Martin Chen January 11, 2019

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak bisa dibangun dengan cara konvensional saja. Perlu ada gerakan kreatif dan transformatif untuk memberdayakan potensi-potensi yang kaya di provinsi ini. Demi NTT bangkit dan sejahtera ini, dibutuhkan sinergi yang konstruktif antara pemerintah dan Gereja, demikian Gubernur Viktor Laiskodat dalam sidang pastoral Keuskupan Ruteng pada tanggal 10 Januari 2019 di wisma Efata, Ruteng.

Pembangunan Integral
Tepuk tangan membahana terdengar berulang-ulang ketika Gubernur NTT Viktor Laiskodat mempresentasikan program pembangunan NTT. Di hadapan para imam, biarawan/wati dan tokoh-tokoh umat yang mewakili lebih dari 800 ribu umat Katolik dari tiga Kabupaten (Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur), beliau menegaskan konsep pembangunan NTT yang utuh dan menyeluruh. Pembangunan harus menyejahterakan dan membahagiakan manusia dalam segala dimensi hidupnya. Karena itu fokus-fokus pembangunan NTT mengandung integrasi dari pelbagai aspek lainnya. Sebagai contoh, disebutnya sektor pariwisata. Ini bukan hanya menyangkut bidang ekonomi pariwisata. Sebab pariwisata terkait dengan pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan. Di sini kita juga sekaligus membangun sumber daya manusia melalui pendidikan, kesehatan, kebudayaan serta peningkatan infrastruktur, ujar Viktor berapi-api.
Salah satu hal yang mutlak demi NTT bangkit menurut Gubernur Viktor Laiskodat adalah pembaruan kultur. Dalam hal ini yang pertama harus dibuat adalah disiplin dan kerja keras. Hanya dengan itu, NTT yang sejahtera dapat diwujudkan. Untuk itu hemat beliau, diperlukan pula punishment (hukuman), antara lain dengan pemakaian “rompi oranye” bagi yang terlambat, setelah berbulan-bulan lewat himbauan dan perintah, masih banyak yang malas dan “lamban bangkit”.
Gubernur NTT yang dilantik pada bulan September 2018 ini menyadari pula pentingnya reformasi birokrasi yang dapat menjalankan roda pemerintahan dengan transparan, jujur dan akuntabel. Karena itu dia menolak “politik primordial” dalam pengangkatan pejabat NTT. Saya tidak peduli, entah orang ini dari Flores, Timor atau Sumba. Saya juga tak ambil pusing entah dia beragama Katolik atau Protestan. Yang penting dia mampu, jujur dan mau bekerja keras membangun NTT, tegasnya.

Isu-Isu “Panas”
Dalam kesempatan itu, Gubernur Viktor Laiskodat menjawab tegas pertanyaan tentang isu-isu “panas” di NTT. Berkaitan dengan pertambangan (mineral), beliau memastikan bahwa tak akan ada ijin tambang baru selama dia memimpin NTT. Sedangkan ijin lama yang sudah dikeluarkan sebelumnya, hanya boleh dilanjutkan bila perusahaan telah menyerahkan terlebih dahulu “uang” kewajiban reklamasi lahan tambang.
Tentang Pantai Pede, Labuan Bajo yang diperjuangkan oleh Keuskupan Ruteng agar menjadi pantai publik yang terbuka seluas-luasnya bagi masyarakat, Gubernur yang pernah lama menjadi anggota DPR ini, berjanji akan mencabut ijin PT SIM. Dia berusaha ke depan agar Pantai Pede dan juga pengelolaan pariwisata pada umumnya di Labuan Bajo sungguh berpihak pada masyarakat lokal dengan kekhasan budaya dan ekologisnya.
Demikian pula isu Komodo turut menjadi bahan diskusi hangat. Binatang yang hidup di taman nasional ini, hemat Viktor, mesti dijaga kelestariannya. Jangan hanya karena kepentingan ekonomi sesaat, kita mengurbankan masa depan hewan purba satu-satunya yang masih hidup di dunia ini dengan kunjungan masal turis. Pariwisata di Labuan Bajo memiliki banyak daya tarik luar biasa, yang dapat ditawarkan kepada dunia, tanpa harus beresiko dengan kemusnahan komodo, lanjutnya.
Presentasi program-program Gubernur NTT Viktor Laiskodat dalam sidang pastoral Keuskupan Ruteng membawa pencerahan bagi peserta sidang dan menggarisbawahi komitmen dari Gereja dan Pemerintah untuk bahu membahu membangun NTT. Momentum kehadiran bapak Gubernur sejalan dengan tema tahun diakonia (pelayanan sosial) yang digagas oleh sidang ini, demikian sambutan Mgr. Silvester San. Pembangunan yang sejati selalu berorientasi pada “kesejahteraan umum dan martabat pribadi manusia”, lanjut Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng, menegaskan kompas kerja sama tersebut.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*