Komsos Ruteng June 4, 2018
Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng Mgr. Silvester San mereciki para pengurus dewan pastoral dan dewan keuangan Pra-Paroki Longgo pada upacara pelantikan, Minggu (03/06/2018)

“Kami menyiapkan makan malam untuk seluruh umat yang hadir.”

Kalimat Rm. Marsel Ocarm, membuat saya dan para tamu di pastoran Pra-Paroki Longgo, Kevikepan Labuan Bajo, tersentak kaget. Ia menanggapi Pastor Paroki Roh Kudus Labuan Bajo Rm. Richard Manggu, Pr, yang bertanya tentang bagaimana umat yang lebih dari seribu jumlahnya, diundang makan malam bersama usai Misa, Minggu (03/06/2018). Menjamu umat sebanyak itu tentu bukan hal yang mudah. Apalagi bagi wilayah Longgo-Dalong yang masih berstatus pra-paroki yang sedang membangun baik dalam hal fisik, maupun struktur dan tata kelola pastoral.

Hari itu memang istimewa bagi pra-paroki hasil pemekaran dari Paroki Roh Kudus Labuan Bajo itu. Bukan hanya karena pesta Tubuh dan Darah Kristus, yaitu Minggu kedua setelah Pentakosta. Mereka dikunjungi oleh  Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng Mgr. Silvester San dan Vikjen Keuskupan Ruteng untuk menerimakan Sakramen Krisma dan melantik dewan pastoral serta dewan keuangan. Hadir juga pada acara sore hingga malam ini: Vikep Labuan Bajo Rm. Robert Pelita, Pr., Pastor Paroki Roh Kudus Labuan Bajo Rm. Richard Manggu, Pr., dan Romo Sony Selatan, Pr.

Sebanyak 518 umat Penerima sakramen Krisma pada acara itu. Sementara dewan pastoral berjumlah sekitar seratus orang. Jika ditambah dengan panitia dan umat yang lain, dewasa dan anak-anak, jumlah yang hadir bisa mencapai seribu orang.

Meski berbatasan dengan Paroki Roh Kudus Labuan Bajo yang merupakan kota pariwisata dan pusat Kabupaten Manggarai Barat, Pra-Paroki Longgo terdiri atas banyak kampung yang jauh, tersebar mulai dari Nggorang di perbatasan Paroki Roh Kudus Labuan Bajo, hingga kampung Nobo di lereng pegunungan Mbeliling.

“Beda dengan Labuan Bajo. Di sini, tidak ada warung yang dekat,” lanjut Romo Marsel menjawab Pastor Paroki Roh Kudus yang masih penasaran dan memberi alternatif untuk memesan makanan di warung terdekat.

Gagasan untuk menyediakan makan malam bagi seluruh umat bisa dimaklumi. Untuk perayaan yang istimewa ini, pantauan Komsos Ruteng, mereka menunggu sejak jam dua siang di Gereja untuk mengikuti acara yang dimulai pukul empat sore.  Sementara, rangkaian acara selesai hingga malam hari.

“Masing-masing umat mengumpulkan bahan. Panitia hanya memasak dan menyajikan makanan itu bagi mereka,” lanjut Rm. Marsel berusaha meyakinkan para tamu.

Penjelasan bisa diterima sekaligus menimbulkan decak kagum, sekurang-kurangnya bagi saya yang ketika itu memotret rangkaian acara dari berbagai sisi. Saya mengamati mulai dari dalam Gereja, halaman, hingga dapur pastoran. Saya amati dan memotret barisan depan; terlihat para misdinar dan petugas lainnya melayani dengan rapi dan teratur. Sikap badan mereka sangat terlatih. Kelompok umat Stasi Nggorang tampil dengan seragam lengkap dan suara yang merdu membawakan lagu-lagu yang sesuai dengan panduan liturgi, khususnya lagu-lagu ordinarium.

Saya pun mengamati bagaimana panitia menyiapkan makan malam dan membagikannya kepada seluruh umat. Setelah dimasak, makanan dibungkus rapi, seperti nasi bungkus yang biasa dipesan di warung-warung. Kemudian para ibu membagikan makan malam itu di beberapa tempat. Pembagian berlangsung aman dan lancar. Semua mendapat makanan tanpa adegan berebutan. Mereka semua makan sambil menikmati lagu dan tarian yang dibawakan anak-anak Serikat Anak Remaja dan Misioner (SEKAMI) di panggung pada halaman Gereja.

Pukul sembilan malam, acara selesai. Satu yang membekas kuat dalam ingatan saya, yaitu kata-kata Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng Mgr. Silvester San pada acara makan malam bersama itu.

“De iure belum. Tetapi de facto, kamu ini sudah mengurus sendiri semuanya, seperti paroki. Kalau semua sudah siap, yahh.. tinggal memroses S-K-nya,” kata Uskup San. (Erick Ratu/Komsos Ruteng)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*