Ernus Mami November 29, 2018

Keuskupan Ruteng melalui Komisi Justice Peace Integration and Creation (JPIC) bekerja sama dengan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Provinsi Nusa Tenggara Timur, mengadakan sosialisasi Pola Migrasi dan Bahaya Perdagangan Manusia di Aula Efata ruteng rabu, 28 November 2018. Kegiatan ini bertujuan membangkitkan kesadaran masyarakat supaya ikut berpartisipasi dalam pencegahan dan penanganan serta pendampingan korban perdagangan manusia.

Hadir dalam kegiatan ini Asisten II kabupaten Manggarai, Bapak Ketut Suastika, Kepala BP3TKI provinsi NTT, Bapak Siwa, Kepala Dinas PMKUT Kabupaten Manggarai bapak Isfridus Buntanus, Hakim Pengadilan Negeri Ruteng, Ibu Consilia L. Palang ama, Ketua JPIC Keuskupan Ruteng Rm. Martin Djenarut, Pr serta dari lembaga-lembaga pemerintahan yang terkait, para pastor paroki diwilayah kantong migran di kabupaten manggarai, para lurah se kecamatan langke rembong, para kepala desa, para ketua komisi di puspas keuskupan ruteng dan para pimpinan lembaga pendidikan setingkat sma sekota ruteng.

Ketua panitia Rm. Marten Djenarut, Pr dalam sambutannya mengatakan kemiskinan dan kebutuhan akan uang menjadikan masyarakat NTT sebagai objek perdagangan manusia.

“Kemiskinan dan kebutuhan akan uang menjadi kondisi yang sangat berpeluang untuk terjadinya transaksi perdagangan manusia, selain itu banyak masyarakat yang merasa terjebak didalam modus perdagangan manusia yang menggunakan rayuan dan tipu muslihat,” kata Rm Marten Jenarut Pr.

Lebih lanjut Ketua komisi KKPMP Keuskupan Ruteng itu mengajak peserta agar sama sama mencari solusi yang tepat sebagai bentuk upaya pencegahan pola migrasi yang salah dan mencegah terjadinya perdaganan manusia.

Sementara itu, dalam sambutannya, Kepala BP3TKI Provinsi NTT Bapak Siwa menjelaskan masalah perdagangan manusia merupakan hidangan keseharian masyarakat NTT

“Masalah perdagangan manusia di NTT sering sekali terjadi dan ini sudah memjadi hidangan untuk masyarakat NTT. Dari semua kasus yang terjadi di NTT, ada tiga kondisi yang terjadi, yaitu penyampaian informasi yang belum merata di NTT, kedua masalah dokumen, dan masalah Ketiga adalah calo TKI. Saya berharap melalui kegiatan ini kita semua bekerja sama untuk memberikan informasi yang benar kepada masyarakat bahwa sesungguhnya ada tata cara yang benar untuk bermigrasi,” urai Siwa.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*