatif, yaitu Gereja perlu mengungkapkan secara terang-benderang fakta-fakta yang tersembunyi, dan tanpa kompromi tetapi mendorong keterlibatan semua orang untuk memperbaiki keadaan. Ketiga, proaktif, yakni Gereja terlibat dalam tindakan nyata dalam pelbagai dimensi kehidupan seperti ekonomi, politik, hukum, pendidikan, dan kebudayaan. Keempat, konstruktif, yaitu keterlibatan dalam gerakan ekonomi kerakyatan, perlawanan terhadap struktur-struktur yang menindas, pengayoman hak-hak asasi manusia, dan penyelamatan ekologis.

17. Dalam gerakan transformatif ini, Gereja hendaknya menjadi Gereja inklusif, yang terbuka dan berjejaring dengan semua kelompok yang berkehendak baik serta keluar dari jebakan formalisme dan dogmatisme agama. Gereja mesti melampaui rutinitas kultis-rohani. Tentu liturgi tidak diabaikan melainkan menjadi kekuatan yang berdaya membebaskan dan memberi daya liberatif bagi peradaban (sivilisasi) dunia. Gereja harus juga membuka mata dan kritis terhadap gerakan dan transformasi manipulatif dan ilusif yang mengakibatkan degradasi dalam berbagai bidang kehidupan. Di sini, Gereja juga harus menjadi “jangkar” untuk mempertahankan nilai-nilai manusiawi yang hakiki, kodrati, substansif, dan universal

DASAR TEOLOGIS, ADRESAT, DAN SPIRITUALITAS DIAKONIA GEREJA

18. Secara teologis, diakonia Gereja pertama-tama berlandas pada pribadi Kristus sendiri. Karena itu coraknya adalah Kristologis. Diakonia bukan sekadar tindakan untuk peduli pada orang lain melainkan lahir dari panggilan dasar orang Kristen untuk mengikuti Kristus. Seluruh hidup Yesus berpusat pada diakonia. Bahkan mesianisme Yesus terletak dalam diakonia: Orang lapar diberi-Nya makanan, orang buta melihat, orang tuli mendengar, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi sembuh, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik (bdk. Luk 7:22). Misi Yesus terarah pada pelayanan untuk memaklumkan kabar baik bagi orang miskin dan mewujudkan pembebasan bagi yang tertawan dan tertindas (bdk. Luk 4: 18—19).

19. Bila seluruh hidup Yesus terarah kepada diakonia, maka para pengikut Yesus seharusnya juga demikian. Dalam perjamuan malam terakhir, setelah membasuh kaki para murid-Nya yang merupakan simbol dari tindakan diakonia, Yesus dengan tegas berkata kepada mereka: “Jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu” (Yoh 13:14). Perintah ini menegaskan perutusan semua orang kristen agar terlibat dalam karya diakonia. Diakonia dalam hal ini mewujudkan inti terdalam hakikat Gereja. Maka diakonia berciri eklesiologis.

20. Diakonia Gereja juga berlandas pada hukum cinta kasih. Pelayanan kasih kepada fakir miskin mempunyai dasar biblis dalam hubungan yang mendasar antara kasih Allah dan kasih sesama, yang berakar dalam tradisi kehidupan Israel (bdk. Ul 6:5; Im 19:18). Dalam Perjanjian Baru, Yesus mengangkat kembali kedua hal tersebut, yang merupakan dasar bagi semua perbuatan amal bagi orang miskin dan sengsara (bdk. Mrk 12:29—31; Mat 22:37–39; Luk 10:27). Mengasihi Allah yang tak kelihatan, tampak dalam mengasihi sesama yang kelihatan (bdk. 1Yoh 4:20). Oleh sebab itu, “tidaklah boleh terjadi bahwa kontemplasi menghindarkan kita untuk mencintai sesama. Namun juga tidaklah boleh terjadi bahwa cinta kepada sesama menghalangi kita, untuk mengkontemplasi Allah.” (Paus Gregorius Agung). Kasih kepada Allah dan sesama itu harus bersifat sinergis dan seimbang, tanpa terjebak dalam “spiritualisme” dan “aktivisme”.

21. Diakonia Gereja ingin merangkul dan melayani semua orang dan menggarami dunia dengan nilai-nilai Injil (bdk. 1Tes 3:12; Gal 6:10). Dalam diakonia inilah, terwujud “Gereja dengan pintu-pintu terbuka”, yaitu Gereja yang bergerak keluar untuk menjumpai sesama pada “pinggir kemanusiaan” (EG 46). Sasaran utama (adresat) diakonia yang mengalir dari pribadi Kristus dan hukum cinta kasih adalah orang miskin dan sengsara (bdk. Ul 15:11; Ul 5:14—15; Im 25:35—42; Luk 4:18—19). Diakonia Gereja mesti mendahulukan kaum miskin (preferential option for the poor). Opsi ini berpangkal pada belas kasih Allah, dan tidak terletak pada disposisi moral dan religius mereka. Kaum miskin didahulukan dalam diakonia Gereja bukan karena mereka baik, tetapi karena Allah yang baik terhadap mereka (EG 198). Tentu opsi biblis ini tidak berarti menyingkirkan golongan lain, tetapi sebaliknya mengajak semua orang untuk terlibat dalam gerakan bersama kaum miskin untuk membangun masyarakat yang adil, bersaudara, dan ekologis. Dengan demikian, preferensi ini tidak mengaburkan misi universal Gereja, tetapi sebaliknya menegaskannya, dan memberikannya wujud yang konkret: melalui kaum miskin, Gereja menyapa semua orang.

22. Diakonia Gereja tidak hanya terbatas dalam pelayanan manusia, tetapi meliputi seluruh alam ciptaan. Sebab semua makhluk menantikan dengan sangat rindu saat keselamatan (bdk. Rom 8:19). Dalam krisis lingkungan yang parah dewasa ini diperlukan upaya global yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berjejaring serta perubahan gaya hidup sehari-hari yang ramah terhadap lingkungan dan menjamin kelestariannya. Manusia mesti menyadari bahwa bumi ini adalah “rumah kita bersama”, dan alam semesta ibarat “saudari yang berbagi hidup dengan kita” dan “seorang ibu rupawan yang menyambut kita dengan tangan terbuka” (LS 1). Jadi, pilihan mendahulukan kaum miskin mencakupi segala mahkluk dan menuntut keputusan dan komitmen untuk terlibat dalam dunia kehidupan orang-orang yang tak dikenal dan tersingkir dari sejarah serta menyelamatkan bumi sebagai rumah kita bersama yang kian tercemar.

23. Diakonia Gereja yang berorientasi pada orang miskin dan ekologi bukanlah karya momental dan spontan belaka, tetapi membutuhkan struktur dan tata kelola yang integral dan berkelanjutan. Pengorganisasian dan strukturalisasi merupakan syarat bagi terwujudnya pelayanan bersama yang teratur dan efektif (DCE 20). Perlunya pengorganisasian dan manajemen diakonia ini, lebih-lebih dituntut sebagai hal yang urgen bagi Gereja dalam aspek diakonia. Sebab, “melaksanakan kasih bagi para janda dan yatim-piatu, para tahanan, orang-orang sakit dan mereka yang kekurangan apa saja, termasuk hakikat Gereja seperti pelayanan sakramen-sakramen dan pewartaan Injil” (DCE 22).

24. Diakonia tidak hanya bergantung pada kekuatan institusi dan manajemen yang profesional, tetapi juga membutuhkan pendekatan pastoral yang tepat dan berdiri tegak di atas spiritualitas yang kokoh. Diakonia terbuka terhadap Roh Allah yang dicurahkan ke dalam diri kita, dan menggerakkan kita untuk terlibat dalam pemberian diri Kristus, sang Putera kepada Bapa, dan sebagai saudara bagi semua manusia (bdk. Rom 5:5). Roh Kudus adalah dasar utama pelayanan cinta kasih Gereja. Di sini, terlihat pula corak pneumatologis diakonia. Roh Kudus merupakan anugerah cuma-cuma dari Allah yang menghangatkan sekaligus menyegarkan secara terus-menerus komitmen diakonia. Spiritualitas yang terbuka pada keterlibatan Roh Kudus ini memberi warna yang membedakan diakonia Gereja dari pelayanan sosial kemanusiaan pada umumnya.

ORIENTASI ETIS DIAKONIA GEREJA

25. Secara etis, diakonia Gereja mengalir dari “etika keberadaan” (ethics of being), yaitu identitas atau keberadaan baru orang kristen di dalam Kristus (esse novum in Christo). Berkat pembaptisan, kita dipersatukan dengan Kristus, dijadikan kembaran Kristus (alter Christi) dan serentak dengan itu ciptaan baru. Keadaan sebagai ciptaan baru diungkapkan dalam satu cara hidup yang sesuai dengan hidup Kristus. Segala nilai yang dihayati Kristus selama hidupnya di atas bumi ini menjadi nilai yang meresapi setiap orang yang ada dalam Kristus. Jadi, kita hidup dalam tuntunan Roh dan segala nilai yang merupakan buah-buah Roh yakni: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (bdk. Gal. 5:22—23).

26. Cara berada baru dalam Kristus mempunyai akibat dalam relasi dengan orang lain dan dunia sekitar. Bila kita telah menghayati nilai-nilai Kristiani, dengan sendirinya kita juga terlibat secara sosial dan politik untuk pelayanan (diakonia) pembangunan dunia baru yang adil dan manusiawi. Keterlibatan tersebut bukanlah sesuatu yang dipaksakan dari luar, melainkan mengalir dari dalam diri kita yang telah dijadikan “ciptaan baru” di dalam Kristus.

27. Selain itu, etika keberadaan berkaitan erat dengan etika perbuatan (ethics of doing) . Tingkah laku kita merupakan perwujudan dari keberadaan baru kita. Perbuatan mengungkapkan pribadi kita. Berkat cara berada baru yang diresapi oleh Roh Kudus, kita niscaya bertingkah laku dan bertidak seturut buah-buah roh dalam perjumpaannya dengan orang lain. Kita lalu dapat keluar dari diri dan mengabdi sesama yang miskin dan menderita (diakonia) guna mewujudkan kehidupan yang semakin manusiawi.

28. Dalam hal ini, terjadi relasi yang saling membutuhkan satu sama lain. Bukan hanya orang miskin dan sengsara (“kurang beruntung”) yang membutuhkan orang yang mampu dan berkecukupan (“beruntung”), tetapi juga sebaliknya. Karena itu, dalam prespektif moral, tindakan diakonia Gereja tidak pernah boleh terjebak dalam aksi yang mengobjekkan kaum miskin dan tertindas. Mereka perlu didorong menjadi subjek-subjek otonom yang dihargai dan dilibatkan secara aktif dalam setiap tindakan diakonia Gereja. Prinsip etis pelayanan diakonia adalah membantu orang lain sekian, sehingga ia mampu melaksanakan sendiri apa yang dapat ia lakukan, dan bukannya menjadi tergantung dan terjebak dalam ketakberdayaan. Diakonia bukanlah karya yang memperbudak melainkan karya yang membebaskan dan semakin menyejahterakan serta membahagiakan (“memanusiakan”) manusia.

PROGRAM DAN KEGIATAN PASTORAL TAHUN PELAYANAN

29. Kami menyadari bahwa diakonia merupakan imperatif pastoral bagi Gereja (obligatoris): “Kamu harus memberi mereka makan” (Mat 14:6). Karena itu, terdorong oleh inspirasi-inspirasi sosial-teologis-etis-spiritual di atas, kami bersepakat dan berketetapan hati untuk mewujudkan program dan kegiatan pastoral di Tahun Pelayanan 2019 berikut ini. Dalam tingkat Keuskupan dan Kevikepan, kami ingin mewujudkan program-program unggulan berikut:

  1. Sosialisasi tentang gagasan diakonia dan APP Tahun Pelayanan bagi utusan-utusan KBG dalam level kevikepan.
  2. ToT tentang diakonia Gereja bagi utusan-utusan paroki di Puspas.
  3. Pengembangan sentra pertanian organik integral Keuskupan di kebun Leda.
  4. Pelatihan pertanian organik bagi utusan paroki di kebun organik Leda.
  5. Pelatihan cara pembuatan Pupuk Organik untuk Ketua KBG di 10 Paroki/Lembaga
  6. Pemberdayaan ekonomi umat wilayah lingkar tambang Paroki Robek.
  7. Pemberdayaan desa pariwisata di Wangkung, Boleng dan Meler, Cancar.
  8. Pemberdayaan paroki ramah anak di Manggarai Timur.
  9. Camping Rohani anak dan orang tua utusan paroki.
  10. ToT Diakonia bagi utusan OMK.
  11. Silaturahmi caleg DPR-RI dari dapil Manggarai Raya (Flores).
  12. Perayaan Tahun Pelayanan dan HPS di tingkat kevikepan.
  13. Pengembangan situs-situs rohani dalam kerja sama dengan paroki terkait menjadi pusat wisata rohani.

30. Dalam bidang diakonia karitatif tingkat paroki, kami berkomitmen untuk melaksanakan program dan kegiatan berikut:

  1. Pengumpulan beras dan pangan lainnya melalui KBG (lumbung pangan KBG).
  2. Kunjungan Orang Sakit di Paroki.
  3. Pemberian waé lu’u kepada keluarga berduka oleh paroki.
  4. Bantuan Paroki bagi korban bencana rumah/program bedah rumah keluarga miskin.
  5. Pendampingan korban kekerasan anak atau ibu dalam Rumah Tangga (KDRT) di Paroki.
  6. Pendampingan korban human trafficking di Paroki.

31. Dalam bidang diakonia transformatif tingkat paroki:

  1. Pelatihan pertanian organik paroki.
  2. Pengolahan kebun pastoran yang sehat dan asri.
  3. Pembentukan/penguatan/pemfasilitasian Koperasi Jalur Paroki.
  4. Sosialisasi (Pencerahan) Tahun Pelayanan bagi pengurus KBG.
  5. Sosialisasi prinsip-prinsip politik Kristiani di Paroki.
  6. Sosialisasi Budaya Hidup Sehat di Paroki
  7. Partisipasi Paroki dalam pelatihan pemimpin diakonia paroki.
  8. Partisipasi Paroki dalam pelatihan ToT Diakonia bagi OMK Paroki.
  9. Partisipasi Paroki dalam camping rohani orang tua dan anak.

32. Dalam bidang institusional tingkat paroki:

  1. Pembentukan/Penguatan Seksi Karitas Paroki (Tim Sosial Paroki).
  2. Pendataan/Pembentukan/Penguatan Kelompok Rentan di Paroki (Migran/Lingkar Tambang/Janda Miskin/Yatim Piatu) (Pilih yang ada di paroki).
  3. Pendataan/Pembentukan/Penguatan Kelompok Difabel Paroki
  4. Pendataan/Pembentukan/Penguatan Kelompok Lansia Paroki
  5. Penyusunan Agenda Tahunan KBG dengan Fokus Diakonia (koordinasi oleh paroki)
  6. Pendataan dan sertifikasi tanah-tanah milik paroki.

33. Selain itu, kami juga ingin menggalakkan gerakan-gerakan mewujudkan Tahun Pelayanan melalui:

  1. Perayaan Hari Orang Miskin (HOM) di Paroki.
  2. Perayaan Hari Orang Sakit (HOS) di Paroki.
  3. Perayaan Hari Difabel di Paroki.
  4. Perayaan Hari Lansia di Paroki.
  5. Gerakan lingkungan sehat dan asri KBG.
  6. Gerakan kebun gizi keluarga.
  7. Gerakan Family Helping Family dalam KBG.
  8. Misa perutusan bagi caleg

34. Kami juga terus berkomitmen untuk menjalankan program dan gerakan rutin yang selama ini mewarnai dan memaknai implementasi Sinode III dari tahun ke tahun. Program rutin terdiri dari:

  1. Misa Pembukaan Tahun Pelayanan 2019.
  2. Katekese Umat Tahun Pelayanan 2019.
  3. Perencanaan Pastoral Paroki Tahun Pelayanan 2019.
  4. Monitoring Pastoral Paroki Tahap I Tahun Pelayanan 2019.
  5. Monitoring Pastoral Paroki Tahap II Tahun Pelayanan 2019.
  6. Evaluasi Pastoral Paroki Tahun Pelayanan 2019.
  7. Misa Inkulturasi Minggu Ketiga.

35. Adapun yang termasuk dalam gerakan rutin dalam Tahun Pelayanan 2019 ini:

  1. Gerakan Mendaraskan Doa Tahun Pelayanan 2019.
  2. Gerakan Mengkidungkan Lagu Tahun Pelayanan 2019.
  3. Gerakan Membaca Teks Kitab Suci Harian yang dirangkaikan dengan Doa dalam Pertemuan Paroki.
  4. Doa Malam Bersama Keluarga disertai dengan Membaca Teks Kitab Suci Harian.

36. Selain program dan gerakan Tahun Pelayanan yang mengikat di atas, kami juga mendorong kreasi dan kemandirian umat dalam berbagai program dan kegiatan diakonia, yang dipilih sesuai dengan situasi dan kemampuan paroki masing-masing, antara lain:

  1. Pemanfaatan lahan tidur paroki untuk pertanian sayur-mayur (hortikultura), buah-buahan dan perkebunan tanaman perdagangan (jagung, kopi, sorgum, kelor, dll).
  2. Pengembangan ternak paroki (ayam, babi, dan sapi) dan pembentukan kelompok ternak bergulir.
  3. Dalam bidang ekonomi kreatif: pengembangan kelompok tenun ikat (tas, selendang, kain sarung, topi songké, dan topi ré’a), kerajinan mebel lokal (bambu dan kayu), pengolahan sampah plastik, usaha kuliner, dan home stay lokal.
  4. Dalam bidang ekologi: penghijauan lahan kritis, penanaman pohon di sumber mata air, pembuatan ‘bank sampah’ paroki, penyediaan kotak-kotak sampah, gerakan pengurangan penggunaan sarana berbahan plastik, dan pembuatan sumur resapan air.
  5. Berpartisipasi dalam program festival budaya yang ada.

37. Dalam tahun diakonia ini, kami juga ingin mendukung lembaga-lembaga sosial karitatif, pendidikan, dan seminari-seminari dalam karya pelayanan mereka di Keuskupan Ruteng. Karena itu, kami berkomitmen untuk:

  1. Mengadakan kegiatan amal di paroki guna membantu panti asuhan, panti difabel, panti jompo, panti rehabilitasi mental, rumah aman bagi korban KDRT dan human trafficking.
  2. Mendukung gerakan Yasukma dalam pengumpulan iuran siswa/siswi dan pendayagunaan lahan-lahan SDK.
  3. Menggalakkan kolekte minggu panggilan, yang sebagiannya diperuntukkan bagi lembaga Seminari Menengah Kisol dan Labuan Bajo.
  4. Mendukung upaya Seminari Tinggi Ritapiret dalam pengumpulan dana “amplop” panggilan calon imam melalui tanggung jawab pastor paroki.
  5. Mewajibkan setiap paroki untuk menyumbang satu sampai lima juta rupiah setiap tahun untuk mendukung pendidikan calon imam di Seminari Kisol, Labuan Bajo, dan Ritapiret. Dana ini tertera dalam RABP tahunan Paroki dan wajib diserahkan kepada ekonom Keuskupan Ruteng yang akan meneruskannya lebih lanjut. Penggunaan dana ini hendaknya memperhatikan siswa-siswi seminari dan frater yang sangat membutuhkan.

38. Selain paroki, stasi, dan KBG, semua institusi dan komunitas Katolik yang berada dalam wilayah Keuskupan Ruteng wajib menjalankan program dan gerakan Tahun Pelayanan 2019. Oleh sebab itu, semua yayasan pendidikan, kampus dan sekolah-sekolah, biara-biara, komunitas-komunitas rohani dan lembaga-lembaga sosial Katolik lainnya perlu memperhatikan dan memilih berbagai program, kegiatan, dan gerakan pastoral Tahun Pelayanan yang dapat dilakukan dalam lingkungan masing-masing yang disertai dengan monitoring dan evaluasi.

39. Kami juga ingin terus melanjutkan kerja sama dengan Pemerintah, LSM, dan semua pihak dalam membangun dan mensejahterakan masyarakat:

  1. Melanjutkan kerja sama dalam bidang pertanian, perkebunan, peternakan,perikanan, pendidikan, dan pariwisata dalam rangka mensejahterakan umat.
  2. Vikep dan pastor paroki proaktif memfasilitasi perencanaan dan penggunaan dana desa bagi pelayanan pastoral, khususnya bagi kelompok rentan di paroki. Hal ini harus dimulai melalui keikutsertaan dalam Musrenbangdes.

40. Secara khusus dalam Tahun Politik Pileg dan Pilpres 2019 ini, kami berkomitmen untuk:

  1. Menerbitkan dan mensosialisasikan Surat Gembala khusus tentang tahun politik Pileg dan Pilpres 2019.
  2. Menjaga agar mimbar Gereja tidak disalahgunakan untuk kepentingan propaganda politis.
  3. Melawan praktik politik uang dan politik primordial dalam Pemilihan Umum.
  4. Memilih calon pemimpin bangsa yang berwawasan kebangsaan, dan teruji dalam memperjuangkan kesejahteraan bangsa dan HAM.
  5. Memilih calon-calon legislatif yang berkompeten, berintegritas dan berasal dari partai politik yang sungguh memperjuangkan empat pilar kehidupan bangsa dan negara (Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika), kedamaian dan toleransi dalam kehidupan bangsa yang majemuk, serta menolak semua bentuk fanatisme, sektarianisme, diskriminasi, radikalisme, dan ekstremisme.
  6. Sebagai klerus dan biarawan/wati, memperjuangkan politik nilai Kristiani, seraya menghindari keterlibatan dalam politik kekuasaan, misalnya dengan menjadi tim sukses dari calon tertentu.
  7. Sebagai umat, terlibat secara aktif dan kritis mengupayakan Pemilu yang jujur, adil, dan demokratis serta menjalin kebersamaan dan persaudaraan dalam perbedaan pilihan politik yang terjadi.

41. Kami mengapresiasi dan mendorong:

  1. Puspas Keuskupan Ruteng agar terus mengembangkan sistem manajemen pastoral dan mengadakan pelatihan-pelatihan pastoral yang bermutu bagi para pelayan pastoral.
  2. Para Vikep untuk terus mengkoordinasi reksa pastoral kevikepan, membangun tim pastoral kevikepan serta mengembangkan suasana persaudaraan dan motivasi pelayanan tanpa pamrih dalam berpastoral.
  3. Pastor paroki, DPP, DKP, pelayan stasi, dan KBG agar terus mengembangkan sistem tata kelola dan program pastoral yang kontekstual, integral, partisipatif, transparan, dan akuntabel.
  4. Peningkatan mutu program pastoral yang dirumuskan: (i) dengan target (tujuan) dan indikator yang tepat serta terukur; (ii) kelompok sasaran dan penanggung jawab yang jelas; (iii) waktu dan tempat kegiatan yang sesuai; (iv) dana dan sarana yang mendukung dan proporsional.
  5. Semua umat agar dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat semakin terlibat dalam gerakan bersama untuk melayani dan berbagi dalam Tahun Pelayanan ini.

PENUTUP

42. Seluruh kegiatan pastoral diakonia dalam kehidupan Gereja berpuncak dalam Ekaristi (SC 10; LG 11). Sebaliknya, perjumpaan mesra dengan Kristus dalam ekaristi mendorong komitmen untuk membarui dunia. Sebagaimana roti dan anggur yang telah berubah, kita pun dibarui dan diutus untuk membangun dunia seturut nilai-nilai injili (SC 89; DCE 14). Diakonia Gereja berarti terlibat dalam gerakan inkarnasi Putera Allah, untuk menorehkan wajah manusiawi kepada dunia.

43. Bersama Maria, Hamba Tuhan, dan Bunda Gereja, marilah kita mengangkat hati kepada Tuhan dan menggabungkan puji-syukur kita dalam magnifikatnya: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku. Sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar” (Luk 1:46—47.53). Biarlah Dia membimbing kita untuk merasakan “betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus” (Ef 3:18), agar kita dapat melayani dengan kekuatan cinta Kristus dalam rangka mewujudkan dunia baru yang berkeadilan, sejahtera, dan damai.

 

Ruteng, 11 Januari 2019
Dalam Suasana Persaudaraan Pastoral,
Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng,

Mgr. Silvester San

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*