Komsos Ruteng November 13, 2018

Pendahuluan

  1. “Kamu harus memberi mereka makan!” (Luk. 9:13). Bertolak dari perintah Yesus ini, kami murid-muriNya di jaman now ini, berkumpul di paroki Sta. Maria Fatima Wangkung Boleng sejak 07 November sampai 09 November 2018 dalam rangka merayakan Hari Pangan Sedunia (HPS) Tahun 2018 Tingkat Keuskupan Ruteng dengan tema “KBG sebagai Komunitas Berbagi”. Perayaan ini melibatkan utusan paroki-paroki, wakil pemerintah, lembaga-lembaga pemberdayaan masyarakat, tokoh adat dan umat paroki Sta. Maria Fatima Wangkung Boleng. Dalam  momentum penuh rahmat ini, kami merefleksikan bersama pesan-pesan biblis dan tradisi Gereja tentang berbagi, belajar bersama praktik baik dari berbagai kelompok  tentang tata kelola pemberdayaan yang efektif dan solidaritas melalui pameran dan kunjungan lapangan tentang pengembangan tanaman holtikultura pendukung gizi keluarga dengan sistem pertanian selaras alam. Kami juga makan dan minum bersama, berdialog dan bercanda bersama, berdoa dan merayakan ekaristi bersama untuk mewujudkan persekutuan umat beriman yang bersaudara dan berbagi.

 

Konteks

  1. Kami bersyukur atas anugerah Bumi Nuca Lale ini yang indah dan subur yang membentang dari wae mokel di timur sampai selat sape di barat. Kekayaan alam dan budaya ini hendaknya menjadi sumber kesejahteraan dan kebahagiaan bagi semua penghuninya. Karena itu, sangatlah ironis bila ada orang yang dililit oleh kemiskinan apalagi menjerit karena kelaparan di wilayah yang subur ini. Situasi ini mewajibkan kami untuk bekerja lebih keras dalam mengolah bumi Manggarai raya ini dalam semangat persekutuan dan solidaritas.
  2. Sejak lama pola pertanian yang dilakukan di daerah ini adalah pola kimiawi. Pola demikian memang sepintas menguntungkan secara ekonomis tetapi sesungguhnya merugikan dalam jangka waktu yang panjang. Pola ini bahkan merusak kesuburan tanah, keberlanjutan ekologi dan kesehatan manusia. Kondisi ini menuntut perubahan pola pertanian yang mengandaikan perubahan pola pikir dan perilaku menuju budaya pertanian organik.
  3. Kemajuan pariwisata yang pesat di Labuan Bajo dan wilayah Kesukupan Ruteng pada umumnya menuntut sebuah model pariwisata yang tidak dikuasai hanya oleh kepentingan kapitalis tetapi yang sungguh mensejahterakan masyarakat lokal, selaras dengan budaya setempat dan menjamin integritas ciptaan. Itulah yang diharapkan dan digariskan oleh sinode III Keuskupan Ruteng tentang pariwisata yang kontekstual, kultural, integral dan ekologis.
  4. Dalam tahun persekutuan 2018 ini, Keuskupan Ruteng memusatkan program pastoralnya dalam bidang penguatan dan pengembangan Komunitas Basis Gerjawi (KBG) yang hendaknya semakin berkembang menjadi persekutuan umat beriman yang sehati dan sejiwa (Kis.4:32). Pesekutuan ini berciri holistik, yakni meliputi dimensi rohani dan jasmani, personal, sosial, dan ekologis.
  5. Gerakan Hari Pangan Sedunia (HPS) 2018 tingkat Keuskupan Ruteng di paroki Sta. Maria Fatima Wangkung Boleng menjadi momentum strategis untuk menimba kembali semangat kasih akan Tuhan dan sesama melalui penghayatan semangat berbagi pangan dalam KBG. Bumi dan pangan adalah anugerah Tuhan bagi semua manusia. Itulah sebabnya gerakan HPS mendorong solidaritas dan semangat berbagi agar semua orang hidup berkecukupan.

 

Inspirasi Biblis Teologis

  1. Rasul Paulus melihat Jemaat sebagai satu kesatuan organis Karena itu, bila satu anggota miskin, semua yang lain juga menderita dan tergerak untuk membantu. Sebaliknya bila  anggota-anggota hidup berkecukupan maka semua bersukacita (bdk. 1 Kor 12:12-28).
  2. KBG merupakan inti dari Gereja. Gereja terwujud dalam kehidupan KBG. Karena itu, persekutuan jemaat yang bersaudara dan bersolider hendaknya terwujud dalam kehidupan KBG (bdk. Kis 2:42).
  3. KBG bukanlah hanya persekutuan doa, tetapi sungguh sebuah persekutuan iman. Iman mencakupi segala aspek kehidupan manusia. Dalam iman orang berjumpa dengan Allah sekaligus terlibat dalam pembangunan dunia. Iman meliputi dimensi mistik yang terungkap dalam hidup doa dan dimensi politik dalam perjuangan sehari-hari untuk menjadi “garam dan terang dunia”. KBG dipanggil untuk mewujudkan kasih Allah di tengah-tengah dunia. Maka kegiatan-kegiatan KBG menyentuh semua aspek kehidupan dan terbuka untuk membangun dunia yang lebih sejahtera dan berkeadilan. Iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak. 2:26)
  4. Kisah Para Rasul menampilkan dinamika kehidupan jemaat Gereja perdana yang berciri holistik. Mereka selalu berkumpul untuk mendengarkan sabda Allah, memecah-mecahkan roti dan saling berbagi satu sama lain. Model kehidupan inilah yang menjadi rujukan dan inspirasi bagi kehidupan KBG.
  5. Menerima dan memberi merupakan hakikat diri manusia sebagai gambar dan rupa Allah. Manusia adalah ciptaan, hadiah pemberian Allah. Dia sekaligus dipanggil untuk memberi dan berbagi (bdk. Kej. 1-2). Hal ini berpangkal pada dinamika Ilahi dalam pribadi-pribadi Allah Tritunggal yang saling menerima dan memberi dengan sempurna. Demikian pula KBG sebagai persekutuan umat beriman yang bertolak dari persekutuan Trinitaris hendaknya dijiwai oleh semangat dasar menerima dan memberi.
  6. Sasaran berbagi yang utama dan mendasar adalah orang-orang miskin, sakit dan menderita. Merekalah yang paling membutuhkan bantuan. Mereka pulalah yang tak dapat membalas bantuan kita dan karena itu memberikan ciri tanpa pamrih dari bantuan itu (bdk. Luk. 14:13).
  7. Kitab Suci berisikan narasi-narasi tentang Allah yang memberi roti kepada orang-orang lapar (Mzm. 146:7b). Dialah yang “menjadi tampat pengungsian bagi orang lemah, perlindungan tehadap perlindungan angin ribut dan naungan dari panas terik” (Yes. 25:4). Yesus datang untuk mewujudkan janji Allah yang ingin membebaskan orang miskin dan tertawan (Luk.4:13-20), bahkan Dia menyatakan Dirinya dalam diri orang miskin: “apa yang engkau lakukan untuk salah seorang saudaraku yang paling hina ini, engkau telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40).
  8. Dalam tradisi Gereja sejak zaman para rasul, melayani kaum miskin (diakonia) merupakan salah satu tugas utama Gereja (bdk. Kis. 32-35). Ibadat tidaklah terpisahkan dari pelayanan terhadap sesama yang miskin dan menderita. Munurut pujangga Gereja Yohanes Chrysostomus “Sakramen di altar tidak bisa dipisahkan dari sakramen persaudaraan”. “Orang tidak bisa berdoa kepada Allah dengan membelakangi orang miskin” (Jon Sobrino).

 

Arah dan Komitmen

  1. Bertolak dari inspirasi Biblis dan Tradisi Gereja di atas, kami berkomitmen untuk menolong dan mendampingi orang miskin dan menderita demi mendukung mereka menjadi subyek yang aktif bukannya obyek bantuan yang pasif. Bantuan terarah kepada pemberdayaan dan kemandirian orang-orang yang membutuhkannya. Mahatma Gandhi berkata “jika engkau memberiku nasi, aku akan makan hari ini. Jika engkau bisa mengajarkanku menumbuhkan padi, akau akan makan setiap hari”.
  2. Gerakan berbagi pangan berarti bersama-sama secara aktif dan kreatif mengupayakan tersedianya pangan bagi semua orang secara berkecukupan dan berkelanjutan. HPS bukanlah sekedar perayaan tetapi sebuah gerakan berlanjut dan melibatkan semua orang di KBG, paroki dan Keuskupan Ruteng, serta anak-anak, remaja, dan kaum muda dalam usaha berbagi pangan.
  3. Gerakan berbagai pangan mesti berciri ekologis, artinya disertai dengan semangat dan komitmen untuk merawat bumi, mengolah tanah secara organik dan berkelanjutan. Oleh sebab itu, gerakan ini mendorong sikap kritis terhadap praktek pertanian kimiawi dan membangkitkan pertobatan ekologis di kalangan umat KBG.
  4. Dalam HPS tahun 2018 ini, kami berkomitmen untuk menjadikan KBG sebagai komunitas yang berbagi pangan. Hal itu diwujudkan antara lain, melalui program dan kegiatan pangan, seperti:
  • Membangun lumbung pangan KBG yang terutama diisi pada masa panen dan dibagi-bagikan kepada umat KBG yang kekurangan dan kelompok lain yang tidak mampu, seperti panti asuhan dan panti difabel.
  • Menggalakkan pembuatan pupuk organik, pengembangan lahan produktif dan pengolahannya yang selaras alam dalam lingkungan KBG.
  • Membangun sentra pertanian organik dengan pendamping yang handal dan cukup, sehingga menjadi lahan belajar bagi KBG-KBG dan paroki.
  • Menggiatkan kebun gizi keluarga dalam lingkungan KBG.
  • Mengembangkan tanaman-tanaman pangan lokal dan bergizi, seperti kacang-kacangan, kelor, sorgum, dan jagung.
  • Mengadakan pemasaran hasil-hasil pertanian organik secara terintegral, antara lain dengan mendukung pembentukan dan pengembangan asosiasi petani organik.
  • Mengadakan gerakan konservasi lahan dalam lingkungan KBG.
  • Membangun kesadaran kritis umat KBG terhadap dampak negatif pariwisata sekaligus mengisi peluang positifnya, antara lain dengan mengembangkan pertanian hortikultura dan buah-buahan organik.
  1. Pangan juga berkaitan erat dengan peternakan dan perikanan, yang berfungsi ganda baik sebagai sumber pangan maupun sumber pupuk tanaman. Karena itu, kami berkomitmen untuk:
  • Menggalakkan peternakan ayam, babi, kerbau, sapi, dan budi daya ikan lele, gurame, mujair, dll.
  • Menggiatkan pembuatan pupuk organik dengan bahan baku cirit ternak dan tanaman.
  1. Ketersediaan pangan berkaitan juga dengan kecukupan modal. Karena itu, kami berkomitmen untuk:
  • Mendorong arisan KBG yang memungkinkan terwujudnya solidaritas dan saling berbagi di antara warga KBG.
  • Menggalakkan koperasi jalur paroki atau mendorong umat untuk terlibat dalam koperasi yang sehat, transparan dan dapat dipercaya.
  1. Komitmen berbagi pangan mengandaikan kesadaran umat. Karena itu, kami ingin menggalakkan katekese, rekoleksi, sharing Kitab Suci, dan ibadat yang bertemakan ibadat dan berbagi
  2. Akhirnya diperlukan juga struktur yang mendukung gerakan berbagi pangan. Atas dasar itu:
  • Dalam tingkat paroki/stasi, kami ingin membentuk dan menguatkan seksi karitatif DPP/stasi atau kelompok solidaritas yang mengorganisir seluruh karya pelayanan karitatif paroki/stasi
  • Dalam tingkat KBG, kami membentuk seksi diakonia yang bertugas untuk mengelola seluruh kegiatan karitatif dan berbagi pangan di tingkat KBG.
  • Dalam tingkat paroki, stasi dan KBG program-program HPS hendaknya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari agenda program atau kegiatan pastoral tahunan.
  • Membangun jejaring dengan pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat dalam pengembangan pertanian organik peternakan dan perikanan serta dalam seluruh karya karitatif berbagi pangan.

 

Penutup

Kami bersyukur atas persaudaraan dan sukacita dalam persekutuan perayaan HPS 2018 ini, terlebih lagi semangat dan komitmen untuk berbagi pangan. Kami bertekad untuk menindaklanjuti hasil pertemuan ini di paroki, stasi, KBG dan lembaga-lembaga gerejawi secara optimal, kontekstual dan integral. Marilah kita menyerahkan diri kita ke dalam pangkuan Bunda Gereja, Santa Perawan Maria dan mempersatukan diri dalam magnifikatnya: “Jiwaku memuliakan Tuhan sebab…Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar” (Luk. 1:53). DalamA tuntunan kasih keibuannya kita ingin mengulurkan tangan dan berbagi pangan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Wangkung Boleng, 09 November 2018

dalam Persaudaraan HPS Keuskupan Ruteng 2018

a.n.Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng

 

 

Rm. Alfons Segar

Vikjen KR

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*