Fr Albertus Dino OFM December 4, 2018

Paroki St. Fransiskus Assisi Tentang telah mempunyai taman bermain yang ramah anak, yang diresmikan pada Kamis, (29/11/2018). Hadir dalam acara ini, Minister Provinsi OFM Indonesia, Pater Mikhael Peruhe OFM, para Donatur, Marc dan Aprile, Pater Gusti Naba SVD sebagai perwakilan Kedutaan Swiss untuk Indonesia, para guru dan pembina PAUD, SD, SMP, dan SMA di wilayah Paroki Tentang dan juga pemerintah serta tokoh masyarakat.

Awalnya kehadiran taman bermain ini berkat kebaikan Marc dan Aprile yang memiliki inisiatif dan kepedulian pada anak-anak masyarakat miskin. Marc berasal dari Swiss dan Aprile dari Slandia Baru tetapi sudah lama menetap di Bali. Kedua orang ini ingin membuat sesuatu bagi anak-anak masyarakat ekonomi lemah di tempat karya para Fransiskan lalu mereka bertemu dengan pater Mikhael Peruhe OFM, Minister Provinsi OFM Indonesia dan menyampaikan keinginan mereka.

“Marc dan saya memulai proyek ini ketika kami pertama kali bertemu dengan pater Mikhael di jakarta untuk mendiskusikan kemungkinan menemukan komunitas Fransiskan di Indonesia. Kami mempunyai ide untuk membangun taman bermain bagi anak-anak di sana. Kami kemudian diperkenalkan dengan komunitas Fransiskan di Tentang,” ungkap Aprile dalam sambutan peresmian taman bermain anak di Aula Paroki Fransiskus Assisi Tentang.

“Kami sangat bangga melihat penyelsaian proyek ini. Strukurnya created dan menyenangkan bagi anak-anak. Kami pikir strukutur juga aman dan berharap mereka akan membawakan kesenangan selama bertahun-tahun di Tentang. Ajarilah mereka berjalan, memanjat, menuncur, berayun dan bermain dengan aman. Dan terima kasih kepada anak-anak di Tentang. Kamulah alasan kami datang kesini. Kami sangat berharap kalian bisa membaca buku-buku di perpustakaan ramah anak dan kamu akan bersenang-senang bermain di taman bermain yang indah ini,” ungkapnya lagi.

Sementara itu Pater Mikhael OFM, dalam sambutannya, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kurikulum pemerintah yang menuntut anak cerdas secara intelektual tetapi kurang memberi perhatian pada kreativitas mereka dalam bermain.

“Untuk pendidikan di Manggarai membutuhkan playground karena dalam kurikulum pemerintah selalu ingin membuat anak-anak itu cerdas secara intelektual karena itu kita memberikan mereka dengan berbagai macam mata pelajaran tetapi kita mematikan kreativitas mereka melalui bermain. Anak-anak ketika mematikan kemampuannya untuk bermain, kedepannya anak-anak tidak akan menjadi mandiri,” tegasnya.

Dengan demikian, kata Pelayan Provinsi OFM Indonesia ini, taman bermain anak sebenarnya mengasa kemampuan anak-anak untuk potensi-potensi yang ada dalam dirinya, yang dianugerahkan Tuhan, mesti dimaksimalkan. Karena itu, sarana ini menjadi tempat yang tepat.

Lebih lanjut, mantan Vikaris Provinsi OFM Indonesia ini menguraikan persoalan anak-anak yang kurang berminat lagi membaca buku. Sekarang, katanya, buku-buku mulai ditinggalkan anak-anak generasi ini karena semua informasi, misalnya Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sudah ada dalam HP dan barang ini bisa dibawa ke mana-mana.

“Kenapa literasi akan tetap didorong dengan kehadiran perpustakaan supaya bapa-ibu guru dan tokoh masyarakat, meti mendorong anak-anak kita untuk belajar membaca. Agak lain sekali, Indonesia ini termasuk satu bangsa yang begitu cepat terpengaruh oleh teknologi informatika, kemajuan zaman ini. Lalu meningalkan segala sesuatu yang sebenarnya itu juga menjadi kekuatan,” katanya.

Setelah itu, pelayan Provinsi OFM Indonesia ini menceritakan pengalamannya ketika belajar di Australia. Pengalaman saya di Australia, katanya, ketika kita pergi dengan kendaraan umum, semua ngobrol tetapi kemudian sibuk dengan membaca buku. Ada HP tetapi tidak digunakan untuk membaca. Mereka mebaca buku. Dan anak-anak dilatih kalau kemana pun menyempatkan waktu untuk membaca.

“Saya beberapa kali berjalan dengan keluarga di sana, anak itu dihantar ke tempat dimana ada buku dan membiarkan anak memilih buku yang dia suka, meskipun dia belum bisa membaca. Dan sampai di rumah, waktu sebelum tidur malam, ibunya membaca buku pilihan anaknya dan anak itu mendengarnya. Dan setelah selesai akan dicari buku baru lagi. Dan ketika saya mengunjungi rumah keluarag itu, anak itu menceritakan buku yang dibelinya. Dengan demikian saya harap kita semua, para guru dari sekolah mana pun mulai dari TK sampai SMA, tokoh-tokoh masyarakat, pemerintah dan gereja bersama-sama membantu untuk memajukan pendidikan di tempat ini,” ungkapnya lagi.

Dalam nada yang sama, Pater Gusti SVD, dalam sambutannya, mengungkapkan harapannya bagi ana-anak agar bisa menggunakan taman bermain itu dengan baik.

“Harapanya dengan adanya taman membaca dan taman bermain bagi anak-anak kita maka anak-anak kita dilatih sejak dini untuk membaca. Melatih kreativitas mereka dengan bermain. Bermain seperti ini mungkin sederhana untuk kita, tetapi untuk anak-anak, itu sangat luar biasa, karena mereka bisa menggunakan otak mereka untuk memanfaatkan barang ini sesuai apa yang mereka pikirkan,” tegasnya.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*