Ernus Mami December 5, 2018

Negara Indonesia akan menyelenggarakan pemilihan presiden-wakil presiden, DPR RI dan DPD serta DPRD pada 2019 nanti.  Tetkait itu, umat katolik diimbau untuk berpartisipasi dan menggunakan hak politiknya secara bijak, yaitu dengan jujur, bebas dan bermartabat baik sebagai pemilih maupun yang ingin dipilih. Ajakan ini disampaikan Vikjen Keuskupan Ruteng Rm. Alfons Segar Pr saat pada arahan pembuka sidang evaluasi dan monitoring tahap III pelaksanaan program pastoral pada Tahun Persekutuan 2018 di Kevikepan Reo, 29 November 2018.

Umat Katolik, kata Vikjen, memilih calon pemimpin berdasarkan hati nurani bukan karena ikut-ikutan apalagi karena tekanan atau karena uang. Lebih baik lagi jika umat katolik mengerti dan mempunyai informasi yang cukup mengenai calon pemimpin yang akan dipilih.

“Perlu memilih calon pemimpin yang memiliki wawasan kebangsaan yang luas, mengenal, menghayati dan menghidupi pancasila secara nyata, menerima, melesarikan dan mengembangkan kebhinekaan yang ada dinegeri kita ini, berlaku adil dan toleran pada semua kalangan atau golongan yang ada dimasyarakat. Memegang teguh konstitusi dan perundang-undangan serta menjalankan secara konsisten dan berkorban untuk kepentingan masyarakat. Calon seperti inilah yang seharusnya dipilih oleh umat katolik dalam pemilu 2019 ini,” urai Rm Alfons mengutip Nota Pastoral KWI.

Vikjen Keuskupan Ruteng itu berharap para pastor menjalankan tugas untuk memberi pencerahan kepada umat. Sebagai gembala, mereka diharapkan hadir untuk memberikan pencerahan dan membimbing umat agar tidak mudah terpecah-pecah karena perbedaan pilihan politik. Para pastor juga menguatkan kaum awam yang ingin maju dalam kontestasi politik agar tetap berpegang tegung pada prinsip-prinsip kristiani dan tetap menjaga agar gereja tidak dipolitisasi.

“Hirarki tidak boleh berpolitik praktis, tetapi diharapkan dapat memberikan siraman rohani berkuatan iman pada umatnya yang ingin mengabdikan hidupnya untuk nusa dan bangsa. Dukungan itu dilakukan dengan memberikan perhatian lewat pastoral khusus, sehingga mereka tetap berakar pada iman kristiani, memancarkakan wajah kristus dan mewujudkan nilai-nilai pada sila dalam meraih kekuasaan,” kata Vikjen Rm Alfons.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*