Komsos Ruteng August 9, 2018

Oleh: Tini Pasrin
(OMK Paroki Ponggeok)

 

Dalam perjalanan truk kayu dengan musik keras sebagai ciri melaju tanpa gegabah diantara aspal setengah batu dari Ponggeok menuju Ruteng. Percaya atau tidak, pulang adalah tempatmu berlabuh pada beda. Dari semula, yang beda ditempatkan dalam satu wadah agar cahaya-cahaya sukacita juga muncul dalam wujud lain.

Di tengah perjalanan sontak truk kayu kami dikejutkan dengan nyanyian merdu dari truk lain. Truk pengangkut calon imam haji yang hendak ke tanah suci. Meriah. Benar-benar meriah.

Spanduk berukuran besar “CALON IMAM HAJI SATARMESE” tertempel pada truk paling depan. Truk-truk berjumlah hampir mencapai belasan itu dipenuhi wajah-wajah lelah tapi bersemangat. Nampak raut wajah penuh haru mama-mama tua berhijab lengkap sambil mengunyah sirih pinang mereka.

Sehingga terjadilah truk kayu bertulis “OMK PONGGEOK” berjalan beriringan dengan truk “CALON IMAM HAJI”.

Suara nikmat lagu bahasa Arab berlomba dengan musik dari truk kayu OMK Ponggeok memecah keheningan Gololusang. Menggigit gerimis yang terharu. Itu manis.

Tiba di depan Gereja Katedral Baru sekitar pukul 17.00 WITA kami disambut hangat oleh panitia. Tampak salah satu adik kelas saya di SMAK Setia Bakti dulu sibuk mendata profil OMK dari paroki lain.

Ani Angkut, mantan ketua OSIS SMAK Setia Bakti yang kini telah menamatkan pendidikan jenjang SMAnya menghambur dalam pelukan saya ketika bertatap muka.
Pada nametagnya tertera keterangan “panitia”.

Saya lalu melebarkan pandang menyadari ada banyak pasang mata dan tangan yang melayani kami dalam usia remaja.
Dengan tegas mereka berkumpul, menyebar lalu mengarahkan dan memimpin peserta camping dengan jumlah sekitar 540 orang itu.

Yah, kita harus membuang pesimis. Anak muda berkarya sekarang. Menjadi tugas bersama bahwa kita harus mengapresiasi hal tersebut dan menaruh anak muda pada wadah tepat. Menjadi dadar yang siap dihidangkan bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Kami diiring menuju Aula Paroki St. Cewonikit untuk kemudian bertatap muka, bertukar sapa dan membagi tawa dengan teman OMK sekevikepan Ruteng.

Jumlah ratusan manusia ditangani dengan sigap melalui koordinator panitia. Mereka bahu membahu dengan cara yang baik juga menarik menunjukkan kematangan persiapan mereka. Camping ini diperuntukkan, di dapat dan diperoleh dari jiwa-jiwa muda. Penuh gairah.

Gairah itu juga muncul dalam hal sederhana. Menyanyikan Mars OMK kevikepan Ruteng 2018. Lagu karya salah satu anak OMK sendiri.

Lagu ini membakar kami habis-habisan dengan semangat api cinta pada lirik juga geraknya.
Lalu gairah itu muncul dalam sukacita bernyanyi, menari dan lebih daripada itu kami mengalami gairah yang sama ketika mendengarkan.

Mendengarkan pemateri dari berbagai lintas agama dengan caranya masing-masing bukan hanya mampu membuka wawasan baru tentang kebhinekaan tetapi lebih jernih melihat dan merasa. Setiap pemateri membuat kita mampu menegaskan pada diri sendiri,
“kita tidak takut beda! Yang beda jangan disama-samakan, yang sama jangan dibeda-bedakan!”.

Berbeda itu kondisi alamiah. Sudah terjadi sejak awal dan harus diterima dengan hati bersyukur.

Camping rohani dengan agenda temu kaum muda lintas agama menurut hemat penulis telah berhasil secara baik dan benar.

Kamu tidak bisa membayangkan betapa nikmatnya bahwa jika kamu Islam berbaur melebur bersama pribadi Khatolik, Kristen juga agama lain; di saat bersamaan kamu bukan malah menjadi Khatolik, Kristen, Hindu ataupun Budha tetapi kamu menjadi 100% Islam, 100% Indonesia.

Dalam ungkapan pengantarnya, salah seorang ibu pendeta dari GMIT mengatakan dengan lantang bahwa mengenai kepercayaan kita tidak boleh “berada diantara” atau suam-suam kuku. Jika kamu Hindu, kamu adalah Hindu.

“Jika kamu bukan saudaraku dalam iman, maka kamu saudaraku setanah air.”

Malam kesenian menjadi cinta tersembunyi yang tiba-tiba terkuak sejati di atas panggung yang sama. Gairah-gairah dari mata mengabarkan suka atau mulut mengundang penghargaan juga tangan penari seperti Daud menari, menggetarkan jiwa-jiwa pada malam terang bulan itu.

Pentas kebhinekaan digencarkan teman-teman remaja GMIT, diikuti sorak sorai nyanyian kecintaan terhadap Nuca Lale, diikuti suara merdu dari remaja Islam. Pantomim yang berhasil menyajikan tontonan spektakuler, drama mengundang baper hingga puisi beraroma muda mengguncang malam kesenian dengan api gairah.

Api gairah untuk tangis terharu, api gairah bangga, api gairah melepaskan tawa hingga gairah apresiasi terhadap setiap pribadi baru yang dijumpai. “Orang asing adalah orang yang paling ku kenal.”
Menyatu.

Doa penuh dibisikkan di Gereja protestan mengantar jiwa-jiwa muda khatolik meresapi firman Tuhan yang disampaikan ibu pendeta. Berlanjut dengan sambutan ayat-ayat suci al-quran di depan pintu masjid, doa panjang dan penuh agar kebhinekaan ini terawat dengan baik. Berlanjut dan tak usai.
Doa penuh dibawah langit yang sama.

Seketika itu saya ingin menyemangati Tuhan, “Tuhan, semangaatt!! Beda yang Kau ciptakan baik dan benar adanya.”

Kehadiran Bapa Uskup beserta rombongan menutup seluruh rangkaian acara camping OMK pada 5 Agustus 2018. Bertempat di gereja Cewonikit Bapa Uskup dalam khotbahnya menegaskan agar urusan internal kaum muda lebih diurus dengan tegas. Pertanda bahwa Bapa Uskup berdarah Bajawa itu mengharapkan anak-anak muda terus hidup dalam karya.

Pada persekutuan yang mampu mengembangkan toleransi sekaligus memupuk iman secara lebih.

Selfie bareng anak muda dengan Bapa uskup beserta rombongan hemat penulis adalah gagasan kreatif yang meluluhlantahkan kesan formalitas pada diri gembala-gembal itu.

Tertawa bersama anak muda di muka kamera adalah tanda bahwa berbaur dan ‘menjadi’ anak muda adalah pintu masuk ke dunianya,
Membereskan sesuatu disana dan keluar melalui pintu nilai-nilai kekhatolikan.

Akhirnya, bagiku aku benar-benar berlibur. Pulang mengecap betapa sedapnya beda. Mengecap aroma hangat yang menyeruak sempurna pada dingin kota Ruteng.
Bau tanah menampung jejak pandang menyadari beda itu beda masih tercium mesra hingga kepulangan itu sendiri.

Hingga kita tiba di persimpangan jalan.
Aku kesana, dia kesini dan mereka kesitu. Kita sama-sama pergi.

Mewartakan lebih jauh. Kita pulang. Jiwa kita kenyang.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*