Fr Albertus Dino OFM September 30, 2018

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan akan keberagaman, bagi keragaman agama, suku, ras dan budaya. Keberagaman itu menjadi perhatian Keuskupan Ruteng dengan menetapkan tahun 2018 sebagai tahun persekutuan.

Karena itu, dalam kegiatan camping rohani OMK Se-Kevikepan Labuan Bajo, Keuskupan Ruteng mengadakan seminar yang bertema “Hidup Dalam Keberagama” yang dilaksanakan di Aula Youth Center, Paroki Roh Kudus Labuan Bajo, pada Jumat (28/9).

Seminar ini menghadirkan dua pembicara utama, yaitu Ketua MUI Manggarai Barat Zakar Abdul Jangku, yang merefleksikan keberagaman dari perspektif Islam dan Rm Max Regus Pr yang merefleksikan keberagaman itu dalam konteks keberagaman Indonesia.

Romo Max Regus menyatakan, keberagaman itu merupakan sesuatu yang kita miliki tetapi kemudian bagaimana keberagaman itu menjadi kekuatan untuk membangun perdamaian. Karena itu, Imam Keuskupan Ruteng ini menegaskan dua hal yang mengganggu keberagaman kita, yaitu kebebasan dan kewajiban.

“Kebebasan itu sesuatu yang dimiliki semua orang. Dan kebebasan di era Reformasi sudah menjadi sangat radikal sehingga orang dengan mudah merendahkan yang lain dan akhirnya kebebasan sulit dikendalikan,” ungkap Imam Diosesan ruteng ini.

Lebih lanjut Romo Max mengungkapkan, yang membatasi kebebasan kita adalah kewajiban yang diatur oleh sebuah institusi yang disebut Negara dan kebebasan setiap orang selalu dibatasi oleh kebebasan orang lain.
Namun orang mengabaikan kedua hal tersebut sehingga keberagaman kita menjadi ancaman, karena orang tidak bisa menjaga keseimbangan antara kebebasan dan kewajiban.

Dengan demikian, Romo Max mengatakan, kegiatan perjumpaan OMK seperti ini menjadi kesempatan berharga untuk meningkatkan penghargaan terhadap keberagaman. Sebab dengan keberagaman itu, katanya lagi, kita bisa membangun masa depan dengan baik.

“Orang Muda Katolik dipanggil untuk menjadi agen dari pembangunan perdamaian, karena keberagaman merupakan bangunan awal untuk memiliki kekuatan agar meningkatkan kemajuan di masa depan. Oleh karena itu ini menjadi titik penting untuk merumuskan aksi sosial bagi pembangunan Manggarai Barat kedepan. Keberagaman itu milik kita tetapi keberagaman itu harus dioleh untuk menjadi hal-hal yang positif,” ungkapnya lagi.

Sedangkan Zakar abdul jangku menguraikan perspektif Islam atas keberagaman. Aktivis FKUB Manggarai Barat itu menjelaskan keberagaman sebagai Rahmat yang diberikan Tuhan kepada kita.

Bagi Islam, kata dia, perbedaan adalah rahmat dari Allah dan wajah orang lain adalah wajah Allah yang hadir dan menyapa kita. Oleh karena itu, kita harus menjaga hubungan kita dengan Allah, sesama dan alam ciptaan.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*