Komsos Ruteng January 8, 2019

Program dan kegiatan pastoral pada tahun Persekutuan 2018 telah berjalan dengan baik dengan hasil-hasil yang patut diapresiasi. Sementara pencanangan 2019 sebagai tahun pelayanan atau diakonia dinilai relevan dengan situasi Gereja sekarang. Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng Mgr. Silvester San menyatakan ini saat membuka pertemuan pastoral post Natal Keuskupan Ruteng di Aula Efata Ruteng, Senin (07/01/2019) malam.

“Kita bersyukur kepada Tuhan, karena telah melewati dengan baik tahun pastoral Keuskupan Ruteng 2018 yang mengangkat tema Persekutuan. Di tahun persekutuan, umat Keuskupan Ruteng menghayati kembali mengalami dan menghayati persekutuan dan persaudaraan di dalam Gereja dan di tengah masyarakat,” kata Mgr. Silvester.

Uskup Keuskupan Denpasar itu secara khusus menyebut restrukturisasi Komunitas Basis Gerejani (KBG)sebagai salah satu hal positif dari aneka kegiatan selama tahun persekutuan. Dari presentasi hasil evaluasi pada akhir 2018, penataan KBG telah terlaksana hampir di seluruh Keuskupan. Dan dengan itu, Gereja Keuskupan Ruteng kembali menghidupkan kembali apa yang telah dicanangkan oleh Sidang Agung Gereja Katolik sejak 20 tahun lalu, yaitu KBG sebagai lokus dan fokus pastoral.

“Saya kira ini sangat baik. Kalau struktur KBG baik, karya pastoral di Keuskupan ini akan berjalan baik juga,” ungkap dia.

Lebih lanjut, Administrator Apostolik menyatakan fokus karya pastoral 2019 pada pelayanan atau diakonia pada 2019, relevan dengan situasi gereja dan dunia dewasa ini. Kemiskinan, kata dia, masih menjadi kenyataan dan masalah, bukan hanya di wilayah keuskupan Ruteng melainkan juga bagi sebagian penduduk dunia.

“Tampaknya apa yang disampaikan Nabi Musa dalam Kitab Ulangan (15:11) masih relevan untuk diperhatikan. Dia katakan dalam Ulangan pasal 15 ayat 11, sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada dalam negeri ini. Itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu demikian, haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu yang tertindas dan miskin di negerimu,” jelas Mgr. Silvester.

Aneka karya di bidang diakonia pada 2019, lanjut Uskup San, sejalan dengan gerakan yang dimulai oleh Paus Fransiskus. Menanggapi kenyataan kemiskinan pada sebagian masyarakat dunia, Paus Fransiskus menetapkan hari orang miskin sedunia pada peringatan St. Antonius dari Padua, 13 Juni 2017 di Fatikan. Peringatan Hari Orang Miskin Sedunia ini akan dirayakan setiap Hari Minggu Biasa ke-33, hari Minggu sebelum Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam.

Berkaitan dengan Hari Orang Miskin se-dunia ini, Ketua Dewan Kepausan untuk Mempromosikan Evangelisasi Baru Uskup Agung Rino Fisichella mengatakan kepada para wartawan bahwa Paus berharap, hari itu akan mengingatkan semua orang di dalam Gereja untuk mengalihkan perhatian mereka kepada orang miskin, benar-benar mendengarkan kebutuhan mereka dan merespon langsung dengan cinta yang bertujuan untuk mengembalikan martabat mereka. Gereja-gereja, asosiasi dan lembaga lokal sekali lagi diminta untuk berinisiatif menumbuhkan momen-momen pertemuan nyata, persahabatan, solidaritas, dan bantuan konkret bagi orang miskin.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*