Komsos Ruteng December 6, 2018

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh 1:14).

Para Imam, Biarawan/wati, Umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan!
Perayaan natal memperlihatkan kepada kita betapa agung dan mengagumkan misteri cinta Allah. Dia begitu mengasihi kita, sehingga rela meninggalkan surga yang abadi dan melawati kita di bumi yang fana ini. Natal juga menunjukkan betapa indah dan mulianya martabat manusia, sehingga dipilih oleh Allah menjadi kenisah, tempat kediaman-Nya. Sebab dalam diri sang bayi Betlehem, Allah tidak berpura-pura menjadi manusia, tetapi Dia sungguh menjadi manusia. Dia tidak menyentuh kita dari luar, tetapi sungguh menjadi “daging”, bersatu sempurna dengan kemanusiaan kita. Dengan demikian tampaklah pula betapa luhur dan mulianya manusia di hadapan Allah. Pemazmur mengkidungkan keagungan martabat manusia sebagai berikut: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.” (Mzm 8:6). Dalam misteri penjelmaan Allah menjadi manusia terungkap martabat luhur manusia, yang tidak hanya diciptakan menurut citra Allah, tetapi juga dipanggil untuk menjadi ilahi, bersatu dengan Allah (GS 22).

Atas dasar keluhuran martabat manusia itulah Gereja selalu mengajarkan dan memperjuangkan Hak Asasi Manusia (HAM), yaitu hak yang melekat dalam diri setiap manusia, dan berasal dari Allah. Setiap orang apa pun warna kulitnya, sukunya, agamanya, memiliki harkat dan martabat yang sama. Setiap orang di bumi pertiwi ini memiliki hak untuk hidup, hak mendapat pendidikan dan pekerjaan, hak memilih agama dan menjalankannya dengan bebas, tanpa tekanan dan pembatasan karena minoritas. Karena itu dalam pesan natal bersama 2018 para uskup KWI dan gembala Gereja Protestan PGI, mengajak kita untuk menyadari dan memperjuangkan hak-hak asasi manusia: “Perayaan kelahiran Yesus, Sang Juruselamat, menjadi saat dan kesempatan untuk memahami hakikat HAM secara baik dan benar, menyadari luhurnya martabat manusia dan pentingnya gerakan menghormati hak asasi manusia”. (Pesan Sidang Sinodal KWI 2018: Panggilan Gereja Melindungi HAM).

Salah satu hak asasi manusia yang mendasar adalah kebebasan untuk menyatakan pendapat, dan menentukan pilihan politik dengan “jujur, bebas dan bermartabat” (NP KWI 2018, 33). Hal ini menjadi sangat penting dan aktual bagi kita dalam momentum pemilihan Presiden (PilPres) dan pemilihan legislatif (Pileg) tahun depan, 2019. Untuk itu, kami mengajak seluruh umat Katolik keuskupan Ruteng agar terlibat aktif memilih pemimpin negara yang “berwawasan kebangsaan”, “berlaku adil dan toleran terhadap semua kalangan”, telah berkurban melayani kesejahteraan masyarakat dan memperjuangkan hak-hak asasi manusia di bumi pertiwi ini. Pilihlah wakil-wakil rakyat dari partai-partai yang sungguh membela Pancasila dan memperjuangkan kedamaian dan toleransi dalam kehidupan bangsa yang majemuk. Janganlah menggadai hati nurani kita oleh segepok uang atau janji-janji manis yang palsu. Jangan pula memilih seseorang sekedar karena adanya ikatan keluarga dan kekerabatan, tetapi jatuhkan pilihan itu pada calon yang jujur, mampu dan berintegritas.

Dalam kaitan ini, secara khusus kami menghimbau para imam, biarawan dan biarawati untuk tidak terlibat dalam politik praktis, misalnya menjadi anggota tim sukses atau menggiring umat untuk memilih calon tertentu. Jangan pula membiarkan mimbar Gereja menjadi sarana untuk berpolitik. Meskipun demikian, para klerus perlu aktif memperjuangkan politik nilai. Klerus berkewajiban untuk mencerahkan dan mendorong umat agar tidak terpecah apalagi berkonflik karena pilihan politik yang berbeda, menolak kampanye berbau SARA, melawan HOAKS atau berita bohong, serta melakukan pilihan politik sesuai prinsip-prinsip nilai Kristiani. Hierarki perlu pula “memberikan siraman rohani dan kekuatan iman pada umatnya yang ingin membaktikan hidupnya untuk nusa dan bangsa” (NP KWI 2018, 34).

Para Imam, Biarawan/wati, Umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan!

Hak asasi manusia dihidup oleh seseorang dalam kebersamaan dengan yang lain. Hal ini pulalah yang telah menjadi fokus pastoral kita di tahun persekutuan 2018 ini. Kita bersyukur bahwa persaudaraan umat semakin teguh melalui berbagai program dan gerakan implementasi Sinode III Keuskupan Ruteng dalam tahun persekutuan 2018 ini. KBG semakin bertumbuh dan berkembang menjadi komunitas beriman yang utuh (integral). Struktur dan tata kelola KBG semakin mantap. Kian banyak orang terlibat dalam kepengurusan KBG. KBG juga semakin terlibat dalam kehidupan paroki. Selain KBG, kelompok kategorial usia seperti Sekami dan OMK juga terus bertumbuh dan menjadikan kehidupan paroki semakin hidup dan indah. Demikian pula berbagai komunitas rohani, kelompok profesi dan sosial juga semakin berkembang di paroki-paroki kita. Semua hal tersebut membuat persekutuan umat Allah keuskupan Ruteng menjadi semakin “sehati dan sejiwa” (Kis 4:26).

Para Imam, Biarawan/wati, Umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan!

Apa yang indah dan berharga dalam tahun persekutuan 2018 ingin kita lanjutkan pada tahun 2019 dengan memusatkan pastoral keuskupan kita pada bidang pelayanan (diakonia). Melalui fokus ini, kita ingin semakin menjadi Gereja yang menuruti teladan Yesus, sang guru, yang datang “bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani” (Mrk 10:45). Dia juga meminta kita untuk saling melayani, “membasuh kaki” satu sama lain (Yoh 13:14). Diakonia kita secara khusus terarah kepada orang-orang miskin, sakit, difabel dan menderita, karena merekalah yang disapa oleh Yesus dalam perutusan Mesias-Nya: “Aku datang untuk mewartakan kabar baik bagi kaum miskin, dan pembebasan bagi yang tertindas” (Luk 4:18-19).

Peningkatan martabat orang miskin dan menderita tidak hanya melalui bantuan karitatif material dan non material saja. Tetapi diakonia Gereja mesti berciri transformatif, artinya memberdayakan orang yang tidak mampu untuk semakin mandiri. Karena itu dalam tahun pelayanan 2019 kita ingin menggalakkan berbagai kegiatan pencerahan dan pelatihan di bidang pertanian organik sayur mayur dan buah-buahan, budidaya ikan dan ternak, kerajinan tangan dan tenun ikat. Selain itu kemandirian ekonomi membutuhkan modal yang memadai. Karena itu kita perlu terus mengembangkan koperasi jalur paroki atau mendorong umat untuk menjadi anggota koperasi yang transparan dan akuntabel.
Melalui berbagai kegiatan diakonia, umat Allah keuskupan Ruteng akan semakin menjadi “garam dan terang dunia” (Mat 5:13-14). Kita ingin menjadi Gereja dengan “pintu-pintu terbuka” (EG,49) seperti kerinduan Paus Fransiskus, yaitu persekutuan umat yang merangkul orang miskin dan menderita dalam dekapan cinta kerahiman Allah. Persis ini pulalah yang menjadi arti mendasar perayaan natal. Allah menjadi manusia, untuk mengisi ruang-ruang kosong dan dingin kehidupan kita dengan kehangatan cinta ilahi. Dengan itu kita juga didorong untuk semakin menjadi manusiawi, dan melayani yang lain sebagai saudara dan saudari. Dalam nada pengharapan ini, kami mengucapkan kepada seluruh umat Allah keuskupan Ruteng: Selamat Merayakan Pesta Natal 2018 dan Bahagia Tahun Baru 2019.

Ruteng, 5 Desember 2018
Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng,

Mgr. Silvester San

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*