Komsos Ruteng June 19, 2018

Dalam beberapa puluh tahun terakhir Komunitas Basis Gerejawi telah berkembang pesat dalam kehidupan umat Allah Keuskupan Ruteng. Bila awal mula yang terbentuk hanyalah kelompok-kelompok doa devosional, kini terdapat KBG yang secara struktural dan sistematis menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan paroki. Secara organisasi, KBG sekarang ini telah berkembang menjadi unit teritorial terkecil dari paroki yang diberi wewenang untuk turut mengurus administrasi dan keuangan (misalnya: Iuran Gereja Mandiri).  Kelompok umat yang dahulu terbatas rutin mendaraskan doa rosario pada bulan Mei dan Oktober kini bertumbuh menjadi komunitas umat beriman, di mana terwujud seluruh aspek kehidupan Gereja dalam bidang pengudusan, pewartaan dan pelayanan sosial.

SERI DOKUMEN PASTORAL (Dokpas) kali ini merupakan bagian dari Pedoman KBG yang diterbitkan oleh Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng pada 2018. Pedoman disusun agar kehidupan dan kegiatan KBG berjalan lancar dan mantap selaras dengan apa yang digariskan oleh Gereja.

APA ITU KBG?

Istilah KBG berasal dari tiga kata kunci. “KOMUNITAS” berarti ikatan persaudaraan antar anggota yang saling meneguhkan dan berbelarasa. Jadi KBG bukanlah sekedar kumpulan orang-orang, dan tidak hanya sebuah organisasi, tetapi sebuah persekutuan yang saling “sehati-sejiwa” (Kis 4:32).  Adapun kata “BASIS” menunjuk pada hal yang inti dan mendasar, yang membentuk sesuatu. KBG adalah inti (nukleus) Gereja (CELAM, Medellin, 1968). KBG bukan hal pinggiran dalam hidup Gereja, juga bukan sesuatu yang ditambahkan dari luar, tetapi merupakan inti kehidupan Gereja itu sendiri. Gereja terwujud dalam kehidupan KBG. Sedangkan “GEREJAWI” menegaskan ciri iman dari komunitas itu. KGB adalah sebuah persekutuan umat beriman Katolik, yang karena itu berada dalam Gereja dan terikat dengan kepemimpinan hierarki Gereja.

Komunitas KBG idealnya terdiri dari 20 KK. Dalam jumlah yang kecil demikian, hubungan antar anggota dapat terjalin dengan lebih intim dan mendalam. Demikian pula kegiatan-kegiatan dapat diorganisir dengan mudah. Selain itu anggota-anggota dapat berpartisipasi secara aktif dan kreatif dalam sebuah kelompok kecil. Tentu jumlah tersebut dapat bertambah sesuai dengan situasi masing-masing tempat. Tetapi sebaiknya keanggotaan KBG tidak melebihi 30 KK.

Yang dikelompokkan dalam satu KBG adalah keluarga-keluarga yang tinggal dalam lokasi yang berdekatan. Yang mempersatukan adalah ikatan teritorial, yaitu kedekatan tempat tinggal dan kesatuan geografis tertentu. Tentu ada pula situasi sosial yang mendorong ikatan persaudaraan KBG, antara lain, kondisi sosial yang mirip dan bahkan di banyak tempat, terdapat pula kesamaan adat dan budaya tertentu. Tetapi yang paling utama adalah kesatuan iman, yakni persekutuan murid-murid Kristus yang menghayati kehidupannya dalam persaudaraan. Namun hendaknya persekutuan KBG tidak hanya berorientasi ke dalam tetapi juga ke luar, merangkul yang lain (inklusif) serta berkomitmen untuk memperjuangkan keadilan sosial dan kesamaan martabat manusia dalam masyarakat (EN, 58).

KBG adalah komunitas umat mini yang ada dalam wilayah kewenangan paroki. Karena itu KBG bukan kelompok mandiri di luar Paroki, tetapi berada dalam kesatuan dengan paroki demi pertumbuhan dan perkembangan Gereja. Secara struktural parokial, KGB adalah sebuah unit terkecil dalam wilayah Paroki. Dalam jangkauan geografis yang lebih luas, paroki umumnya dibagi dalam stasi-stasi atau wilayah-wilayah, sedangkan dalam jangkauan geografis yang lebih sempit, paroki terdiri dari KBG-KBG. Jadi paroki meliputi dari stasi-stasi (wilayah), dan di dalam stasi (wilayah) ini terdapat KBG-KBG.

 

NAMA KBG

KBG adalah sebuah komunitas iman. Karena itu nama KBG mesti berasal dari khasanah kekayaan iman Gereja. Dalam Kitab Suci dan Sejarah Gereja,  tersedia beragam sumber yang kaya untuk menjadi rujukan identitas KBG. Nama KBG dapat diambil dari tokoh-tokoh Kitab Suci dalam Perjanjian Lama, misalnya KBG Musa, KBG Abraham, KBG Ester. Dari Perjanjian Baru misalnya KBG Petrus, KBG Paulus, KBG Mateus, KBG Maria Magdalena, KBG Filemon. Dari santo-santa, misalnya: KBG Agustinus, KBG Martinus, KBG Monika, KBG Bunda Teresa, KBG John Paul II, KBG Padre Pio, dll. Pilihan nama mesti disepakati bersama oleh anggota-anggota KBG. Hal ini hendaknya bertolak dari kerinduan dan komitmen anggota-anggota KBG untuk meneladani semangat yang heroik, nilai, sikap dan perilaku hidup yang terpuji dari tokoh Kitab Suci atau tokoh sejarah Gereja tersebut.

 

SEJARAH KOMUNITAS BASIS GEREJAWI

Dalam sejarah kehidupan Gereja, gagasan persekutuan (communio) dalam komunitas basis sudah dihayati sejak awal. Contoh yang paling sering disebut adalah komunitas Gereja Perdana (Kis 2:42). Kisah  Para Rasul mengisahkan bahwa murid-murid Yesus setelah peristiwa Paskah  selalu berkumpul untuk mendengarkan Sabda Allah, memecahkan roti dan saling berbagi satu sama lain. Bahkan komunitas Yesus yang dibentuknya selama Dia berkarya di Israel, dapat dipandang sebagai komunitas basis. Yesus memulai dan memberi bentuk gerakan Kerajaan Allah dengan memanggil dan membentuk kelompok 12 Rasul (Mrk 6:7). Dalam persekutuan dengan Yesus, kelompok mini ini  menghayati kehidupan paguyuban yang diresapi oleh kasih Allah dan persekutuan ini diutus-Nya untuk mewartakan kebaikanNya di tengah dunia.

Kemudian terjadilah perkembangan kehidupan Gereja yang pesat. Secara geografis, Gereja menyebar ke seluruh penjuru bumi. Secara kuantitatif, jumlah anggota Gereja meningkat sangat cepat dari jumlah ratusan dan ribuan orang menjadi ratusan ribu bahkan jutaan orang. Akibatnya ciri basis dari komunitas Gereja perlahan-lahan meredup. Hal ini semakin menguat setelah dikeluarkannya Edik Milano tahun 325 oleh Kaisar Konstantin yang  “menegarakan” Gereja. Gereja kini menjadi mondial dan institusional, dan perlahan-lahan kehilangan ciri lokal dan dinamis. Sejalan dengan peran klerus yang semakin kuat, Gereja pun menjadi semakin hierarkis. Sebagai akibatnya, pusat kehidupan umat bukan lagi komunitas-komunitas basis tetapi paroki yang dipimpin oleh seorang imam.

Baru pada abad XX, Komunitas Basis Gerejawi kembali berkembang yang dimulai dari Amerika Latin sejak dasawarsa 1950-an. Berkat semangat pembaharuan Konsili Vatikan II, gerakan ini kemudian juga berkembang pesat di belahan dunia lainnya khususnya di Asia dan Afrika. Bila di Amerika Latin, komunnitas basis sangatlah erat berkaitan dengan gerakan pembebasan dari kemiskinan dan ketidakadilan sosial, maka di Asia dan Afrika, gerakan ini juga berkaitan dengan dialog lintas kultural dan lintas agama.

Di Flores Indonesia, kelompok basis berawal dari kelompok doa rosario (kontas gabungan) yang dibentuk di mana-mana sekitar tahun 1950-an.  Mulanya kelompok ini lebih menjadi kelompok devosional, di mana belasan orang berkumpul untuk berdoa rosario bersama khususnya di bulan Mei dan Oktober. Tetapi kelompok ini kemudian juga berkembang menjadi tempat katese. Dalam kelompok ini doa-doa pokok Gereja dan Katekismus diajarkan kepada umat. Selain itu kelompok ini menjadi tempat latihan lagu-lagu rohani.

Pada dekade 1960-an kelompok doa rosario memiliki struktur yang semakin baku dan berkembang menjadi kelompok teritorial dengan pemimpin kelompok yang jelas. Guru agama (katekis) umumnya dipercayakan sebagai pemimpin kelompok demikian. Sebagai wakil (“orangnya”) pastor, mereka bertugas memimpin, mengajarkan katekismus, dan mempersiapkan komuni pertama dan pengakuan.

Sejak tahun 1970-an kelompok doa rosario ini mengalami perkembangan yang pesat. Diinspirasi dan digerakan oleh semangat Konsili Vatikan II, kelompok ini berkembang menjadi wadah kehidupan gereja dalam pelbagai aspek. Selain dalam bidang doa dan ibadat (liturgi), kelompok ini juga aktif dalam kegiatan syering Kitab Suci (kerygma) dan aksi sosial karitatif (diakonia). Peran organisasional dan administratif kelompok basis juga semakin kuat dengan menjadi ujung tombak paroki dalam pendataan umat, persiapan calon penerima sakramen-sakramen dan pengumpulan dana. Secara khusus hal terakhir inilah yang mendorong peran KBG di keuskupan Ruteng  terutama sejak KBG dilibatkan dalam gerakan Gereja Mandiri.

 

DASAR ILAHI KOMUNITAS BASIS GEREJAWI

Berbeda dengan kelompok sosial lainnya, KBG memiliki ciri yang khusus yakni persekutuan iman. Karena itu yang menjadi dasar keberadaan KBG adalah Allah sendiri. Persekutuan Gereja adalah partisipasi pada persekutuan kasih ilahi Allah Tritunggal (LG 4; UR 2; 1Yoh. 1:3). Sebagai perwujudan nyata dan inti dari Gereja, KBG merupakan persekutuan yang mengambil bagian dalam persekutuan ilahi Allah Tritunggal Mahakudus. Jadi yang mendasari terbentuknya KBG adalah Allah sendiri. Yang menjadi semangat, penggerak dan model kehidupan umat KBG adalah persekutuan kasih mesra Allah Tritunggal Mahakudus.

Dalam sejarah iman, kita menemukan bahwa, sejak awal Allah telah memanggil manusia bukan sendiri-sendiri tanpa hubungan dengan yang lain tetapi sebagai satu umat (LG 9). Inilah alasan Allah memilih dan menjadikan bangsa Israel sebagai umat-Nya dan mengikat perjanjian dengan mereka. Hal ini merupakan persiapan untuk umat Perjanjian Baru (Israel baru) yang dibentuk oleh Kristus. Dalam Perjanjian Baru, komunitas para rasul yang dibentuk oleh Yesus dapat dipandang sebagai KBG (bdk. Mrk. 6:7). Dalam persekutuan dengan Yesus, kelompok mini ini menghayati kehidupan persekutuan yang diresapi oleh kasih Allah dan diutus untuk mewartakan Kerajaan Allah di tengah dunia. Persekutuan ini kemudian dimeterai dengan darah-Nya di salib dan kebangkitan-Nya. Dengan itu Dia mempersatukan dan menebus semua orang baik Yahudi maupun bukan Yahudi menjadi satu umat Allah (bdk. 1 Ptr 2:9-10).

Model dan rujukan KBG ialah komunitas Gereja Perdana (Kis. 2:42). Dalam persekutuan ini, setelah peristiwa Paskah, murid-murid Yesus selalu berkumpul untuk mendengarkan Sabda Allah, memecahkan roti, dan saling berbagi satu sama lain. Para rasul merasakan dan merayakan kehadiran Yesus yang bangkit dalam kebersamaan dan persaudaraan. Melalui roti ekaristi dan Sabda Allah mereka mengalami kehadiran Yesus. Pengalaman cinta Allah ini  mereka wujudkan dalam perhatian dan belarasa satu sama lain, khususnya dengan yang miskin dan menderita.

Sebagai komunitas yang dibangun dasar persekutuan kasih Allah, maka KBG adalah sebuah persekutuan iman. KBG janganlah diartikan secara sempit sebagai organisasi/lembaga, tetapi persekutuan umat beriman yang dinamis dan kreatif. Artinya, KBG tidak hadir sebagai “tukang pajak” Gereja (pemungut cukai) seperti hanya mengurus administrasi umat dan pengumpulan Iuran Gereja Mandiri. Pengumpulan iuran penting, tetapi tugas utama KBG adalah mewujudkan persekutuan iman yang hidup sehingga terwujudlah sabda Yesus: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat. 18:20).

 

TUJUAN KOMUNITAS BASIS GEREJAWI

Kehadiran KBG dalam kehidupan Gereja memiliki beberapa tujuan. Pertama, umat semakin dapat mengalami kebersamaan dan persaudaraan sebagai murid-murid Kristus dengan lebih mendalam. Kedua, umat semakin merasakan dan mengalami kehadiran Allah dalam komunitas. Ketiga, umat  semakin terdorong untuk bergerak “keluar” memberi kesaksian sosial profetis di tengah masyarakat (menjadi “garam dan ragi” dunia) dan perutusan ekologis demi perawatan dan kelestarian alam (“keutuhan ciptaan”). Selain itu dari sisi paroki, melalui KBG pelayanan terhadap umat berjalan lebih terarah, lancar dan menjawabi kebutuhan nyata.

 

CIRI-CIRI DASAR KOMUNITAS BASIS GEREJAWI

Komunitas Basis Gerejawi memiliki enam ciri dasar, yakni: Pertama, pengalaman persekutuan (communio) yang sungguh-sungguh mendalam. Dalam komunitas ini, orang merasakan kebersamaan dan persaudaraan sebagai murid-murid Kristus, serta terlibat secara aktif dalam komunitas. Orang tidak hanya berkumpul tetapi merasakan ikatan persaudaraan. Orang tidak hanya menjadi anggota secara administratif, tetapi sungguh merasa bagian yang tak terpisahkan dari komunitas itu, ibarat anggota-anggota dari tubuh yang satu dan sama (bdk. 1 Kor 12).

Kedua, komunitas ini lahir dari Sabda Allah. Injil-lah yang menjadi sumber kehidupan komunitas ini. Injil didengar, disyeringkan dan diyakini dalam komunitas dan menjadi terang yang menuntun refleksi atas situasi konkret komunitas. Jadi, Sabda Allah di satu pihak direfleksikan dari pengalaman konkret, di lain pihak menjadi kekuatan yang menggerakkan dan menjiwai kehidupan harian.

Ketiga, komunitas basis adalah tanda dan sarana pembebasan Kristus (bdk. LG 1). Ia bukanlah kelompok kecil yang tertutup pada dirinya sendiri, melainkan terbuka terhadap masyarakat dan dunia. Dalam komunitas ini, persoalan sosial direfleksikan dan diatasi melalui gerakan bersama. Komunitas menjadi agen perubahan sosial. Ia adalah penggerak dari peradaban kasih dan permulaan dari masyarakat baru berdasarkan cinta kasih (RM 51). Jadi, komunitas basis berciri misioner. Ciri inklusif komunitas basis tampak pula dalam keterbukaan dan dialog dengan umat beragama lain untuk membentuk masyarakat yang manusiawi.

Keempat, dalam komunitas ini terjadi perayaan kehidupan dan iman. Komunitas basis tidak hanya ditentukan oleh keterikatan sosial, tetapi juga perayaan liturgis. Dalam sabda dan liturgi dirayakan anugerah pembebasan Allah melalui Yesus Kristus. Bukan hanya liturgi yang dirayakan menurut petunjuk resmi/ yang telah ditetapkan, tetapi yang selaras dengan kehidupan konkret. Perjumpaan dengan Allah melalui doa, ibadat, perayaan sakramen menjadi nafas kehidupan KBG.

Kelima, komunitas basis adalah cara baru menjadi Gereja. Komunitas basis bukan sekadar alat atau hasil evangelisasi, tetapi sebuah cara baru menjadi persekutuan murid-murid Kristus dalam dunia dewasa ini. Konferensi Uskup Asia tahun 1990 menyebut komunitas basis sebagai cara baru menggereja (a new way of being Church). Dalam KBG terungkap dan terwujud secara nyata Gereja sebagai persekutuan kasih murid-murid Kristus.

Keenam, komunitas basis adalah persekutuan umat Allah dalam Gereja. Ia bukan kelompok tersendiri di luar struktur Gereja Katolik. Ia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan Gereja parokial yang menghayati iman dalam kerendahan hati dan ketaatan kepada otoritas hierarki Gereja (EN, 58). Karena itu secara struktural KBG berada dalam wilayah paroki. Demikian pula Pastor Paroki memiliki wewenang dan tanggungjawab atas KBG.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*